Tony D'Amico Kandidat Terkuat Jadi Direktur Olahraga Baru AS Roma
- Tony D'Amico, direktur olahraga Atalanta, menjadi favorit untuk menggantikan posisi direktur olahraga AS Roma yang kini kosong.
- Kedatangan D'Amico bisa mengubah strategi transfer Roma, yang selama ini dikenal royal, menjadi lebih cermat dan berbasis data seperti di Atalanta.
- Jika jadi, ini akan menjadi gebrakan besar karena D'Amico selama ini identik dengan keberhasilan Atalanta di kancah Serie A dan Eropa.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Kabar mengejutkan datang dari Ibukota Italia. AS Roma dilaporkan tengah serius memburu Tony D’Amico untuk mengisi posisi direktur olahraga mereka yang saat ini lowong. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen Giallorossi ingin mengubah haluan strategi klub, dari yang sebelumnya royal di bursa transfer menjadi lebih cerdas dan efisien.
Siapa sebenarnya Tony D’Amico? Kenapa dia begitu diidamkan oleh klub sekelas Roma? Mari kita bedah lebih dalam.
Profil Tony D’Amico: Arsitek di Balik Revolusi Atalanta
Bagi penggemar Serie A sejati, nama Tony D’Amico bukanlah sosok asing. Pria berusia 47 tahun ini telah menjadi salah satu figur paling berpengaruh di balik kesuksesan Atalanta dalam satu dekade terakhir. Bersama dengan direktur utama Luca Percassi dan pelatih Gian Piero Gasperini, D’Amico membentuk trisula yang membuat La Dea mampu bersaing di papan atas Serie A dan bahkan tampil memukau di Liga Champions.
Keunikan D’Amico terletak pada pendekatannya. Ia bukan tipe direktur olahraga yang gemar mengeluarkan uang besar untuk pemain bintang. Sebaliknya, ia adalah seorang scout ulung yang mampu menemukan permata tersembunyi di liga-liga kecil Eropa atau bahkan dari divisi bawah Italia. Pemain seperti Robin Gosens, Josip Ilicic, hingga Rasmus Hojlund adalah produk dari jaringannya yang luas dan nalurinya yang tajam.
Di Atalanta, D’Amico membangun sistem perekrutan yang berbasis data dan potensi jangka panjang, bukan sekadar nama besar. Filosofi “beli murah, jual mahal” atau buy low, sell high dijalankannya dengan sangat efektif. Atalanta mampu mencetak keuntungan besar dari penjualan pemain setiap musimnya tanpa mengorbankan kualitas tim secara keseluruhan. Ini adalah model bisnis yang sangat ingin ditiru oleh banyak klub, termasuk Roma.
Mengapa Roma Membutuhkan Sosok Seperti D’Amico?
AS Roma dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai klub yang royal di bursa transfer. Di era kepemilikan Dan Friedkin, Roma memang tidak segan mengeluarkan dana besar untuk pemain seperti Paulo Dybala, Romelu Lukaku, atau Tammy Abraham. Namun, strategi ini juga memiliki sisi gelap: gaji pemain yang membengkak dan risiko kerugian besar jika pemain tidak tampil sesuai ekspektasi.
Kondisi ini diperparah dengan aturan Financial Fair Play (FFP) yang semakin ketat. Roma harus bisa lebih kreatif dalam mengelola keuangan klub. Di sinilah peran seorang direktur olahraga seperti D’Amico menjadi krusial. Ia diharapkan bisa membawa budaya “Atalanta” ke Roma: cermat dalam berbelanja, berani menjual pemain di puncak harga, dan yang terpenting, membangun skuad yang berkelanjutan tanpa harus bergantung pada satu atau dua pemain bintang.
Selain itu, hubungan D’Amico dengan agen-agen top Eropa dan pengetahuannya tentang talenta muda di seluruh dunia bisa menjadi aset besar bagi Roma. Giallorossi butuh suntikan darah segar, pemain-pemain muda lapar prestasi yang bisa didatangkan dengan harga wajar, bukan pemain senior yang sudah menurun performanya.
Dampak Langsung pada Bursa Transfer Roma
Jika D’Amico benar-benar diresmikan, kita bisa melihat perubahan drastis dalam strategi transfer Roma pada bursa musim panas mendatang. Beberapa prediksi yang bisa kita buat antara lain:
- Penjualan Pemain Bintang: Pemain-pemain dengan gaji tinggi yang performanya sedang tidak konsisten, seperti Lorenzo Pellegrini atau bahkan Paulo Dybala, bisa saja masuk dalam daftar jual. D’Amico tidak akan segan melepas ikon klub demi keseimbangan keuangan tim.
- Perburuan Talenta Muda: Roma akan lebih agresif merekrut pemain U-23 dari liga-liga seperti Ligue 1, Bundesliga, atau bahkan Serie B. Kita mungkin akan melihat lebih banyak pemain asal Skandinavia, Belgia, atau Amerika Selatan yang direkrut dengan harga miring.
- Akhir dari Fase “Membuang Uang”: Kebiasaan membayar mahal untuk pemain yang sudah tidak terpakai di klub lain kemungkinan besar akan dihentikan. D’Amico akan fokus pada pemain yang memiliki potensi resale value tinggi.
Pertanyaan Besar: Bisakah D’Amico Beradaptasi?
Meski kredensialnya tak diragukan, ada satu pertanyaan besar yang menggantung: bisakah D’Amico sukses di lingkungan yang berbeda dengan Atalanta? Di Bergamo, ia memiliki kebebasan penuh dan dukungan penuh dari manajemen. Sementara di Roma, tekanan dari suporter dan media sangatlah besar. Kegagalan di bursa transfer bisa langsung menjadi sorotan tajam.
Selain itu, D’Amico juga harus bisa bekerja sama dengan pelatih Roma saat ini, Daniele De Rossi. Keduanya harus memiliki visi yang sama tentang filosofi bermain dan tipe pemain yang dibutuhkan. Jika tidak, gesekan internal bisa terjadi dan justru merugikan klub.
Namun, jika D’Amico berhasil, ini bisa menjadi awal dari era keemasan baru bagi AS Roma. Klub tidak hanya akan menjadi tim yang kompetitif, tetapi juga sehat secara finansial dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Ini adalah langkah berani dari Dan Friedkin. Kini, kita tinggal menunggu apakah negosiasi akan berhasil dan apakah D’Amico siap menerima tantangan besar untuk membangun kembali Roma dari fondasinya.
Menurut kalian, apakah Tony D’Amico adalah sosok yang tepat untuk AS Roma? Atau lebih baik klub mencari figur lain yang lebih berpengalaman di klub besar? Tulis pendapatmu di kolom komentar di bawah!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


