Dua Momen Kritis yang Bikin Arteta Nyaris Putus Asa di Perburuan Gelar | SBH.co.id | SBH Nation
internasional
calendar_today 22 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 22 Mei 2026

Dua Momen Kritis yang Bikin Arteta Nyaris Putus Asa di Perburuan Gelar

bolt SBH Quick Take
  • Arteta mengaku ragu Arsenal bisa juara saat jeda internasional dan sebelum Natal.
  • Keraguan itu muncul karena kehilangan pemain kunci dan performa inkonsisten.
  • Mentalitas skuad dan strategi rotasi menjadi kunci kebangkitan The Gunners.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Musim ini menjadi salah satu perjalanan paling emosional bagi para pendukung Arsenal. Di puncak persaingan Liga Inggris yang sengit, Mikel Arteta baru saja mengungkapkan dua momen yang hampir membuatnya kehilangan kepercayaan diri akan kemampuan timnya meraih gelar juara. Pengakuan jujur ini bukan sekadar gosip ruang ganti, melainkan cerminan tekanan luar biasa yang dihadapi pelatih muda asal Spanyol itu.

Dalam wawancara eksklusif yang dikutip dari sumber terpercaya, Arteta menyebutkan bahwa keraguan terbesarnya muncul pada dua periode krusial: saat jeda internasional dan menjelang perayaan Natal. Dua fase ini, menurutnya, menjadi ujian mental yang nyata bagi seluruh skuad. Mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik layar markas The Gunners.

Jeda Internasional: Saat Skuad Terpecah dan Kekhawatiran Muncul

Momen pertama yang membuat Arteta waswas adalah ketika sebagian besar pemainnya terbang membela tim nasional masing-masing. Bagi seorang manajer, jeda internasional seringkali menjadi mimpi buruk. Bukan hanya karena risiko cedera, tetapi juga karena hilangnya ritme permainan tim yang sudah dibangun selama berminggu-minggu.

Arteta secara blak-blakan mengakui bahwa saat itu ia merasa kehilangan kendali atas proses latihan. “Kami tidak bisa bekerja sama sebagai satu unit. Banyak pemain pulang dengan kondisi fisik yang berbeda, ada yang lelah setelah perjalanan jauh, ada yang cedera ringan,” ujarnya. Lebih dari itu, tekanan psikologis juga menjadi faktor. Ketika para pemain kembali ke London Colney, Arteta harus meracik ulang taktik dan memastikan semua pemain kembali pada frekuensi yang sama.

Ini bukan soal meragukan kualitas pemain seperti Bukayo Saka atau Martin Odegaard, melainkan soal ketidakpastian. “Kami tidak tahu siapa yang akan kembali fit seratus persen. Itu membuat perencanaan pertandingan menjadi sangat sulit,” tambahnya. Momen ini menjadi titik balik di mana Arteta mulai mempertanyakan, “Apakah kami cukup kuat secara mental untuk melewati ini semua?”

Sebelum Natal: Tradisi Buruk dan Tekanan Jadwal Padat

Momen kedua yang tak kalah mencekam adalah periode menjelang Natal. Dalam sejarah Premier League, Arsenal seringkali kehilangan poin di bulan Desember. Tradisi buruk ini seolah menjadi hantu yang terus menghantui. Arteta menyadari betul bahwa jadwal padat di akhir tahun bisa menjadi batu sandungan terbesar.

“Desember adalah bulan di mana segalanya bisa berubah dengan cepat. Anda bisa kehilangan tiga atau empat pertandingan dalam sepekan, dan tiba-tiba jarak poin dengan pesaing melebar,” jelas Arteta. Ia mengingat betul bagaimana timnya harus menghadapi lawan-lawan berat dalam waktu singkat, sementara rotasi pemain tidak selalu berjalan mulus.

Keraguan ini bukan tanpa alasan. Beberapa pemain kunci sempat mengalami penurunan performa akibat kelelahan akumulasi. Arteta harus pintar-pintar mengatur strategi rotasi, sebuah seni yang tidak semua pelatih kuasai. “Kami harus memastikan setiap pemain yang turun ke lapangan dalam kondisi siap tempur, baik secara fisik maupun mental,” tegasnya. Momen inilah yang menguji kedalaman skuad Arsenal dan kemampuan Arteta dalam membaca situasi.

Strategi Rotasi dan Kebangkitan Mentalitas Skuad

Lalu, apa yang membuat Arsenal akhirnya bisa melewati dua momen kritis tersebut? Jawabannya ada pada mentalitas skuad yang mulai terbentuk. Arteta tidak tinggal diam. Ia melakukan pendekatan personal kepada setiap pemain, memastikan mereka tetap fokus meski terpisah jarak saat jeda internasional.

Selain itu, Arteta juga mulai menerapkan rotasi yang lebih cerdas. Ia tidak lagi memaksakan pemain bintang untuk bermain penuh di setiap laga. Pemain seperti Leandro Trossard, Kai Havertz, dan Jorginho diberi peran yang lebih signifikan. “Kami belajar bahwa setiap pemain memiliki momennya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kami bisa saling melengkapi,” ujar Arteta.

Kematangan taktik ini menjadi fondasi kebangkitan Arsenal. Tim tidak lagi bergantung pada satu atau dua pemain saja. Ketika Saka atau Odegaard sedang tidak dalam performa terbaik, pemain lain siap menggantikan. Inilah yang membuat Arteta perlahan-lahan kembali percaya diri. Keraguan yang sempat menghantuinya perlahan sirna digantikan oleh keyakinan bahwa tim ini memang pantas bersaing di puncak.

Dampak pada Perburuan Gelar dan Pelajaran Berharga

Pengakuan Arteta ini memberikan perspektif baru bagi para penggemar. Perburuan gelar juara bukanlah soal momen-momen gemilang semata, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tim bangkit dari keraguan. Arsenal saat ini tidak lagi menjadi tim naif yang mudah goyah. Mereka telah melewati ujian mental yang nyata.

Ke depannya, pelajaran dari dua momen ini akan sangat berharga. Arteta kini lebih siap menghadapi situasi serupa di musim-musim mendatang. Ia tahu kapan harus menekan tombol panic dan kapan harus tenang. “Setiap musim mengajarkan kami sesuatu yang baru. Tahun lalu kami belajar soal konsistensi, tahun ini soal mentalitas,” pungkasnya.

Bagi para pemain, pengalaman ini menjadi batu loncatan. Mereka kini sadar bahwa tekanan adalah bagian dari perjalanan. Dengan skuad yang semakin matang dan manajer yang visioner, Arsenal kini memiliki modal berharga untuk tidak hanya mengejar gelar musim ini, tetapi juga membangun dominasi di masa depan.

Pertanyaan untuk Sobat SBH Nation: Menurut kalian, momen apa lagi yang paling krusial dalam perjalanan Arsenal musim ini selain dua momen yang disebutkan Arteta? Apakah kalian setuju bahwa jeda internasional adalah ancaman terbesar bagi konsistensi tim? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel