Jadwal & Hasil
🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: SEPAK-BOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG ::
Gareth Southgate Resmi Mundur dari Kursi Manajer Timnas Inggris di Tahun 2026 | SBH.co.id
liga inggris
calendar_today 21 Juli 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 21 Jul 2026

Gareth Southgate Resmi Mundur dari Kursi Manajer Timnas Inggris di Tahun 2026

bolt SBH Quick Take
  • Ringkasan berita ini.

Gareth Southgate Resmi Mundur dari Kursi Manajer Timnas Inggris di Tahun 2026

Kabar yang sudah lama menjadi spekulasi akhirnya menjadi kenyataan pada bulan Juli 2026. Gareth Southgate secara resmi mengumumkan keputusannya untuk mengundurkan diri sebagai pelatih kepala tim nasional Inggris. Keputusan ini diambil usai selesainya partisipasi The Three Lions di turnamen musim panas, mengakhiri sebuah era manajerial yang berlangsung hampir delapan tahun, periode terpanjang dan bisa dibilang salah satu yang paling konsisten dalam sejarah modern tim nasional negara tersebut.

Mundurnya Southgate menimbulkan reaksi yang sangat beragam di kalangan publik sepak bola Inggris. Di satu sisi, ia adalah pelatih yang berhasil mengantarkan timnas melaju jauh dalam berbagai kompetisi besar, mencapai semifinal dan final yang jarang sekali mereka rasakan dalam dekade-dekade sebelumnya. Namun di sisi lain, kritik mengenai gaya permainannya yang dinilai terlalu pragmatis, berhati-hati, dan kurang memaksimalkan potensi ofensif para pemain bintang sering kali mewarnai masa jabatannya. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa ia telah mengubah wajah dan kultur timnas Inggris.

Asosiasi Sepak Bola Inggris, FA, kini dihadapkan pada tugas maha berat untuk menemukan pengganti yang sepadan. Manajer baru nantinya harus bisa mengelola ekspektasi publik yang sangat tinggi sekaligus mewarisi sebuah skuad yang dipenuhi oleh pemain-pemain bertalenta emas dunia, yang dianggap sudah matang dan siap untuk membawa pulang piala ke tanah leluhur sepak bola.

Transformasi Kultur dan Menyatukan Negara

Ketika Gareth Southgate pertama kali ditunjuk secara permanen pada tahun 2016 menggantikan Sam Allardyce, kondisi tim nasional Inggris sedang berada dalam titik terendah menyusul kegagalan memalukan di Euro melawan Islandia. Terdapat jurang pemisah yang lebar antara pemain, media, dan pendukung. Pemain merasa terbebani oleh seragam timnas, dan media terkenal sangat kejam dalam mengkritik kegagalan para punggawa skuad Tiga Singa.

Pencapaian terbesar Southgate di luar lapangan adalah kemampuannya menyatukan kembali skuad dan membangun lingkungan yang positif dan mendukung. Ia menghapus faksi-faksi antar klub yang sebelumnya merusak harmoni timnas, sebuah masalah yang dikeluhkan oleh mantan pelatih Sven-Goran Eriksson maupun pemain dari Generasi Emas sebelumnya. Southgate mendorong pemainnya untuk berbicara terbuka tentang isu-isu sosial dan kesehatan mental, membuat mereka lebih manusiawi di mata publik.

Hasilnya langsung terlihat di Piala Dunia 2018 di mana Inggris secara mengejutkan melaju ke semifinal. Publik kembali jatuh cinta dengan tim nasional mereka. Pemain seperti sang kapten Harry Kane memimpin di depan dengan tenang, sementara skuad bermain dengan penuh kebanggaan dan tanpa rasa takut yang biasanya melumpuhkan para pendahulu mereka. Lagu It's Coming Home kembali bergema dengan semangat kebangkitan yang nyata.

Konsistensi di Turnamen Besar dan Kritik Taktikal

Di bawah arahan Gareth Southgate, tim nasional berhasil mencapai final kejuaraan Eropa yang membanggakan, serta performa solid di berbagai Piala Dunia. Ini adalah rekor yang sangat impresif, jauh mengungguli catatan manajer-manajer top sebelumnya. Namun, semakin jauh tim ini melangkah, ekspektasi pun terus meningkat drastis. Berada di semifinal atau final kini tidak lagi dianggap cukup oleh publik; memenangkan trofi adalah harga mati bagi sebuah skuad yang diisi oleh bintang-bintang liga utama Eropa.

