Tiga Raksasa Liga 1 Kompak Larang Flare: Persib, Persebaya, Persija Teken Pakta Integritas
- Persib, Persebaya, dan Persija sepakat melarang flare di laga terakhir Liga 1 2025/2026.
- Langkah ini diambil untuk menghindari sanksi berat dari PSSI dan menjaga keamanan stadion.
- Keputusan ini menjadi preseden penting bagi klub-klub lain di Indonesia untuk menertibkan suporter.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
SBH.co.id – Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi di sepak bola Indonesia, tiga klub papan atas Liga 1, yaitu Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta, secara resmi dan kompak mengumumkan larangan total penggunaan flare atau suar di laga terakhir musim 2025/2026. Keputusan ini diumumkan secara bersamaan melalui kanal resmi masing-masing klub pada Rabu (20/5/2026), menandai sebuah era baru dalam upaya menertibkan kultur suporter di Indonesia.
Langkah ini bukanlah tanpa alasan. Musim ini, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah mengeluarkan aturan yang sangat ketat terkait penggunaan flare. Sanksinya tidak main-main: mulai dari denda finansial yang besar hingga pengurangan poin dan larangan bertanding dengan penonton. Bagi tiga klub yang memiliki basis suporter paling fanatik dan masif ini, risiko tersebut terlalu besar untuk diabaikan, terutama di laga penentu yang bisa menentukan posisi akhir mereka di klasemen.
## Kronologi dan Isi Larangan Flare
Keputusan ini muncul setelah serangkaian pertemuan darurat antara manajemen klub dan koordinator suporter. Dalam pernyataan bersama yang dirilis, ketiga klub menegaskan bahwa penggunaan flare dalam bentuk apa pun—termasuk suar, kembang api, dan smoke bomb—dilarang keras di dalam dan sekitar stadion pada pertandingan terakhir mereka.
Pelatih Persib, pelatih Persebaya, dan pelatih Persija secara terpisah menyampaikan pesan yang sama kepada para pemain dan suporter. Mereka meminta agar pertandingan berjalan kondusif dan fokus pada permainan di lapangan, bukan pada atraksi yang berbahaya di tribun.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Bonek dan Viking serta The Jakmania. Semua sepakat bahwa keselamatan dan kelangsungan kompetisi adalah prioritas utama. Tidak ada toleransi untuk flare,” ujar perwakilan manajemen Persebaya dalam konferensi pers.
Larangan ini tidak hanya bersifat imbauan. Klub-klub tersebut telah menyiapkan tim keamanan internal dan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan pemeriksaan ketat di setiap pintu masuk stadion. Suporter yang kedapatan membawa flare akan langsung diamankan dan dilarang masuk.
## Analisis Dampak: Antara Tradisi dan Regulasi
Keputusan ini memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat sepak bola Indonesia. Di satu sisi, flare sudah menjadi bagian dari kultur suporter di Indonesia sejak era 1990-an. Bagi sebagian suporter, flare adalah simbol identitas dan euforia. Namun, di sisi lain, flare juga sering menjadi sumber masalah: mulai dari mengganggu pandangan pemain, merusak rumput stadion, hingga menyebabkan kebakaran dan cedera.
Dari sudut pandang regulasi, langkah Persib, Persebaya, dan Persija adalah langkah yang sangat tepat. FIFA dan AFC sudah lama melarang penggunaan flare di stadion. Indonesia, yang ingin terus meningkatkan citra sepak bolanya di mata dunia, harus mengikuti standar internasional ini.
“Ini adalah langkah berani. Tiga klub besar ini menunjukkan bahwa mereka lebih memilih kepentingan jangka panjang dibandingkan sensasi sesaat. Jika ini berhasil, klub-klub lain pasti akan mengikuti jejak mereka,” analisis pengamat sepak bola nasional, Andi Mulyadi, kepada SBH.co.id.
Namun, ada juga kekhawatiran bahwa larangan ini justru akan memicu protes dari suporter garis keras. Beberapa kelompok suporter merasa bahwa identitas mereka sedang “dikriminalisasi”. Oleh karena itu, manajemen klub harus pintar-pintar mengelola ekspektasi dan memberikan edukasi yang masif.
## Implikasi ke Depan: Era Baru Suporter Indonesia?
Kesepakatan ini bisa menjadi titik balik bagi sepak bola Indonesia. Selama ini, klub-klub besar sering kali “membiarkan” suporternya menggunakan flare dengan dalih sudah menjadi tradisi. Namun, dengan adanya sanksi tegas dari PSSI, klub-klub kini tidak punya pilihan selain bertindak.
Persib, Persebaya, dan Persija adalah barometer sepak bola Indonesia. Jika mereka berhasil menjalankan larangan ini dengan sukses, maka klub-klub seperti Arema FC, PSM Makassar, dan Bali United kemungkinan besar akan mengadopsi kebijakan serupa di musim depan.
Selain itu, ini juga menjadi ujian bagi koordinator suporter. Apakah mereka mampu mengendalikan massa dan mengganti atraksi flare dengan koreografi atau nyanyian yang lebih aman? Jika ya, maka sepak bola Indonesia akan menjadi lebih ramah keluarga dan layak ditonton oleh semua kalangan.
“Kami tidak melarang suporter untuk bersenang-senang. Tapi caranya harus aman. Gunakan bendera, spanduk, atau nyanyian. Itu jauh lebih keren daripada flare yang bisa melukai orang,” tegas perwakilan suporter Persija dalam sebuah wawancara.
## Pertanyaan Interaktif untuk Pembaca
Menurut Anda, apakah larangan flare ini adalah langkah yang tepat untuk memajukan sepak bola Indonesia, atau justru menghilangkan “jiwa” dari suporter? Apakah Anda setuju dengan keputusan Persib, Persebaya, dan Persija? Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar! Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-teman pecinta bola lainnya.
Cek juga: Klasemen Liga 1 Terkini dan jadwal pertandingan selanjutnya hanya di SBH Nation.
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


