🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: PEP GUARDIOLA VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG ::
Senang Melihatnya Pergi: Suporter Rival Bicara Soal Era Pep Guardiola | SBH.co.id | SBH Nation
internasional
calendar_today 23 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 23 Mei 2026

Senang Melihatnya Pergi: Suporter Rival Bicara Soal Era Pep Guardiola

bolt SBH Quick Take
  • BBC Sport mengumpulkan pendapat suporter rival (MU, Liverpool, Arsenal, Chelsea) menjelang laga terakhir Pep Guardiola di Manchester City.
  • Mayoritas suporter rival mengaku 'lega' dan 'senang melihatnya pergi' karena dominasi City yang absolut, namun secara pribadi mengakui kejeniusan taktiknya.
  • Kepergian Guardiola meninggalkan warisan standar tinggi yang sulit ditandingi, sekaligus membuka peluang baru bagi persaingan Premier League.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

SBH.co.id – Akhir sebuah era. Pep Guardiola akan memainkan laga terakhirnya sebagai manajer Manchester City akhir pekan ini. Jika biasanya perpisahan seorang legenda diiringi air mata dan pujian dari semua kubu, kali ini lain ceritanya. BBC Sport baru-baru ini merilis sebuah artikel menarik yang bertanya langsung kepada suporter klub rival tentang apa arti Guardiola bagi mereka. Dan jawabannya? Sebuah campuran antara kelegaan, kekaguman yang dipaksakan, dan sedikit rasa iri.

“Senang melihat punggungnya,” begitu kira-kira bunyi judul artikel BBC tersebut. Ini bukanlah sekadar clickbait. Ini adalah representasi dari perasaan yang selama ini terpendam di kalangan pendukung Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea. Bagi mereka, Guardiola bukanlah sekadar pelatih hebat; dia adalah mimpi buruk yang berkepanjangan. Mari kita bedah lebih dalam sentimen yang terasa begitu kuat di kalangan suporter rival ini.

## Dominasi yang Melelahkan: Antara Iri dan Frustrasi

Tidak bisa dipungkiri, era Guardiola di Premier League adalah era supremasi yang nyaris sempurna. Empat gelar Premier League beruntun, treble winner di musim 2022/2023, dan total enam gelar liga dalam delapan musim. Bagi suporter klub lain, ini adalah tontonan yang membosankan dan membuat frustrasi.

Seorang suporter Manchester United yang diwawancarai BBC dengan jujur mengaku, “Saya sangat lega dia pergi. Setiap musim terasa seperti sudah ditentukan sejak awal. Kami bahkan tidak bisa bermimpi untuk bersaing. Permainan mereka seperti mesin, tanpa cela, tanpa drama. Membosankan, sejujurnya.”

Sentimen serupa datang dari kubu Liverpool. Meski The Reds di bawah Jurgen Klopp sempat menjadi satu-satunya tim yang mampu memberikan perlawanan sengit—seperti perburuan gelar epik di musim 2018/2019 dan 2021/2022—tetap saja, konsistensi City luar biasa. “Kami harus berlari secepat mungkin hanya untuk finish di posisi kedua,” ujar seorang suporter Liverpool. “Dia (Guardiola) memaksa Klopp untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, dan itu melelahkan secara emosional.”

Ini bukan sekadar soal gelar. Ini soal perasaan bahwa kompetisi menjadi timpang. Anggaran yang besar, skuad sedalam samudra, dan taktik yang terasa seperti bermain catur di level yang berbeda. Suporter Arsenal, misalnya, masih membekas dengan ingatan bagaimana tim asuhan Mikel Arteta yang tampil gemilang di paruh pertama musim 2022/2023 akhirnya runtuh di bawah tekanan City yang seperti robot. Frustrasi, itulah kata yang tepat.

## Pengakuan yang Terpaksa: “Dia Jenius, Tapi…”

Di balik rasa frustrasi, ada lapisan kedua yang lebih kompleks: pengakuan. Seperti kata pepatah, “musuh terbaikmu adalah yang membuatmu lebih baik.” Hampir semua suporter rival, meski enggan, pada akhirnya mengakui kejeniusan Guardiola.

Seorang suporter Chelsea yang diwawancarai mengatakan, “Saya benci mengakuinya, tapi cara dia merevolusi posisi bek sayap dengan menggunakan pemain seperti John Stones sebagai gelandang adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dia mengubah cara kami semua menonton sepak bola. Tapi tetap saja, saya senang dia pergi.”

Inilah dualisme yang menarik. Di satu sisi, ada kebencian yang sehat—sebuah rivalitas yang membuat Premier League menjadi liga paling menarik di dunia. Di sisi lain, ada kekaguman yang tak terbantahkan. Guardiola tidak hanya menang, dia menang dengan cara yang indah dan inovatif. Tiki-taka yang dulu ia kembangkan di Barcelona, kemudian diadaptasi dengan fisik dan kecepatan Premier League, menciptakan gaya bermain yang disebut sebagai “death by football” oleh beberapa komentator.

Bagi suporter Manchester United, yang terbiasa dengan sepak bola menyerang ala Sir Alex Ferguson, melihat City bermain begitu dominan adalah sebuah tamparan. “Dia membuat tetangga kami menjadi klub yang paling ditakuti di Eropa. Itu menyakitkan. Tapi sebagai pecinta sepak bola murni, Anda tidak bisa tidak menghormati apa yang telah ia capai,” tambah suporter Setan Merah tersebut.

## Warisan untuk Premier League: Standar Baru dan Peluang Baru

Kepergian Guardiola bukan sekadar kehilangan bagi Manchester City, tetapi juga bagi Premier League secara keseluruhan. Dia telah menaikkan standar. Pelatih mana pun yang datang setelahnya—baik itu penggantinya di City atau manajer di klub lain—akan diukur dengan standar yang ia tetapkan.

Dampaknya sudah terasa. Pelatih-pelatih muda seperti Mikel Arteta (Arsenal), Andoni Iraola (Bournemouth), dan bahkan Ange Postecoglou (Tottenham) mengadopsi prinsip-prinsip sepak bola posisional yang dipopulerkan Guardiola. Dia telah menciptakan sebuah ekosistem di mana penguasaan bola dan pressing tinggi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun, dari sudut pandang suporter rival, kepergiannya adalah sebuah peluang. Ini adalah akhir dari mimpi buruk. Pintu persaingan kembali terbuka lebar. Tanpa Guardiola, Premier League mungkin akan kembali ke masa di mana kejutan lebih sering terjadi, di mana tim mid-table bisa mengalahkan raksasa, dan di mana perebutan gelar tidak terasa seperti perlombaan yang sudah ditentukan.

Seperti yang dikatakan oleh seorang suporter Arsenal kepada BBC, “Ini seperti nafas segar. Sekarang, mari kita lihat apakah City masih sama tanpa dia. Ini adalah awal dari era baru yang lebih adil.” Ketidakpastian adalah bumbu yang membuat sepak bola begitu menarik, dan Guardiola telah menghilangkan bumbu itu selama bertahun-tahun.

## Kesimpulan SBH Nation: Sebuah Perpisahan yang Pahit Manis

Bagi kami di apa yang dirasakan suporter rival ini sangat manusiawi. Rasa frustrasi karena harus menyaksikan tim kesayangan Anda dikalahkan secara sistematis oleh sebuah mesin sepak bola yang nyaris sempurna adalah hal yang wajar. Ungkapan “senang melihatnya pergi” bukanlah sebuah cacian, melainkan sebuah pengakuan akan pengaruh luar biasa yang ia miliki.

Pep Guardiola pergi sebagai salah satu manajer terhebat yang pernah menginjakkan kaki di Premier League. Ia meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Bagi rival, ia adalah antagonis yang sempurna—sosok yang membuat Anda membenci sepak bola modern namun secara diam-diam membuat Anda jatuh cinta pada keindahan taktik yang ia ciptakan.

Kini, setelah badai berlalu, pertanyaan besarnya adalah: siapa yang akan mengisi kekosongan yang ia tinggalkan? Dan akankah ada yang mampu meniru standar kesempurnaan yang telah ia bangun di Manchester City?

Pertanyaan untuk Sobat SBH Nation: Apakah Anda setuju dengan sentimen suporter rival yang mengaku “lega” dengan kepergian Pep Guardiola? Atau justru Premier League akan kehilangan daya tariknya tanpanya? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

SBH NATION BATTLEGROUND

SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?

VS

Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel