Penyesalan Terbesar Pep Guardiola: Kepergian Joe Hart dari Manchester City | SBH.co.id | SBH Nation
internasional
calendar_today 23 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 23 Mei 2026

Penyesalan Terbesar Pep Guardiola: Kepergian Joe Hart dari Manchester City

bolt SBH Quick Take
  • Pep Guardiola mengaku menyesal telah melepas Joe Hart pada musim pertamanya di Manchester City.
  • Keputusan itu diambil karena Hart dinilai tidak cocok dengan gaya main build from the back yang diinginkan Pep.
  • Pep kini mengakui bahwa ia mungkin terlalu cepat memutuskan tanpa memberi Hart kesempatan beradaptasi.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Di balik gemerlap trofi Premier League, Piala FA, dan bahkan treble winner yang legendaris, Pep Guardiola menyimpan satu luka yang tak kunjung kering. Bukan soal taktik yang gagal atau pemain yang mogok, melainkan tentang keputusan yang ia ambil di hari-hari pertamanya sebagai manajer Manchester City. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang baru-baru ini beredar, Pep mengakui bahwa satu-satunya penyesalan terbesarnya selama menukangi The Citizens adalah kepergian Joe Hart.

Keputusan untuk meminjamkan ikon klub ke Torino pada musim panas 2016 lalu bukanlah perkara sepele. Bagi pendukung setia City, Joe Hart bukan sekadar penjaga gawang; ia adalah simbol loyalitas, semangat juang, dan identitas klub di era pra-Petrodollar. Namun, kedatangan Pep Guardiola yang revolusioner langsung mengubah segalanya.

Mengapa Joe Hart Harus Pergi?

Ketika Pep Guardiola tiba di Etihad Stadium pada tahun 2016, ia membawa serta filosofi sepak bola yang sangat spesifik: build from the back. Filosofi ini menuntut kiper memiliki kemampuan distribusi bola yang sangat baik, bukan hanya refleks menepis tembakan. Joe Hart, yang dikenal sebagai kiper tradisional dengan naluri penyelamatan kelas dunia, dinilai tidak memenuhi kriteria tersebut.

Dalam sesi latihan pertama, Pep langsung melihat ketidakcocokan. Hart sering kali panik saat menerima bola dari bek dan cenderung melakukan tendangan panjang ke depan, sebuah gaya yang bertentangan dengan keinginan Pep untuk membangun serangan dari bawah. Keputusan pun diambil: Joe Hart harus pergi. Ia dipinjamkan ke Torino, lalu ke West Ham United, sebelum akhirnya pindah permanen ke Burnley.

Namun, waktu adalah guru yang kejam. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan berbagai kiper seperti Claudio Bravo, Ederson Moraes, dan Stefan Ortega, Pep menyadari bahwa mungkin ia telah bertindak terlalu terburu-buru.

Pengakuan Jujur Pep Guardiola

Dalam wawancara terbarunya, Pep Guardiola dengan rendah hati mengakui kesalahannya. “Saya sangat menyesali keputusan itu. Joe adalah legenda klub ini. Mungkin saya seharusnya lebih sabar dan mencoba membantunya beradaptasi dengan gaya bermain saya,” ujar Pep.

Ia melanjutkan, “Saya datang dengan ide yang sangat kaku tentang bagaimana seorang kiper harus bermain. Saya pikir jika seorang kiper tidak bisa membangun serangan, maka ia tidak berguna bagi tim. Itu adalah pemikiran yang dangkal. Joe memiliki kualitas lain yang luar biasa: keberanian, kepemimpinan, dan kemampuan untuk tampil di momen-momen besar.”

Pep juga mengakui bahwa tekanan untuk meraih hasil instan di musim pertamanya membuatnya mengambil keputusan yang kurang bijak. “Saya tidak punya waktu untuk mengajarinya. Saya butuh hasil cepat. Itu adalah kesalahan saya. Jika saya bisa kembali ke masa lalu, saya akan mempertahankannya dan bekerja lebih keras untuk mengintegrasikannya.”

Dampak Keputusan Itu terhadap Manchester City

Kepergian Joe Hart membuka jalan bagi kedatangan Ederson Moraes pada tahun 2017. Ederson, dengan kaki kirinya yang seperti pemain tengah, menjadi fondasi utama kesuksesan City di era Pep. Namun, apakah itu berarti keputusan melepas Hart adalah langkah yang benar secara keseluruhan? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Di satu sisi, Ederson memungkinkan City bermain dengan garis pertahanan tinggi dan transisi cepat yang menjadi ciri khas tim. Tanpa Ederson, mustahil bagi City untuk mendominasi Premier League seperti yang mereka lakukan. Namun di sisi lain, kehilangan Hart berarti kehilangan seorang pemimpin di ruang ganti. Hart adalah pemain yang tak segan berteriak pada rekan setimnya dan memberikan motivasi. Ketiadaan figur seperti itulah yang kadang membuat City tampil rapuh di laga-laga besar, terutama di Liga Champions.

Lebih dari itu, keputusan ini meninggalkan luka emosional bagi para penggemar. Melihat ikon klub seperti Hart dipinggirkan dengan cara yang terkesan tidak hormat membuat sebagian suporter kecewa. Meski kini City telah menjadi raksasa Eropa, kenangan akan Hart tetap membekas di hati para fan sejati.

Pelajaran Berharga untuk Guardiola dan Dunia Sepak Bola

Pengakuan Pep Guardiola ini bukan sekadar cerita sentimental. Ada pelajaran taktis dan manajerial yang sangat berharga di dalamnya. Pertama, filosofi sepak bola tidak boleh menjadi kaku. Seorang manajer hebat adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan materi pemain yang ada, bukan memaksakan sistem yang tidak cocok. Kedua, nilai seorang pemain tidak hanya diukur dari kemampuannya dalam satu aspek permainan. Kepemimpinan, karakter, dan loyalitas adalah komoditas yang tak ternilai harganya.

Bagi Guardiola, pengalaman dengan Joe Hart menjadi pengingat bahwa sepak bola bukanlah sekadar algoritma dan statistik. Ada jiwa dan emosi yang terlibat. “Saya belajar bahwa menjadi manajer bukan hanya tentang taktik. Ini tentang manusia. Saya gagal memahami Joe sebagai manusia, dan itu adalah kegagalan terbesar saya,” tutup Pep.

Kisah ini juga menjadi peringatan bagi klub-klub lain yang tergoda untuk membuang pemain legendaris demi kebaruan. Terkadang, yang dibutuhkan bukanlah pemain baru, melainkan kesabaran untuk mengembangkan apa yang sudah ada.

Pertanyaan untuk Pembaca

Nah, Sobat setelah membaca pengakuan jujur Pep Guardiola ini, bagaimana pendapat kalian? Apakah kalian setuju bahwa Pep seharusnya mempertahankan Joe Hart dan memberinya waktu untuk beradaptasi? Atau justru sebaliknya, keputusan melepas Hart adalah langkah yang tepat demi kemajuan tim? Tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah! Jangan lupa bagikan artikel ini ke grup sepak bola kalian agar diskusinya makin seru.

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel