20 Tahun Kepergian Kiyan: Petinju Mark Prince Luncurkan Klub Juara untuk Anak Muda
- Mark Prince meluncurkan The Champions' Club tepat 20 tahun setelah putranya, Kiyan, tewas dibunuh.
- Program ini berisi cetak biru atau panduan bagi anak muda untuk kembali merasa seperti juara.
- Inisiatif ini menjadi bukti bahwa kesedihan bisa diubah menjadi energi positif untuk perubahan sosial.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
SBH.co.id – Duka yang mendalam seringkali melahirkan kekuatan yang luar biasa. Itulah yang terjadi pada Mark Prince, mantan petinju profesional asal Inggris yang namanya mungkin sudah tidak asing di telinga penggemar tinju dunia. Dua puluh tahun setelah tragedi paling kelam dalam hidupnya—pembunuhan putra semata wayangnya, Kiyan Prince, pada tahun 2006—Mark Prince tidak larut dalam kesedihan abadi. Sebaliknya, ia memilih untuk melawan kebrutalan jalanan dengan senjata paling ampuh yang ia miliki: harapan.
Pekan ini, untuk memperingati dua dekade kepergian Kiyan, Mark Prince secara resmi meluncurkan The Champions’ Club. Bukan sekadar klub biasa, ini adalah sebuah gerakan yang dirancang khusus untuk “menginspirasi anak-anak muda di Inggris” dan memberikan mereka cetak biru tentang “bagaimana anak muda bisa kembali merasa seperti pemenang.” Sebuah misi mulia yang lahir dari abu tragedi.
Lebih dari Sekadar Program Sosial
The Champions’ Club bukanlah program sosial biasa yang hanya menawarkan kegiatan pengisi waktu luang. Mark Prince merancangnya sebagai sebuah ekosistem pemberdayaan. Dalam wawancara eksklusif dengan Sky Sports, ia menjelaskan bahwa klub ini adalah jawaban atas pertanyaan paling mendasar yang sering ia dengar dari anak-anak muda di lingkungan rawan kriminal: “Apa gunanya aku berusaha?”
Program ini hadir dengan pendekatan holistik. Mulai dari pembinaan mental, pengembangan keterampilan hidup (life skills), hingga pendampingan karier. Mark ingin anak-anak muda itu tidak hanya dijauhkan dari pisau dan kekerasan, tetapi juga diberikan peta jalan menuju kesuksesan yang nyata. “Mereka butuh sesuatu untuk diperjuangkan,” ujar Mark. “Bukan hanya sekadar diberitahu untuk berhenti membawa pisau. Itu seperti memberitahu orang yang tenggelam untuk berhenti bernapas. Kita harus memberi mereka pelampung dan mengajari mereka berenang.”
Warisan Kiyan yang Tak Tergantikan
Kiyan Prince adalah seorang remaja berbakat yang bercita-cita menjadi pesepakbola profesional. Ia adalah anggota akademi Queens Park Rangers. Sayangnya, nyawanya direnggut secara tragis saat ia berusaha melerai perkelahian di depan sekolahnya. Ia baru berusia 15 tahun. Pembunuhnya, seorang remaja seusianya, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Sejak saat itu, Mark Prince mendedikasikan hidupnya untuk memastikan tidak ada lagi orang tua yang harus merasakan kehilangan seperti yang ia rasakan. Yayasan Kiyan Price Foundation yang ia dirikan telah menjadi ujung tombak kampanye anti-pembunuhan dan anti kekerasan senjata tajam di Inggris. Kini, dengan The Champions’ Club, warisan Kiyan terus hidup dan berkembang.
“Ini bukan tentang saya. Ini tentang Kiyan dan jutaan anak muda lainnya yang potensinya terbuang sia-sia,” tegas Mark. “Dua puluh tahun lalu, saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan mengubah kesedihan menjadi kekuatan. The Champions’ Club adalah bukti dari janji itu.”
Cetak Biru untuk Menjadi Pemenang Sejati
Apa yang membuat The Champions’ Club berbeda? Mark Prince menyebutnya sebagai sebuah “cetak biru” atau blueprint. Ini adalah panduan langkah demi langkah yang mengajarkan anak muda untuk membangun kembali kepercayaan diri, ketahanan mental, dan tujuan hidup.
Program ini tidak hanya berfokus pada teori. Para anggota akan dibimbing oleh mentor-mentor yang pernah berada di titik terendah dalam hidup mereka—mantan narapidana, mantan pecandu, atau atlet yang gagal—dan berhasil bangkit. Mereka adalah contoh nyata bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
“Menjadi juara bukan berarti Anda harus memenangkan setiap pertarungan,” jelas Mark. “Menjadi juara adalah ketika Anda jatuh tujuh kali, tetapi bangkit delapan kali. Itulah yang ingin kami tanamkan. Perasaan menjadi pemenang itu harus berasal dari dalam diri, bukan dari trofi atau uang.”
Dampak Nyata di Tengah Krisis Pemuda Inggris
Peluncuran The Champions’ Club datang di saat yang kritis. Inggris, khususnya London, masih bergulat dengan epidemi kekerasan senjata tajam di kalangan remaja. Data kepolisian menunjukkan bahwa ribuan anak muda setiap tahunnya terlibat dalam insiden pembunuhan dan penganiayaan berat.
Mark Prince percaya bahwa pendekatan preventif melalui pemberdayaan mental adalah satu-satunya solusi jangka panjang. “Polisi bisa menangkap penjahat, tetapi polisi tidak bisa mengubah hati seseorang. Hanya harapan dan cinta yang bisa melakukan itu,” ujarnya.
Dengan The Champions’ Club, Mark Prince tidak hanya memperingati 20 tahun kepergian putranya. Ia sedang membangun sebuah benteng perlindungan bagi generasi muda Inggris. Sebuah benteng yang dibangun dari air mata dan tekad baja seorang ayah.
Pertanyaan untuk Pembaca SBH Nation: Apakah menurut kalian program seperti The Champions’ Club bisa efektif jika diterapkan di Indonesia untuk mengatasi kenakalan remaja dan kekerasan di kalangan pelajar? Ataukah kita butuh pendekatan yang berbeda? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


