Naik Motor dari Pasuruan demi Jogja Run: Kisah Bagus dan Kostum Dayak Landak
- Bagus Setiawan, peserta Jogja Run D-City 2026, naik motor dari Pasuruan selama 5 jam demi mengikuti ajang lari.
- Ia tampil mencolok dengan kostum adat Dayak Landak Kalimantan, menunjukkan kreativitas dan kecintaan pada budaya.
- Aksi ini membuktikan bahwa event lari modern bisa menjadi wadah ekspresi budaya dan semangat petualangan.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Ada yang lebih seru dari sekadar lari pagi di akhir pekan? Jogja Run D-City (JRDC) 2026 yang digelar Minggu (24/5) kemarin membuktikan bahwa sebuah event lari bisa menjadi panggung kreativitas tanpa batas. Di tengah ribuan peserta yang memadati rute kota Yogyakarta, satu sosok berhasil mencuri perhatian publik dan awak media: Bagus Setiawan (31). Bukan karena catatan waktunya yang super cepat, melainkan karena perjuangan dan penampilannya yang luar biasa unik.
Bayangkan, untuk bisa ikut ambil bagian dalam JRDC 2026, Bagus rela menempuh perjalanan darat seorang diri dari Pasuruan, Jawa Timur, menggunakan sepeda motor kesayangannya. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 5 jam itu ia lakukan bukan tanpa alasan. Ada misi spesial yang ingin ia wujudkan di kota pelajar tersebut: tampil beda dengan mengenakan kostum adat Dayak Landak Kalimantan.
Perjalanan Epik dari Pasuruan ke Jogja demi Satu Start
Kisah Bagus Setiawan bukanlah kisah atlet profesional yang terbang dengan pesawat. Ini adalah cerita tentang seorang pria biasa dengan semangat luar biasa. Dalam wawancara eksklusif dengan tim SBH.co.id, Bagus menceritakan detail perjalanannya yang penuh petualangan.
“Saya berangkat dari Pasuruan jam 3 pagi. Naik motor sendiri. Sampai di Yogya jam 8 kurang,” ungkap Bagus dengan nada santai namun penuh semangat. “Memang sudah niat dari awal. Saya suka acara-acara lari kayak gini, apalagi di Jogja yang terkenal dengan suasananya yang ramah pelari.”
Keputusan untuk naik motor bukan sekadar soal ekonomi. Bagi Bagus, perjalanan itu sendiri adalah bagian dari pengalaman. Melewati jalanan Jawa yang berliku dan pemandangan pedesaan yang hijau menjadi pemanasan mental yang sempurna sebelum menghadapi tantangan lari di kota budaya. Ia mengaku sudah beberapa kali mengikuti event lari di berbagai kota, tapi JRDC selalu punya tempat spesial di hatinya.
“Acaranya unik, rutenya menantang, dan pesertanya ramah-ramah. Jadi meskipun jauh, saya semangat aja,” tambahnya.
Kostum Dayak Landak: Lebih dari Sekadar Pemanis
Sesampainya di lokasi start, Bagus langsung menjadi pusat perhatian. Ia tidak datang dengan kostum lari biasa. Sebaliknya, ia memilih untuk mengenakan kostum adat Dayak Landak yang lengkap dengan aksesoris ikoniknya. Mulai dari penutup kepala yang dihiasi bulu-bulu burung enggang, rompi tradisional, hingga parang mandau yang ia bawa sebagai properti.
Kreativitas semacam ini memang menjadi salah satu daya tarik utama JRDC. Berbeda dengan marathon pada umumnya yang serius dan kompetitif, JRDC mengusung konsep “fun run” dan “costume run” yang mendorong peserta untuk berkreasi. Bagus menjelaskan inspirasinya.
“Saya ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya dari Kalimantan. Dayak Landak itu unik, dan saya pikir ini adalah cara yang asyik untuk mempromosikannya,” jelas Bagus. “Saya sudah beberapa kali pakai kostum ini di event lari lain. Alhamdulillah, selalu disambut baik.”
Penampilannya yang eksotis berpadu dengan semangat sportivitas menciptakan perpaduan yang sempurna. Banyak peserta lain yang meminta foto bersamanya, bahkan panitia pun memberikan apresiasi khusus. Ini membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi medium yang efektif untuk merawat dan mempromosikan budaya lokal.
Analisis: Mengapa Event Seperti JRDC Penting untuk Pariwisata dan Budaya?
Fenomena seperti yang dilakukan Bagus Setiawan bukanlah sekadar aksi nyeleneh. Ini adalah indikator positif dari pergeseran paradigma dalam dunia olahraga dan pariwisata Indonesia. Jogja Run D-City tidak hanya berhasil menarik ribuan peserta, tetapi juga berhasil menciptakan ekosistem yang mendukung ekspresi budaya.
Dari sudut pandang pariwisata, event lari tematik seperti JRDC memiliki multiplier effect yang signifikan. Peserta seperti Bagus yang datang dari luar kota secara otomatis akan mengeluarkan uang untuk transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Belum lagi promosi yang mereka lakukan secara organik melalui media sosial. Bayangkan, foto Bagus dengan kostum Dayak Landak-nya di tengah ikon-ikon Jogja bisa dilihat oleh ribuan orang di lini masa.
“Kami sangat mengapresiasi kreativitas peserta. Inilah yang membuat JRDC berbeda. Kami ingin menciptakan festival lari yang merayakan kebinekaan dan semangat kebersamaan,” ujar salah satu panitia JRDC yang dihubungi SBH.co.id.
Lebih dalam lagi, aksi Bagus mengingatkan kita bahwa identitas budaya bisa dibawa ke mana saja, termasuk ke arena lari modern. Dengan cara yang ringan dan menghibur, ia telah menjadi duta budaya dadakan yang efektif. Di era di mana generasi muda seringkali asing dengan budayanya sendiri, langkah kecil seperti ini patut diapresiasi.
Antusiasme dan Kesan Mendalam dari Rute JRDC
Selama berlari, Bagus mengaku tidak kesulitan dengan kostumnya. Meskipun terlihat berat dan rumit, ia sudah terbiasa menggunakannya. Yang paling berkesan baginya adalah sambutan hangat dari warga Jogja di sepanjang rute.
“Banyak yang teriak-teriak ‘Ayo Mas Dayak!’, ‘Semangat Dayak!’. Itu bikin saya makin semangat,” kenangnya sambil tertawa. “Rutenya juga seru, melewati Malioboro, Keraton, dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Lari sambil menikmati kota, itu yang saya suka.”
Ia juga memuji manajemen JRDC yang dinilainya sangat profesional. Mulai dari pengaturan start yang rapi, pos air minum yang cukup, hingga petugas keamanan yang sigap. Semua elemen ini berkontribusi pada pengalaman positif yang ia rasakan.
“Saya pasti akan balik lagi tahun depan. Mungkin dengan kostum yang berbeda,” goda Bagus.
Kisah Bagus Setiawan mengajarkan kita bahwa olahraga bukan hanya tentang kecepatan dan kemenangan. Lebih dari itu, olahraga adalah tentang perjalanan, kreativitas, dan kebanggaan akan identitas. Dari Pasuruan ke Jogja, dengan motor dan kostum Dayak, ia telah menorehkan cerita inspiratif yang layak dikenang.
Pertanyaan untuk Pembaca:
Kalau kamu ikut JRDC tahun depan, kostum daerah atau karakter apa yang paling ingin kamu kenakan saat berlari? Tulis di kolom komentar ya, Sobat SBH!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


