Jika Pep Guardiola Pergi, Man City Bisa Bernasib Seperti Man United Pasca-Fergus | SBH.co.id
internasional
calendar_today 20 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 20 Mei 2026

Jika Pep Guardiola Pergi, Man City Bisa Bernasib Seperti Man United Pasca-Ferguson

bolt SBH Quick Take
  • Pep Guardiola dikabarkan akan hengkang dari Manchester City pada akhir musim 2025/26, meninggalkan warisan yang sangat besar.
  • Sejarah Manchester United setelah ditinggal Sir Alex Ferguson menjadi peringatan nyata: transisi pelatih yang salah bisa menghancurkan sebuah era.
  • Manajemen City harus segera menyusun rencana suksesi yang matang, mirip dengan cara mereka membangun infrastruktur klub.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

SBH.co.id — Kabar tentang masa depan Pep Guardiola di Manchester City kembali menghangat. Bukan rahasia lagi, kontrak pelatih asal Spanyol itu akan habis pada akhir musim 2025/26, dan hingga kini belum ada tanda-tanda perpanjangan. Spekulasi kepergiannya pun langsung memicu satu pertanyaan besar: akankah Manchester City bernasib seperti Manchester United yang runtuh setelah ditinggal Sir Alex Ferguson?

Perbandingan ini bukan sekadar gimik media. Kedua klub memiliki kesamaan mencolok: sama-sama mendominasi domestik selama lebih dari satu dekade di bawah satu pelatih legendaris. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kepergian figur sebesar Ferguson atau Guardiola bisa menjadi bencana jika transisi tidak dikelola dengan sempurna.

Warisan yang Berat: Mengapa Pep Guardiola Bukan Sekadar Pelatih Biasa

Sejak tiba di Etihad Stadium pada 2016, Pep Guardiola telah mengubah Manchester City menjadi mesin sepak bola paling efisien di Inggris. Ia tidak hanya membawa trofi—enam gelar Premier League, satu Liga Champions, dan sederet piala domestik—tetapi juga membangun identitas bermain yang khas: penguasaan bola dominan, pressing tinggi, dan fleksibilitas taktis.

Yang membuat Guardiola begitu istimewa adalah kemampuannya untuk terus berevolusi. Dari era full-back yang menjadi playmaker (Joao Cancelo) hingga penggunaan “false nine” dengan Phil Foden atau Julian Alvarez, ia selalu selangkah di depan. Setiap pemain yang datang ke City, dari Ruben Dias hingga Erling Haaland, langsung terintegrasi ke dalam sistemnya.

Warisan Guardiola bukan hanya soal trofi. Ia telah menciptakan kultur kemenangan yang mengakar. Para pemain seperti Kevin De Bruyne, Rodri, dan Bernardo Silva menjadi produk langsung dari filosofinya. Inilah mengapa kepergiannya akan terasa seperti kehilangan fondasi rumah—bukan sekadar kehilangan seorang manajer.

Peringatan dari Old Trafford: Runtuhnya Era Sir Alex Ferguson

Jika ada satu pelajaran paling pahit dalam sejarah Premier League, itu adalah apa yang terjadi pada Manchester United setelah Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013. Ferguson meninggalkan tim juara, tetapi suksesinya berubah menjadi bencana.

David Moyes, yang dipilih langsung oleh Ferguson, tidak mampu mempertahankan standar. Gaya bermain United yang agresif dan cepat berubah menjadi lamban dan ragu-ragu. Moyes dipecat dalam waktu kurang dari satu musim. Setelahnya, Louis van Gaal dan Jose Mourinho datang dengan gaya yang sangat berbeda, menyebabkan ketidakstabilan taktis dan budaya klub yang kacau.

Lebih parah lagi, United kehilangan identitas. Dari tim yang selalu menjadi favorit juara, mereka berubah menjadi tim yang berjuang untuk finis di empat besar. Pembelian pemain mahal seperti Angel Di Maria, Alexis Sanchez, dan Paul Pogba menjadi bukti bahwa tanpa sistem yang jelas, uang saja tidak cukup.

