Klasemen Akhir Serie A 2025-26: Inter Juara, Drama Degradasi hingga Tiket Eropa
- Inter Milan memastikan Scudetto ke-21 dengan koleksi 89 poin, unggul 7 poin dari Juventus di peringkat kedua.
- AC Milan, Napoli, dan Atalanta melengkapi zona Liga Champions, sementara AS Roma dan Lazio harus puas di Liga Europa.
- Tiga tim degradasi: Venezia, Cagliari, dan Lecce harus angkat koper dari Serie A musim depan.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Musim panas di Italia baru saja usai dengan satu kesimpulan mutlak: Inter Milan kembali berjaya di panggung Serie A. Ya, Nerazzurri sukses mengunci gelar Scudetto ke-21 mereka setelah performa konsisten sepanjang musim 2025-26. Tapi, di balik euforia kampiun, ada drama, air mata, dan kejutan yang mewarnai perjalanan 38 pekan kompetisi.
Dari perburuan tiket Liga Champions yang sengit hingga perang hidup mati di dasar klasemen, Serie A musim ini membuktikan diri sebagai salah satu liga paling kompetitif di Eropa. Yuk, kita bedah tuntas bagaimana peta kekuatan Italia setelah finis musim ini.
Inter Milan: Dominasi Tanpa Tanding
Simone Inzaghi kembali menuliskan namanya dalam sejarah klub. Dengan koleksi 89 poin, Inter finis tujuh poin di atas Juventus di posisi kedua. Konsistensi adalah kuncinya. Sepanjang musim, Inter hanya menelan tiga kekalahan dan menunjukkan pertahanan yang sangat solid.
Lautaro Martinez kembali menjadi mesin gol dengan koleksi 24 gol di Serie A. Duetnya dengan Marcus Thuram di lini depan benar-benar sulit dihentikan. Ditambah lagi, lini tengah yang dikomandoi Nicolo Barella dan Hakan Calhanoglu memberikan keseimbangan sempurna antara kreativitas dan kegigihan.
Yang bikin Inter istimewa musim ini adalah kemampuan mereka memenangkan laga-laga besar. Kemenangan head-to-head melawan Juventus dan AC Milan di beberapa momen krusial jadi pembeda. Mereka tidak hanya juara, tapi juara yang meyakinkan. Para penggemar di San Siro pasti sudah mempersiapkan pesta Scudetto yang meriah.
Zona Liga Champions: Juventus Terancam, Milan dan Napoli Bangkit
Di belakang Inter, persaingan memperebutkan tiga tiket Liga Champions lainnya berlangsung alot hingga pekan terakhir. Juventus finis di posisi kedua dengan 82 poin, tapi performa mereka di paruh kedua musim sempat dipertanyakan. Thiago Motta mulai membangun filosofi permainan, namun inkonsistensi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kehilangan poin melawan tim papan bawah nyaris membuat mereka tersalip.
AC Milan di bawah asuhan Paulo Fonseca berhasil finis di posisi ketiga dengan 74 poin. Meski tidak sempurna, Rossoneri menunjukkan perkembangan positif. Rafael Leao kembali menemukan tajinya, sementara lini belakang yang diperkuat Fikayo Tomori dan Malick Thiaw mulai kokoh. Tiket Liga Champions ini jadi modal berharga untuk belanja pemain musim depan.
Napoli bangkit dari keterpurukan musim lalu. Antonio Conte berhasil mengembalikan mental juara klub asal Campania ini. Finis di posisi keempat dengan 72 poin, Napoli bermain dengan intensitas tinggi dan pressing ketat. Victor Osimhen yang sempat digosipkan hengkang, justru tampil tajam dengan 19 gol. Kehadiran Conte jelas membawa dampak besar.
Atalanta menjadi kejutan positif. Gian Piero Gasperini kembali membuktikan diri sebagai salah satu pelatih terbaik Italia. La Dea finis di posisi kelima dengan 70 poin, cukup untuk mengamankan tiket Liga Champions berkat koefisien Italia. Permainan menyerang mereka tetap memukau, dan Scamacca tampil sebagai salah satu striker paling haus gol musim ini.
Perebutan Tiket Eropa: Roma dan Lazio Gigit Jari
Bagi klub-klub sekota Roma, musim ini berakhir dengan rasa pahit. AS Roma dan Lazio harus puas dengan tiket Liga Europa setelah finis di peringkat keenam dan ketujuh. Roma yang dilatih Daniele De Rossi sempat tampil menjanjikan di awal musim, tapi cedera pemain kunci membuat performa mereka menurun drastis di paruh kedua.
Sementara itu, Lazio di bawah Maurizio Sarri bermain indah di atas kertas, namun gagal kompetitif saat meladeni tim-tim besar. Duo Ibu Kota harus puas melihat rival mereka dari Milan dan Turin melenggang ke kompetisi gengsi. Ini jadi pengingat bahwa persaingan di papan atas Serie A semakin ketat dan tidak ada tempat untuk lengah.
Fiorentina dan Bologna juga layak diapresiasi. Keduanya finis di peringkat delapan dan sembilan, mengamankan tiket Liga Conference. Khusus untuk Bologna, Thiago Motta yang hengkang ke Juventus meninggalkan warisan taktik yang diwarisi dengan baik oleh penggantinya. Mereka bermain berani dan merepotkan banyak tim besar.
Perjuangan Hidup Mati: Venezia, Cagliari, dan Lecce Degradasi
Drama paling menyayat hati terjadi di dasar klasemen. Setelah berjuang habis-habisan hingga pekan terakhir, tiga tim harus menerima kenyataan pahit degradasi. Venezia, yang sempat tampil impresif di awal musim, akhirnya harus kembali ke Serie B. Pertahanan mereka yang bocor menjadi penyebab utama kegagalan.
Cagliari dan Lecce juga harus angkat koper dari Serie A. Keduanya berjuang keras, tapi kualitas skuad yang terbatas menjadi batu sandungan. Cagliari yang sempat beberapa kali keluar dari zona merah, akhirnya tak kuasa menahan tekanan di pekan-pekan krusial. Lecce, yang mengandalkan semangat juang tinggi, juga kehabisan tenaga di penghujung musim.
Nasib Empoli dan Udinese sedikit lebih beruntung. Mereka finis di peringkat 16 dan 17, hanya unggul beberapa poin dari zona degradasi. Kedua tim ini pasti akan melakukan evaluasi total di bursa transfer musim panas agar tidak kembali terpuruk musim depan.
Analisis Akhir Musim: Apa Kata SBH Nation?
Musim 2025-26 Serie A menjadi bukti bahwa dominasi Inter Milan belum terusik. Namun, kebangkitan Napoli dan konsistensi Atalanta menunjukkan bahwa peta persaingan mulai berubah. Juventus masih dalam masa transisi, sementara AC Milan perlahan tapi pasti kembali ke jalur elit.
Yang menarik adalah bagaimana pelatih asing mulai meninggalkan jejak di Italia. Antonio Conte dan Simone Inzaghi membuktikan bahwa taktik modern dengan pressing tinggi dan transisi cepat adalah kunci sukses. Sementara itu, tim-tim seperti Bologna dan Fiorentina menunjukkan bahwa sepak bola indah tetap bisa bersaing, meski belum cukup untuk merebut gelar.
Dari segi talenta, Serie A musim ini melahirkan beberapa pemain muda berbakat. Namun, masalah cedera masih menjadi momok yang menghantui banyak klub. Kedalaman skuad jadi faktor penentu antara finis di papan atas atau sekadar bertahan di papan tengah.
Pertanyaan untuk Sobat SBH Nation: Menurut kalian, siapa pemain terbaik Serie A musim ini? Apakah Lautaro Martinez layak menyandang gelar MVP, atau ada pemain lain yang lebih pantas? Juga, prediksi kalian, bisakah Inter Milan mempertahankan Scudetto musim depan? Atau justru ada tim lain yang akan merebut mahkota? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


