Momen 'In or Out' yang Menentukan: Cerita di Balik Seleksi Skuad Turnamen Besar | SBH.co.id | SBH Nation
internasional
calendar_today 21 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 21 Mei 2026

Momen 'In or Out' yang Menentukan: Cerita di Balik Seleksi Skuad Turnamen Besar

bolt SBH Quick Take
  • Empat mantan pemain timnas Inggris berbagi pengalaman pahit dan manis saat menerima panggilan telepon yang menentukan nasib mereka di skuad turnamen besar.
  • Momen 'in or out' bukan sekadar soal performa, tetapi juga psikologis dan hubungan personal dengan pelatih.
  • Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang tekanan, ambisi, dan realitas keras sepak bola level tertinggi.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Menjelang turnamen besar seperti Piala Dunia atau Piala Eropa, ada satu momen yang paling dinanti sekaligus paling ditakuti oleh setiap pemain sepak bola: panggilan telepon dari pelatih. Di ujung telepon itulah nasib seorang pemain ditentukan. Apakah ia akan terbang ke panggung internasional, atau justru harus rela menonton dari rumah.

BBC Sport baru-baru ini merilis sebuah artikel menarik yang mengungkap kisah-kisah emosional dari empat mantan pemain timnas Inggris: Micah Richards, Joe Hart, Theo Walcott, dan Stephen Warnock. Mereka berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana rasanya menerima telefon yang menentukan apakah mereka “in or out” dari skuad Inggris untuk turnamen besar.

Artikel ini bukan sekadar cerita nostalgia. Ini adalah potret nyata tentang tekanan psikologis, ambisi, dan realitas keras di dunia sepak bola profesional. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini juga relevan mengingat Timnas Indonesia juga sering menghadapi dinamika serupa dalam seleksi pemain.

Micah Richards: Dari Panggilan yang Menghancurkan Hingga Selebrasi Liar

Micah Richards, mantan bek kanan yang kini menjadi pundit ternama, mengingat betul momen ketika ia menerima telepon dari pelatih Fabio Capello pada 2010. Saat itu, ia sedang dalam performa terbaiknya bersama Manchester City. Namun, panggilan itu justru menghancurkan harapannya.

“Saya sedang duduk di rumah, santai, tiba-tiba telepon berdering. Itu Capello. Dia bilang, ‘Micah, saya tidak membawamu ke Piala Dunia.’ Saya diam. Rasanya seperti ditampar,” kenang Richards.

Yang membuatnya semakin pahit adalah ia tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Capello hanya mengatakan bahwa ia sudah punya pemain lain. Richards mengaku butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih dari kekecewaan itu. Namun, pengalaman itu justru membakar semangatnya untuk membuktikan diri.

Sebaliknya, ada juga momen manis. Saat dipanggil untuk Piala Eropa 2012, Richards justru mendapat kabar baik di tempat yang tidak terduga. “Saya sedang di mal, belanja, dan tiba-tiba telepon berdering. Itu Roy Hodgson. Dia bilang saya masuk skuad. Saya hampir menjatuhkan belanjaan saya,” ceritanya sambil tertawa.

Joe Hart: Ketika Kiper Nomor Satu Harus Menerima Kenyataan Pahit

Joe Hart, mantan kiper utama Inggris dan Manchester City, punya cerita yang tak kalah dramatis. Sebagai kiper yang sudah sering menjadi andalan, ia pernah merasakan panggilan yang sangat mengejutkan.

“Saya pikir saya akan masuk skuad untuk Piala Eropa 2016. Saya sudah mempersiapkan diri, berlatih keras. Tapi ketika telepon berdering dan saya mendengar suara Roy Hodgson, saya langsung tahu ada yang tidak beres,” kata Hart.

Hodgson dengan sopan namun tegas mengatakan bahwa Hart tidak masuk dalam daftar 23 pemain. Bagi Hart, ini adalah pukulan telak. “Saya kiper utama di klub, saya pikir saya pantas. Tapi sepak bola tidak selalu adil,” ujarnya.

Pengalaman ini mengajarkan Hart bahwa di level tertinggi, tidak ada jaminan. Bahkan kiper sekaliber dirinya pun bisa tersingkir. Ia kemudian menggunakan kekecewaan itu sebagai motivasi untuk bangkit kembali.

Theo Walcott: Dipanggil di Usia Muda, Tapi Harus Rela Ditinggal

Theo Walcott memiliki pengalaman unik. Ia dipanggil ke skuad Inggris untuk Piala Dunia 2006 saat usianya baru 17 tahun. Itu adalah momen yang sangat membahagiakan. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus.

“Saya ingat betul saat Sven-Göran Eriksson menelepon. Saya sedang di rumah, dan saya tidak percaya. Saya pikir itu hanya lelucon,” kenang Walcott.

Sayangnya, meskipun masuk skuad, Walcott tidak mendapatkan menit bermain di turnamen tersebut. Ia hanya menjadi penonton di bangku cadangan. “Itu frustrasi. Saya merasa seperti anak kecil yang dibawa ke pesta tapi tidak boleh ikut bermain,” katanya.

Pengalaman ini mengajarkan Walcott bahwa masuk skuad saja tidak cukup. Ia harus terus bekerja keras untuk mendapatkan tempat di lapangan. Namun, ia tetap bersyukur karena pengalaman itu membantunya tumbuh sebagai pemain.

Stephen Warnock: Ketika Panggilan Datang di Saat yang Paling Tidak Terduga

Stephen Warnock, mantan bek kiri yang pernah membela Liverpool dan Aston Villa, juga punya cerita menarik. Ia dipanggil ke skuad Inggris untuk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

“Saya sedang berlibur di luar negeri. Tiba-tiba telepon berdering. Itu adalah nomor yang tidak saya kenal. Saya hampir tidak mengangkatnya karena saya pikir itu telepon spam,” cerita Warnock.

Ternyata itu adalah Fabio Capello yang memberitahu bahwa ia masuk skuad. Warnock langsung berteriak kegirangan hingga membuat orang-orang di sekitarnya bingung. “Saya tidak bisa berkata-kata. Rasanya seperti mimpi,” ujarnya.

Namun, perjalanan Warnock tidak semulus itu. Di turnamen, ia hanya menjadi pemain pelapis dan tidak mendapatkan banyak kesempatan. Meski begitu, ia tetap bangga bisa menjadi bagian dari timnas Inggris di Piala Dunia.

Pelajaran Berharga untuk Pemain Muda dan Penggemar

Kisah-kisah ini bukan hanya tentang kegembiraan atau kekecewaan. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana menghadapi tekanan dan ketidakpastian di level tertinggi sepak bola. Bagi pemain muda Indonesia yang bermimpi membela Timnas Indonesia, kisah ini bisa menjadi inspirasi.

Pertama, jangan pernah merasa aman. Bahkan pemain terbaik sekalipun bisa tersingkir. Kedua, gunakan kekecewaan sebagai bahan bakar untuk bangkit. Ketiga, nikmati setiap momen, baik saat dipanggil maupun saat harus menerima kenyataan pahit.

Di Indonesia, seleksi skuad untuk Piala AFF atau Kualifikasi Piala Dunia juga sering menjadi momen emosional. Banyak pemain yang harus menerima kenyataan pahit, sementara yang lain merayakan panggilan impian mereka.

Pertanyaan untuk Pembaca

Nah, Sobat SBH, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian pernah mengalami momen “in or out” dalam hidup, baik di sepak bola maupun di bidang lain? Atau mungkin kalian punya cerita tentang seleksi pemain Timnas Indonesia yang paling berkesan? Tulis pendapat kalian di kolom komentar! Jangan lupa share artikel ini ke teman-teman pecinta sepak bola lainnya.

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel