Mengapa Tuchel Nekat Bawa Ivan Toney ke Piala Dunia? Ini Alasannya | SBH.co.id | SBH Nation
internasional
calendar_today 22 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 22 Mei 2026

Mengapa Tuchel Nekat Bawa Ivan Toney ke Piala Dunia? Ini Alasannya

bolt SBH Quick Take
  • Ivan Toney hanya bermain 45 menit di bawah Thomas Tuchel, namun tetap dipanggil untuk Piala Dunia 2026.
  • Tuchel melihat Toney sebagai opsi taktis yang unik: spesialis duel udara, eksekutor penalti, dan pengganggu pertahanan lawan.
  • Keputusan ini bisa menjadi kejutan taktis yang membawa Inggris melangkah jauh, atau justru menjadi bumerang jika Toney minim menit bermain.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Thomas Tuchel kembali membuat keputusan yang mengundang perdebatan. Pelatih asal Jerman itu memastikan nama Ivan Toney masuk dalam skuad final Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2026. Padahal, sejak resmi menukangi The Three Lions, Toney nyaris tidak mendapat kesempatan bermain. Hanya 45 menit total waktu bermain di bawah asuhan Tuchel. Lantas, apa yang membuat Tuchel begitu ngotot membawa striker Brentford ini ke panggung terbesar sepak bola dunia?

Keputusan ini tentu membuat banyak pengamat dan suporter garuk-garuk kepala. Apalagi, Inggris punya deretan penyerang top seperti Harry Kane, Ollie Watkins, dan Dominic Solanke. Namun, Tuchel punya pandangan berbeda. Ia melihat Toney sebagai “senjata rahasia” yang bisa mengubah jalannya pertandingan dalam situasi tertentu. Bagi ini bukan sekadar nepotisme atau favoritisme, melainkan sebuah rencana taktis yang matang.

Spesialisasi Unik yang Tidak Dimiliki Striker Lain

Apa yang membuat Ivan Toney begitu istimewa di mata Thomas Tuchel? Jawabannya terletak pada spesialisasi yang tidak dimiliki penyerang Inggris lainnya. Toney bukanlah tipe striker yang lincah atau cepat seperti Watkins. Ia juga bukan predator kotak penalti klasik seperti Kane. Tapi, Toney adalah monster duel udara dan seorang “pembuat kekacauan” yang brilian.

Tuchel, yang dikenal sebagai pelatih yang sangat detail dalam hal taktik, melihat Toney sebagai solusi untuk membongkar pertahanan yang rapat. Dalam banyak pertandingan, terutama melawan tim-tim yang parkir bus, Inggris sering kesulitan menembus pertahanan lawan. Di sinilah peran Toney menjadi krusial. Kemampuannya memenangkan duel udara, menjatuhkan bola untuk rekan setim, dan melakukan pressing tinggi bisa menjadi kunci untuk membuka kebuntuan.

Bayangkan skenario ini: Inggris tertinggal 0-1 di menit-menit akhir. Lawan bertahan mati-matian dengan 10 pemain di kotak penalti. Tuchel bisa memasukkan Toney untuk bermain langsung sebagai target man. Dengan postur tubuhnya yang kekar dan lompatan yang eksplosif, Toney bisa menjadi ancaman konstan dari setiap umpan silang. Ini adalah opsi yang tidak dimiliki Inggris jika hanya mengandalkan Kane yang mungkin sudah kelelahan.

Eksekutor Penalti Kelas Dunia yang Teruji

Satu alasan lain yang tidak bisa diabaikan adalah kemampuan Ivan Toney dalam mengeksekusi penalti. Kita semua tahu bagaimana Piala Dunia seringkali ditentukan oleh adu penalti. Inggris sendiri memiliki sejarah kelam dalam babak tos-tosan. Tuchel tentu tidak ingin hal itu terulang.

Rekor penalti Toney di Liga Inggris hampir sempurna. Dari 23 eksekusi penalti di Premier League, ia hanya gagal sekali. Gaya eksekusinya yang unik, dengan menatap bola tanpa melihat kiper, terbukti sangat efektif membuat kiper lawan salah langkah. Memiliki pemain dengan mental baja seperti Toney di bangku cadangan adalah aset yang sangat berharga. Tuchel tahu bahwa dalam momen-momen krusial, memiliki seorang spesialis penalti bisa menjadi perbedaan antara pulang lebih awal atau membawa pulang trofi.

Ini bukan sekadar teori. Kita ingat bagaimana Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka gagal di final Euro 2020. Mentalitas Toney yang tidak kenal takut dan tekniknya yang khas membuatnya menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan pemain lain yang mungkin sedang tidak dalam kepercayaan diri tinggi saat diminta maju sebagai algojo.

Faktor “X-Factor” dan Kimia Tim

Thomas Tuchel bukanlah pelatih yang suka mengambil risiko tanpa perhitungan. Ia pasti sudah mempertimbangkan semua aspek sebelum memanggil Toney. Salah satu aspek yang mungkin luput dari perhatian publik adalah bagaimana Toney bisa menjadi “X-Factor” yang mengubah dinamika tim.

Meski jarang bermain, Toney dikabarkan memiliki hubungan yang baik dengan rekan-rekannya di timnas. Ia adalah sosok yang dihormati di ruang ganti. Kehadirannya bisa memberikan opsi taktis yang berbeda tanpa harus mengubah struktur utama tim. Tuchel mungkin tidak berencana menurunkan Toney sebagai starter, tapi ia ingin memiliki kemampuan untuk mengubah taktik secara drastis di tengah pertandingan.

Bayangkan jika Inggris unggul 2-0 di babak pertama. Di babak kedua, lawan mulai berani menyerang. Tuchel bisa memasukkan Toney untuk menggantikan seorang gelandang. Formasi berubah menjadi lebih langsung. Toney bertugas untuk “mengganggu” bek lawan dan memenangkan pelanggaran di area berbahaya. Ini adalah taktik yang sangat ala Jerman: pragmatis, efisien, dan brutal. Tuchel membawa filosofi itu ke Inggris.

Risiko yang Harus Diambil Tuchel

Tentu saja, keputusan ini bukannya tanpa risiko. Kritik terbesar adalah minimnya menit bermain Toney. Seorang pemain yang jarang bermain tentu akan kekurangan ritme pertandingan. Jika Tuchel terpaksa menurunkannya di laga penting, apakah Toney bisa langsung tampil maksimal? Ini adalah pertanyaan besar yang hanya bisa dijawab di lapangan.

Namun, dalam sepak bola modern, memiliki pemain spesialis di bangku cadangan adalah hal yang lumrah. Lihat saja bagaimana Manchester City menggunakan Julian Alvarez atau bagaimana Jerman di era Joachim Loew memanggil pemain-pemain seperti Mario Gomez. Mereka bukan pemain utama, tapi mereka punya peran spesifik. Tuchel, dengan segala pengalamannya memenangkan Liga Champions, jelas lebih paham daripada kita semua tentang apa yang dibutuhkan timnya.

Pada akhirnya, keputusan Tuchel membawa Ivan Toney ke Piala Dunia adalah sebuah pernyataan. Ia tidak peduli dengan popularitas atau tekanan publik. Ia hanya peduli pada satu hal: menang. Dan jika Toney bisa memberikan kontribusi, bahkan hanya dalam 10 menit terakhir atau dalam adu penalti, maka keputusan ini akan dianggap sebagai sebuah langkah jenius.

Pertanyaan untuk Sobat SBH Nation: Menurut kalian, apakah keputusan Thomas Tuchel membawa Ivan Toney ke Piala Dunia adalah langkah jenius atau justru sebuah kesalahan fatal? Siapa yang seharusnya ia bawa sebagai penyerang ketiga? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel