Sejarah Kelam Tuan Rumah yang Pernah Gagal Lolos Grup Piala Dunia
- Qatar 2022 menjadi tuan rumah pertama yang tidak memenangkan satu pertandingan bermakna pun — kalah dari Ekuador dan Senegal, menang hanya melawan Belanda yang sudah aman.
- Afrika Selatan 2010 adalah tuan rumah pertama yang gagal lolos dari fase grup sepanjang sejarah Piala Dunia.
- Secara historis sebelum 2010, setiap tuan rumah Piala Dunia selalu lolos dari fase grup — beberapa bahkan menjadi juara.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Ada beban yang tidak terlihat yang selalu dipikul setiap tuan rumah Piala Dunia. Bukan beban fisik yang bisa diukur dengan angka — tapi beban ekspektasi jutaan orang yang tidak bisa dikuantifikasi dengan formula apapun. Beban suporter yang datang bukan hanya untuk mendukung, tapi untuk menuntut. Beban media yang menempatkan kamera di wajah pemain sepanjang waktu. Beban sejarah yang mengatakan bahwa sebagai tuan rumah, kamu harus tampil.
Sejarah panjang Piala Dunia menunjukkan bahwa beban itu terkadang terlalu berat untuk ditanggung.
Qatar 2022: Ketika Investasi Miliaran Dolar Tidak Cukup
Tidak ada yang meragukan bahwa Qatar adalah penyelenggara yang luar biasa secara infrastruktur. Lusail Stadium berkapasitas 88.966 penonton — dibangun dalam waktu kurang dari 5 tahun dengan teknologi pendingin revolusioner — adalah salah satu mahakarya arsitektur olahraga abad ke-21. Al Bayt Stadium berbentuk tenda Bedouin raksasa. Stadium 974 dibangun seluruhnya dari kontainer pengiriman yang bisa dibongkar pasang.
Total investasi Qatar untuk Piala Dunia 2022: diperkirakan lebih dari $220 miliar — jauh melampaui gabungan semua Piala Dunia sebelumnya dalam sejarah. Angka yang membuat Piala Dunia sebelumnya terlihat seperti acara komunitas.
Tapi di lapangan, ceritanya berbeda total.
Pertandingan 1 — Qatar vs Ekuador (0-2): Pembuka Piala Dunia 2022 di Lusail Stadium. Enner Valencia dari Ekuador mencetak dua gol — pertama dianulir karena offside setelah review VAR, kedua (penalti) dan ketiga resmi dihitung. Qatar kalah 0-2. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tuan rumah Piala Dunia kalah di pertandingan pembuka.
Pertandingan 2 — Qatar vs Senegal (1-3): Boulaye Dia dari Senegal membuka skor. Famara Diedhiou menambah dua gol lagi. Qatar mencetak satu gol hiburan melalui Mohammed Muntari — tapi kekalahan 1-3 memastikan eliminasi mereka sebelum pertandingan terakhir.
Pertandingan 3 — Qatar vs Belanda (2-0): Kemenangan yang terlambat dan tidak berarti. Belanda sudah memastikan posisi puncak grup. Qatar menang demi harga diri, bukan demi tiket babak selanjutnya.
Qatar pulang tanpa satu poin bermakna pun di fase grup. Investasi $220 miliar tidak membeli kualitas sepak bola yang cukup untuk bersaing dengan Ekuador — tim yang bahkan bukan termasuk 20 besar dunia versi ranking FIFA saat itu.
Afrika Selatan 2010: Ketika Benua Afrika Menangis Bersama
Piala Dunia 2010 bukan sekadar turnamen bagi Afrika. Ini adalah pernyataan bahwa benua dengan 1,4 miliar penduduk dan tradisi olahraga yang kaya mampu menyelenggarakan event terbesar di dunia. Nelson Mandela — yang hadir di pertandingan pembuka meski kondisi kesehatannya sudah sangat lemah — menjadikan momen itu lebih sakral dari sekadar sepak bola.
Bafana Bafana (nama timnas Afrika Selatan yang berarti “Anak-anak, Anak-anak”) memulai dengan harapan yang membumbung tinggi. Pelatih Carlos Alberto Parreira — veteran Brasil yang pernah memimpin Brasil juara di 1994 — mengasuh tim yang diperkuat Steven Pienaar dari Everton, Bongani Khumalo, dan kapten Aaron Mokoena.
Pertandingan 1 — Afrika Selatan vs Meksiko (1-1): Gol pembuka Siphiwe Tshabalala — tendangan keras sudut kiri kotak penalti yang masuk ke pojok gawang kanan — menjadi salah satu gol paling ikonik dalam sejarah Afrika. Suara vuvuzela di Soccer City Stadium (kini FNB Stadium) Johannesburg mengguncang langit Afrika. Tapi Meksiko menyamakan kedudukan di babak kedua.
Pertandingan 2 — Afrika Selatan vs Uruguay (0-3): Diego Forlan dari Uruguay mencetak dua gol sensasional — termasuk salah satu tendangan jarak jauh terbaik dalam sejarah turnamen. Luis Suarez yang masih bermain untuk Ajax Amsterdam menambah satu. Afrika Selatan kalah telak.
Pertandingan 3 — Afrika Selatan vs Prancis (2-1): Kemenangan yang terlambat melawan Prancis yang sedang dilanda krisis internal (pemogokan pemain, skandal Nicolas Anelka). Tapi dua poin dari tiga pertandingan tidak cukup untuk lolos.
Afrika Selatan menjadi tuan rumah pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal lolos dari fase grup. Kesedihan yang menyelimuti stadion-stadion Afrika Selatan pada hari eliminasi adalah salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah olahraga modern.
Sebelum Era Kelam: Tuan Rumah yang Selalu Lolos (dan Sering Juara)
Untuk perspektif historis yang seimbang: sebelum Afrika Selatan 2010, setiap tuan rumah Piala Dunia dalam sejarah selalu lolos dari fase grup. Banyak yang bahkan menjadi juara atau setidaknya mencapai semifinal.
- Italia 1934: Juara (tuan rumah)
- Italia 1938: Juara (bukan tuan rumah, tapi mengkonfirmasi dominasi)
- Brasil 1950: Runner-up (kalah dari Uruguay dalam drama tragis di Maracana)
- Inggris 1966: Juara — trofi Piala Dunia satu-satunya mereka
- Jerman Barat 1974: Juara
- Argentina 1978: Juara — meski diselimuti kontroversi politik
- Meksiko 1986: Perempat final
- Italia 1990: Peringkat ketiga
- Prancis 1998: Juara — dengan Zinedine Zidane, Thierry Henry, dan Didier Deschamps
- Korea Selatan/Jepang 2002: Korea Selatan mencapai semifinal secara mengejutkan
- Jerman 2006: Peringkat ketiga
- Brasil 2014: Semifinal (kalah 1-7 dari Jerman dalam pertandingan paling traumatis dalam sejarah sepak bola Brasil)
- Rusia 2018: Babak 16 besar (kalah adu penalti dari Kroasia)
Pola jelas: sebelum 2010, beban tuan rumah justru cenderung mengangkat performa. Setelah 2010, tren berbalik.
Meksiko, AS, dan Kanada di 2026: Siapa yang Lolos?
Ketiga tuan rumah Piala Dunia 2026 menghadapi pertanyaan yang sama.
Meksiko adalah tuan rumah dengan rekam jejak Piala Dunia terkuat — lolos dari fase grup di setiap edisi yang mereka ikuti. Namun “El Tri” sudah delapan kali berturut-turut tersingkir di babak 16 besar — kutukan “Quinto Partido” (pertandingan kelima) yang menjadi lelucon pahit bagi suporter Meksiko. Pelatih Javier Aguirre (atau penggantinya) harus memecahkan kutukan itu, bukan hanya bertahan di fase grup.
Amerika Serikat di bawah Mauricio Pochettino memiliki skuad terkuat dalam sejarah sepak bola AS. Christian Pulisic dari AC Milan, Gio Reyna dari Borussia Dortmund, Tyler Adams dari Bournemouth — ini bukan tim yang bisa diremehkan. Bermain di depan puluhan ribu suporter fanatik di MetLife, SoFi, dan AT&T adalah keuntungan psikologis yang nyata.
Kanada adalah tuan rumah dengan tekanan paling rendah — ekspektasi paling kecil, sehingga yang bisa diberikan hanyalah kejutan positif. Dengan Alphonso Davies dari Bayern Munich dan Jonathan David dari Lille, Kanada punya bintang-bintang yang cukup untuk lolos dari fase grup.
🗣️ SBH Nation, Mana di Antara 3 Tuan Rumah yang Akan Paling Jauh?
Prediksi kalian: apakah AS, Meksiko, atau Kanada yang akan melangkah paling jauh di Piala Dunia 2026? Dan akankah salah satunya mengulangi nasib Qatar dan Afrika Selatan? Tulis prediksi terliarmu di kolom komentar!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


