UEFA Hentikan Pertandingan Tim Besar vs Tim Kecil di Kualifikasi Piala Dunia dan Euro
- UEFA mengubah format kualifikasi Piala Dunia dan Euro mulai 2028-29.
- Tim besar tidak akan lagi bertemu tim kecil seperti San Marino atau Andorra.
- Sistem Swiss diterapkan untuk menciptakan pertandingan yang lebih kompetitif dan menarik.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Pernahkah Anda bosan menonton pertandingan kualifikasi Piala Dunia atau Euro yang hasilnya sudah bisa ditebak sejak menit pertama? Ketika tim raksasa Eropa seperti Jerman atau Inggris menghadapi negara mikro seperti San Marino, Andorra, atau Malta, pertandingan seringkali berubah menjadi sesi latihan dengan skor telak 8-0 atau 10-0. Hal ini tidak hanya membosankan bagi penonton, tetapi juga tidak adil bagi tim-tim kecil yang hanya menjadi bulan-bulanan.
Kini, kabar gembira datang dari markas besar UEFA di Nyon, Swiss. Pada pertemuan Komite Eksekutif UEFA pada 20 Mei 2026, diputuskan sebuah revolusi besar dalam format kualifikasi untuk turnamen pria utama Eropa, yaitu Piala Dunia FIFA dan Kejuaraan Eropa UEFA (Euro). Mulai musim 2028-29, format kualifikasi akan dirombak total dengan mengadopsi elemen dari sistem Swiss yang selama ini sukses digunakan di turnamen catur dan beberapa kompetisi olahraga lainnya.
Akhir dari Pertandingan Timpang (Mismatch)
Selama beberapa dekade, salah satu kritik terbesar terhadap kualifikasi turnamen internasional di Eropa adalah adanya kesenjangan kualitas yang sangat lebar. Tim-tim seperti San Marino, yang populasinya hanya sekitar 30.000 jiwa, harus berhadapan dengan negara adidaya sepak bola dengan populasi puluhan juta. Hasilnya? Kekalahan beruntun dengan selisih gol yang memalukan. San Marino, misalnya, pernah mencatat rekor kekalahan terbesar saat dibantai 13-0 oleh Jerman pada tahun 2006.
Dengan format baru, pertandingan-pertandingan seperti ini akan menjadi sejarah. UEFA secara resmi menyatakan bahwa “tim-tim besar Eropa tidak akan lagi menghadapi pertandingan timpang melawan tim-tim kecil seperti San Marino atau Andorra dalam kualifikasi Piala Dunia dan Euro.” Ini adalah langkah berani yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas permainan, daya tarik komersial, dan pengalaman penonton.
Keputusan ini diambil setelah melalui studi panjang mengenai kepadatan jadwal dan ketidakseimbangan kompetisi. Direktur Kompetisi UEFA, Giorgio Marchetti, menyatakan dalam konferensi pers bahwa “kami ingin setiap pertandingan kualifikasi memiliki nilai tanding yang tinggi. Tidak ada lagi laga yang hanya menjadi formalitas.”
Bagaimana Sistem Swiss Bekerja?
Sistem Swiss, yang akan diadopsi mulai musim 2028-29, pada dasarnya adalah sistem liga yang dinamis. Alih-alih dibagi ke dalam grup-grup kecil yang sudah ditentukan sebelumnya berdasarkan pot, semua tim akan ditempatkan dalam satu papan peringkat besar. Mereka akan menjalani sejumlah pertandingan (biasanya 8-10 pertandingan) melawan lawan yang memiliki kekuatan setara berdasarkan peringkat terkini.
Berikut adalah cara kerjanya secara sederhana:
- Pengundian Awal: Semua tim akan ditempatkan dalam satu pool. Tidak ada lagi grup tetap.
- Pertandingan Berpasangan: Setiap putaran, tim akan dipasangkan dengan lawan yang memiliki peringkat serupa. Misalnya, tim peringkat 1 akan bertemu tim peringkat 2, tim peringkat 5 akan bertemu tim peringkat 6, dan seterusnya.
- Dinamis: Setelah setiap putaran, peringkat berubah berdasarkan hasil pertandingan. Tim yang menang akan naik peringkat dan bertemu lawan yang lebih kuat di putaran berikutnya. Tim yang kalah akan turun peringkat dan bertemu lawan yang lebih lemah.
- Tujuan Akhir: Setelah semua pertandingan selesai, peringkat akhir akan menentukan siapa yang lolos langsung ke turnamen final dan siapa yang harus melalui babak play-off.
Keuntungan utama dari sistem ini adalah setiap pertandingan terasa seperti final. Tidak ada lagi laga di mana tim besar bisa “bermalas-malasan” karena lawan terlalu lemah. Setiap kemenangan atau kekalahan akan langsung memengaruhi peringkat dan lawan di pertandingan berikutnya.
Dampak bagi Tim Nasional Indonesia dan Asia
Meskipun keputusan ini murni untuk kawasan Eropa, dampaknya bisa terasa secara global, termasuk bagi Timnas Indonesia. Dengan format baru, tim-tim Eropa akan lebih sering bertemu dengan lawan yang seimbang, sehingga performa mereka di turnamen final seperti Piala Dunia diperkirakan akan lebih konsisten dan berkualitas.
Bayangkan jika Jerman atau Prancis hanya bertemu tim setara selama kualifikasi, mereka tidak akan lagi mengalami “kejutan” saat harus beradaptasi dengan kekuatan lawan yang lebih merata di Piala Dunia. Ini berarti persaingan di Piala Dunia akan semakin ketat. Bagi Indonesia yang mungkin bermimpi lolos ke Piala Dunia, ini adalah kabar baik karena level permainan lawan akan lebih terukur.
Selain itu, keputusan UEFA ini bisa menjadi preseden bagi konfederasi lain, termasuk AFC. Mungkin suatu hari nanti, kualifikasi Piala Dunia zona Asia juga akan menerapkan sistem Swiss untuk menghindari pertandingan timpang antara Jepang atau Korea Selatan melawan negara-negara kecil di Asia Tenggara atau Asia Selatan.
Reaksi Para Pemain dan Pelatih
Keputusan ini menuai beragam reaksi. Pelatih tim nasional Jerman, Julian Nagelsmann, menyambut baik perubahan ini. Dalam wawancara dengan media Jerman, ia mengatakan, “Ini adalah langkah yang sangat cerdas. Kami tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh hanya untuk menang 10-0. Setiap pertandingan akan menjadi ujian nyata bagi skuad kami.”
Sementara itu, pelatih San Marino, Roberto Cevoli, justru merasa kecewa. “Ini adalah pukulan finansial yang berat bagi kami. Pertandingan melawan tim besar adalah satu-satunya kesempatan kami untuk mendapatkan sorotan media dan pendapatan dari hak siar. Sekarang kami hanya akan bertemu sesama tim kecil, yang berarti lebih sedikit penonton dan lebih sedikit uang.”
Namun, UEFA berjanji akan memberikan kompensasi finansial kepada tim-tim kecil yang kehilangan pendapatan dari pertandingan besar. Dana solidaritas akan ditingkatkan untuk memastikan perkembangan sepak bola di negara-negara kecil tetap berjalan.
Jadwal Implementasi dan Masa Depan
Perubahan ini akan mulai berlaku untuk siklus kualifikasi Piala Dunia 2030 dan Euro 2032, yang dimulai pada musim gugur 2028. UEFA berencana untuk menguji coba sistem ini pada kompetisi junior dan wanita terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada celah teknis.
Dengan format baru, jumlah pertandingan kualifikasi diperkirakan akan berkurang, sehingga memberikan lebih banyak ruang bagi kalender internasional untuk kompetisi klub seperti Liga Champions dan liga domestik. Ini juga menjadi solusi atas keluhan para pemain tentang padatnya jadwal pertandingan.
Apa pendapat Anda tentang perubahan besar ini? Apakah Anda setuju bahwa pertandingan timpang seperti San Marino vs Jerman harus dihentikan, atau justru sebaliknya, Anda akan merindukan momen-momen bersejarah ketika tim kecil mencetak gol ke gawang tim besar? Tulis pendapat Anda di kolom komentar di bawah!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


