Siapa Dalang di Balik Kejatuhan West Ham? Semua Berawal dari David Sullivan
- West Ham terdegradasi dari Premier League setelah musim 2025/2026 yang buruk, dengan manajemen klub yang disalahkan.
- Pemegang saham utama David Sullivan dianggap sebagai penyebab utama karena kebijakan transfer yang buruk dan kurangnya visi sejak 2022.
- Nasib West Ham mengingatkan pada Leicester City yang juga runtuh setelah sukses, menunjukkan bahaya manajemen yang stagnan.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
SBH.co.id – Kabar duka datang dari London Timur. West Ham United, klub yang sempat menjadi kuda hitam di Premier League dan rutin bermain di Eropa, resmi terdegradasi. Bukan lagi sekadar rumor atau kekhawatiran, ini adalah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh para pendukung The Hammers.
Namun, jika kita bertanya siapa yang paling pantas disalahkan, jawabannya tidak akan sederhana seperti menunjuk pelatih atau pemain. Menurut analisis dari jurnalis The Guardian, Jacob Steinberg, akar dari bencana ini sudah terlihat sejak tahun 2022. Dan semua petunjuk itu mengarah pada satu nama: David Sullivan, pemegang saham utama klub.
Tanda Bahaya yang Diabaikan Sejak 2022
Pada tahun 2022, West Ham sebenarnya sudah naik ke “kereta degradasi”. Istilah ini mungkin terdengar kasar, tapi faktanya klub sudah kehilangan arah. Meskipun ada tiga musim beruntun bermain di kompetisi Eropa, tidak ada rasa optimisme yang kuat di internal klub. Ada seorang figur internal yang khawatir, tapi suaranya tidak cukup didengar.
Sullivan, yang merupakan pemilik mayoritas, dianggap gagal membaca situasi. Ketika klub lain seperti Brighton atau Brentford terus berinovasi dan membangun skuad dengan data dan perencanaan matang, West Ham justru jalan di tempat. Kebijakan transfer yang buruk, tidak adanya peremajaan skuad, dan kegagalan mempertahankan pemain kunci menjadi bom waktu yang siap meledak.
Perbandingan dengan Leicester City: Pelajaran yang Sama
Nasib West Ham ini mengingatkan kita pada kejatuhan Leicester City. The Foxes adalah contoh sempurna bagaimana klub yang sukses besar bisa runtuh karena manajemen yang buruk. Leicester pernah menjuarai Premier League dan bermain di Liga Champions, namun kemudian terdegradasi pada musim 2022/2023.
Apa persamaannya? Keduanya adalah klub yang bergantung pada pemilik yang tidak memiliki visi jangka panjang. Di Leicester, kegagalan mengganti pemain bintang yang hengkang dan keputusan transfer yang aneh membuat mereka jatuh. Di West Ham, hal yang sama terjadi. Sullivan lebih fokus pada keuntungan finansial jangka pendek daripada membangun fondasi yang kokoh.
Kebijakan Transfer yang Membingungkan
Salah satu bukti paling jelas dari kegagalan Sullivan adalah kebijakan transfer West Ham dalam beberapa tahun terakhir. Alih-alih merekrut pemain muda berbakat dengan potensi jual tinggi, mereka malah mendatangkan pemain yang sudah uzur atau yang tidak cocok dengan sistem permainan.
Contohnya adalah perekrutan pemain seperti Danny Ings yang sudah tidak prima, atau Kalvin Phillips yang dipinjam dari Manchester City dengan performa yang buruk. Sementara itu, pemain muda seperti Flynn Downes tidak diberi kesempatan yang cukup. Ini adalah pola yang sama dengan yang dilakukan Leicester saat merekrut pemain seperti Jannik Vestergaard.
Ketika pelatih datang dan pergi, masalahnya tetap sama: tidak ada strategi transfer yang jelas. David Moyes, Julen Lopetegui, dan pelatih lainnya hanya menjadi korban dari sistem yang rusak. Mereka tidak pernah diberi sumber daya yang cukup untuk bersaing.
Dampak Finansial dan Masa Depan yang Suram
Degradasi bukan hanya soal gengsi, tetapi juga bencana finansial. West Ham akan kehilangan pendapatan siaran TV yang sangat besar. Stadion London Stadium yang megah mungkin akan terasa lebih sepi. Pemain bintang seperti Jarrod Bowen dan Lucas Paquetá hampir pasti akan hengkang.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana klub akan bangkit. Jika Sullivan tetap bertahan, sulit membayangkan ada perubahan. Liga Championship adalah liga yang sangat kompetitif. Banyak klub besar yang pernah terdegradasi dan tidak pernah kembali ke Premier League.
Kesimpulan SBH Nation: Saatnya Perubahan
SBH Nation berpendapat bahwa kejatuhan West Ham adalah tragedi yang sebenarnya bisa dihindari. David Sullivan telah menjadi penghalang terbesar bagi kemajuan klub. Para pendukung West Ham sudah sangat sabar, tapi sekarang waktunya untuk bertindak.
Klub membutuhkan pemilik baru yang memiliki visi, yang mau berinvestasi di akademi, yang memahami pentingnya analisis data, dan yang tidak hanya melihat klub sebagai mesin uang. Jika tidak, West Ham akan menjadi cerita sedih lainnya di sepak bola Inggris.
Pertanyaan untuk Sobat SBH: Apakah menurut kalian David Sullivan harus menjual West Ham? Atau masih ada harapan bagi The Hammers untuk bangkit? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