Di sinilah kritik tajam kerap bermunculan. Banyak pengamat dan pendukung merasa bahwa formasi dan pendekatan taktis Southgate terlalu berhati-hati saat menghadapi tim-tim papan atas. Ia kerap dikritik karena memainkan terlalu banyak gelandang bertahan dan lambat dalam merespons perubahan taktik lawan (in-game management). Meskipun memiliki sederet talenta ofensif brilian seperti Jude Bellingham, Phil Foden, dan Bukayo Saka, lini serang Inggris terkadang terlihat statis dan kurang kreatif di sepertiga akhir pertahanan musuh.

Meskipun Harry Kane terus memecahkan rekor gol sepanjang masa timnas di bawah asuhannya, perdebatan apakah Southgate adalah sosok yang tepat untuk "mengunci" gelar juara selalu menjadi bahan diskusi hangat. Sang pelatih selalu membela keputusannya dengan menyatakan bahwa turnamen internasional dimenangkan oleh tim yang memiliki struktur pertahanan solid dan sulit ditembus, bukan sekadar gaya bermain terbuka yang berisiko. Namun, kegagalan di laga-laga puncak akhirnya memaksa Southgate menyadari bahwa mungkin tim ini membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk bisa melewati rintangan terakhir.

Mengelola Bintang Muda dan Skuad Bertabur Bintang

Salah satu keunggulan tak terbantahkan dari masa kepelatihan Gareth Southgate adalah kepercayaannya pada pemain muda. Berawal dari pengalamannya sebagai manajer timnas U-21, ia memiliki koneksi dan keberanian untuk mempromosikan talenta muda ke tim senior tanpa ragu. Pemain seperti Bukayo Saka dan Jude Bellingham diberikan kepercayaan penuh di usia belasan tahun untuk tampil di panggung terbesar dunia.

Ia juga menunjukkan keberanian dalam mengambil keputusan-keputusan tidak populer, seperti mencoret nama-nama besar yang sedang menurun performanya dan tetap setia kepada pemain yang berkinerja baik dalam sistemnya, meskipun mereka jarang bermain di level klub. Kesetiaan ini membangun rasa hormat yang mendalam antara manajer dan para pemain. Saat pemain-pemain ini menghadapi pelecehan rasial usai kegagalan di final, Southgate berdiri di garda terdepan melindungi mereka, menegaskan peran figur ayahnya bagi skuad yang relatif muda.

Namun, mengelola susunan skuad di tahun 2026 menjadi semakin rumit. Dengan mencuatnya performa Phil Foden sebagai pemain kunci Manchester City dan kedewasaan permainan Jude Bellingham di panggung Eropa, menemukan keseimbangan untuk memainkan semua pemain bintang tanpa mengorbankan stabilitas pertahanan menjadi dilema tak berkesudahan bagi Southgate. Terlepas dari segala jerih payahnya, mungkin pergantian tongkat estafet kepelatihan adalah solusi yang dibutuhkan agar para pemain ini menemukan bentuk permainan paling eksplosif mereka bersama timnas.

Warisan Gareth Southgate dan Masa Depan The Three Lions

Saat Gareth Southgate meninggalkan posisinya, ia meninggalkan fondasi tim nasional yang jauh lebih kuat dan lebih bersatu dibandingkan saat ia pertama kali mengambil alih jabatan tersebut sepuluh tahun lalu. Pihak FA kini harus berhati-hati dalam mencari suksesor. Calon manajer baru akan memiliki ekspektasi instan untuk meraih gelar, bukan lagi dalam tahap "pembangunan tim" yang pernah dilalui Southgate.

Warisan Southgate di Inggris sangat kompleks. Bagi sebagian orang, ia adalah pahlawan yang mengembalikan kehormatan dan kebanggaan tim nasional. Ia mengubah pandangan negatif terhadap timnas dan menjadikannya tim yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun bagi yang lain, ia mungkin akan dikenang sebagai manajer yang baik, tetapi selalu gagal memaksimalkan potensi generasi pemain paling berbakat yang pernah dimiliki Inggris.

Apapun pandangan orang, dedikasi dan profesionalisme Gareth Southgate selama mengabdi tidak dapat disangkal. Ia mundur dengan kepala tegak, mengetahui bahwa ia telah memberikan segala kemampuannya untuk negaranya, dan memimpin tim melalui salah satu periode paling gemilang dalam sejarah modern mereka. Bagi sang pelatih yang pernah merasakan kepahitan mendalam sebagai pemain karena gagal penalti di Euro 96, perjalanannya sebagai manajer telah memberikan proses penyembuhan tersendiri, sekaligus menempatkan namanya secara permanen di buku sejarah sepak bola Inggris.

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

SBH

SBH Nation Data Center

SEPAK-BOLA # 2 POSISI

KLASEMEN SEMENTARA LIGA 1

21

POINTS ACCUMULATED

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel

Menu Lainnya