Manchester City saat ini berada di persimpangan yang sama. Jika Guardiola pergi, siapa pun penggantinya akan menghadapi tekanan luar biasa untuk mempertahankan dominasi. Sejarah United menunjukkan bahwa memilih pengganti yang salah bisa membuat sebuah era keemasan berakhir dalam sekejap.

Siapa Pengganti yang Ideal? Antara Kontinuitas dan Inovasi

Pertanyaan krusial bagi manajemen City adalah: apakah mereka mencari pelatih yang akan melanjutkan gaya Guardiola atau yang membawa filosofi baru? Keduanya memiliki risiko.

Opsi Kontinuitas: Nama seperti Mikel Arteta atau Xavi Hernandez sering disebut. Arteta, yang pernah menjadi asisten Guardiola, sudah membuktikan diri di Arsenal dengan gaya yang mirip. Namun, ia mungkin tidak ingin meninggalkan proyek yang sudah ia bangun. Xavi, di sisi lain, memiliki pengalaman di Barcelona tetapi belum terbukti di level Premier League.

Opsi Inovasi: Pelatih seperti Julian Nagelsmann atau Roberto De Zerbi menawarkan pendekatan segar. Nagelsmann dikenal dengan taktik dinamisnya, sementara De Zerbi telah memukau banyak pihak dengan gaya sepak bola berbasis penguasaan bola yang agresif. Namun, keduanya belum memiliki jam terbang di klub sebesar City.

Yang paling diingat dari kasus United adalah bahwa mereka mencoba semua tipe pelatih—dari pragmatis (Mourinho) hingga akademis (van Gaal)—tetapi semuanya gagal. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan transisi tidak hanya soal taktik, tetapi juga kepemimpinan, manajemen ruang ganti, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya klub.

Dampak Finansial dan Reputasi: Taruhannya Sangat Besar

Manchester City bukan hanya klub sepak bola; mereka adalah merek global. Di bawah Guardiola, nilai komersial klub melonjak drastis. Kepergiannya bisa berdampak serius pada pendapatan dari sponsor, penjualan tiket, dan hak siar. Jika City mulai terpuruk di liga, minat sponsor bisa menurun.

Reputasi juga menjadi taruhan. City telah membangun citra sebagai klub dengan manajemen yang stabil dan visi jangka panjang. Jika mereka salah langkah dalam suksesi, semua kerja keras selama satu dekade bisa sia-sia.

Namun, ada satu keuntungan yang dimiliki City dibandingkan United: manajemen yang profesional. City Football Group (CFG) memiliki struktur yang lebih modern dan berbasis data. Mereka sudah terbiasa merotasi pelatih di klub-klub satelit seperti Girona atau New York City FC. Ini bisa menjadi modal penting untuk memastikan transisi yang mulus.

Pelajaran dari Era Modern: Apakah City Bisa Menghindari Jebakan?

Tidak semua klub besar runtuh setelah kehilangan pelatih legendaris. Bayern Munich, misalnya, tetap kompetitif setelah kepergian Jupp Heynckes, meskipun butuh beberapa musim untuk menemukan ritme. Begitu pula Liverpool yang bangkit setelah era Bill Shankly.

Kuncinya terletak pada kesinambungan manajemen. City harus memastikan bahwa direktur olahraga, seperti Txiki Begiristain, tetap berada di klub untuk menjaga konsistensi rekrutmen. Selain itu, pembelian pemain harus tetap mengikuti filosofi yang sudah ada, bukan sekadar membeli nama besar.

Yang tidak boleh dilupakan adalah faktor pemain. City memiliki skuad yang relatif muda dengan pemain seperti Phil Foden, Erling Haaland, dan Rico Lewis yang bisa menjadi tulang punggung tim di masa depan. Jika mereka tetap bertahan, transisi akan lebih mudah.

Pertanyaan untuk Pembaca:

Menurut kamu, siapa pengganti yang paling tepat untuk Pep Guardiola di Manchester City? Apakah City akan bernasib sama seperti Manchester United pasca-Ferguson, atau mereka bisa menghindari jebakan tersebut? Tulis pendapatmu di kolom komentar!

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel