Apa Itu PSxG (Post-Shot Expected Goals)?
- PSxG adalah versi lanjutan dari xG yang hanya menghitung probabilitas gol setelah bola sudah ditendang.
- Metrik ini mengukur kualitas finishing penyerang dan kemampuan penyelamatan kiper secara lebih akurat.
- Contoh: Tembakan dari titik penalti memiliki xG ~0.79, tetapi tendangan lemah ke tengah gawang bisa memiliki PSxG hanya 0.1.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Definisi PSxG (Post-Shot Expected Goals)
PSxG (Post-Shot Expected Goals) adalah metrik statistik sepak bola yang mengukur probabilitas sebuah tembakan menghasilkan gol, dengan satu syarat kritis: perhitungannya hanya dimulai setelah bola meninggalkan kaki penembak. Cara kerjanya: algoritma menganalisis kecepatan, arah, dan lokasi bola yang sudah ditendang, lalu membandingkannya dengan ribuan tembakan historis yang serupa. Contoh paling terkenal: StatsBomb dan Opta adalah penyedia data utama yang mempopulerkan metrik ini untuk menilai performa kiper dan penembak.
Inilah yang membedakannya dari expected-goals-xg biasa. xG tradisional menjawab: “Seberapa besar kemungkinan tembakan dari posisi ini menjadi gol?” PSxG menjawab pertanyaan yang jauh lebih tajam: “Mengingat cara bola ini ditendang, seberapa besar kemungkinannya masuk?” Perbedaan ini bukan sekadar teknis — ia mengubah seluruh narasi analisis. Sebuah tembakan dari dalam kotak penalti (xG tinggi) yang melambung lemah ke arah kiper akan memiliki nilai PSxG yang sangat rendah. Sebaliknya, tendangan keras menyudut dari luar kotak (xG rendah) bisa memiliki PSxG yang jauh lebih tinggi. PSxG, pada intinya, adalah cerita tentang apa yang terjadi setelah keputusan menendang diambil.
Sejarah & Evolusi
PSxG lahir dari frustrasi analis terhadap keterbatasan xG tradisional dalam menilai kiper. Sekitar tahun 2015-2017, saat xG sudah menjadi arus utama, sebuah pertanyaan kritis muncul: Bagaimana cara membedakan kiper yang benar-benar hebat dari kiper yang hanya beruntung menghadapi tembakan mudah? xG biasa gagal menjawabnya karena tidak memperhitungkan kualitas tembakan itu sendiri.
Perusahaan analitik StatsBomb menjadi pionir dengan secara resmi memperkenalkan dan mematenkan metodologi PSxG mereka. Mereka menyadari bahwa untuk menilai penyelamatan, konteksnya harus bergeser dari “lokasi tembakan” ke “trajektori bola”. Opta kemudian mengikutinya dengan metrik “xG on Target” yang serupa. Evolusi ini didorong oleh ledakan data pelacakan (tracking data) yang mampu menangkap kecepatan dan sudut bola dengan presisi tinggi. PSxG bukan lagi sekadar angka — ia menjadi alat forensik untuk mengadili momen-momen kritis yang sering kali menentukan hasil pertandingan.
Implementasi Taktis di Lapangan
PSxG mengubah cara kita melihat duel penyerang vs kiper dari sebuah seni menjadi sains yang terukur. Implementasinya dimulai dari kamera yang melacak kecepatan dan rotasi bola setelah ditendang. Data ini kemudian dimasukkan ke dalam model machine learning yang telah dilatih dengan jutaan tembakan. Outputnya adalah angka antara 0 dan 1 yang merepresentasikan “kualitas tembakan”.
Nilai PSxG yang tinggi berarti penyerang melakukan finishing dengan sempurna — bola ditempatkan di sudut mati dengan kecepatan optimal. Nilai PSxG yang rendah mengindikasikan tembakan yang mudah bagi kiper. Inilah mengapa PSxG menjadi standar emas baru untuk mengevaluasi kiper. Sebuah metrik turunannya, “Goals Prevented”, dihitung dengan menjumlahkan selisih antara PSxG yang dihadapi kiper dengan gol yang benar-benar terjadi. Kiper dengan Goals Prevented positif berarti dia menyelamatkan lebih banyak gol daripada yang diharapkan statistik, sebuah tanda keunggulan yang nyata.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Aturan Dasar | Hanya menghitung probabilitas gol setelah bola ditendang. Faktor utama: lokasi bola relatif terhadap gawang, kecepatan, dan arah (trajektori). |
| Siapa yang Terlibat | Utamanya digunakan oleh analis tim untuk menilai performa kiper dan efektivitas finishing penyerang. Juga dipakai scout untuk merekrut kiper yang underrated. |
| Zona Lapangan | Paling relevan di area 16 meter ke gawang, di mana kualitas tembakan sangat menentukan. Juga krusial untuk tendangan penalti dan tembakan satu lawan satu dengan kiper. |
Contoh Nyata di Dunia Sepak Bola
PSxG mengungkap kebenaran yang sering tersembunyi di balik statistik gol yang sederhana. Ambil contoh Alisson Becker di Liverpool. Musim 2019/2020, dia secara konsisten memiliki nilai Goals Prevented yang tinggi menurut PSxG. Angka itu membuktikan bahwa penyelamatan-penyelamatan spektakulernya bukan kebetulan, melainkan refleksi dari kemampuan reaksi dan posisi tubuh yang superior. Di sisi penyerang, Harry Kane kerap memiliki rasio Gol/PSxG di atas 1, yang menegaskan reputasinya sebagai finisher klinis yang mampu mengubah peluang biasa menjadi gol.
Kasus sebaliknya juga terlihat. Seorang kiper mungkin tampak buruk karena kebobolan banyak gol, tetapi data PSxG bisa membelanya dengan menunjukkan bahwa dia selalu dihujani tembakan berkualitas tinggi (PSxG per tembakan yang tinggi). Manchester City di bawah Pep Guardiola adalah contoh tim yang, berkat dominasi bola dan pressing tinggi, kerap memaksa lawan melakukan tembakan terburu-buru dengan PSxG rendah. Data ini memvalidasi efektivitas gegenpressing dan high-press mereka dalam menciptakan pertahanan proaktif.
Relevansi bagi Sepak Bola Indonesia
PSxG adalah alat yang bisa mengoreksi bias penilaian kiper di Liga 1. Berapa kali kita menyalahkan kiper timnas Indonesia atau klub Liga 1 karena kebobolan, tanpa mempertimbangkan bahwa pertahanan di depannya membiarkan lawan menendang dari titik mati? Dengan PSxG, PSSI dan klub-klub bisa melakukan evaluasi yang lebih adil. Kiper yang tampak biasa-biasa saja mungkin sebenarnya adalah aset berharga yang selalu menghadapi situasi mustahil.
Untuk Timnas Indonesia, penerapan analisis PSxG bisa menjadi pembeda dalam persiapan menghadapi tim kuat Asia. Analis bisa mempelajari pola tembakan lawan: apakah mereka cenderung menghasilkan tembakan dengan PSxG tinggi? Dari zona mana? Data ini bisa menginformasikan latihan spesifik bagi kiper dan skema low-block pertahanan. Di level Liga 1, meski data pelacakan penuh masih terbatas, memulai edukasi tentang konsep ini kepada pelatih dan ofisial adalah langkah pertama menuju sepak bola yang lebih cerdas dan berbasis bukti.
FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang PSxG (Post-Shot Expected Goals)
Apa perbedaan utama PSxG dengan xG biasa? xG mengukur kualitas peluang sebelum tembakan, berdasarkan lokasi, bagian tubuh, dan situasi assist. PSxG mengukur kualitas tembakan setelah bola ditendang, dengan mempertimbangkan kecepatan, arah, dan penempatan bola. Singkatnya, xG menilai keputusan penyerang untuk menembak, sedangkan PSxG menilai eksekusi teknis dari tembakan itu sendiri dan respons kiper.
Kapan PSxG paling efektif digunakan? PSxG paling efektif digunakan untuk mengevaluasi performa kiper dan kualitas finishing penyerang dalam jangka panjang. Metrik ini kurang cocok untuk dianalisis per pertandingan tunggal karena variansnya tinggi, tetapi dalam sampel 20-30 pertandingan, PSxG memberikan gambaran sangat akurat tentang siapa kiper yang benar-benar hebat dan penyerang mana yang paling dingin di depan gawang.
Siapa pelatih atau tim yang paling dikenal dengan pemanfaatan PSxG? Liverpool di era Jürgen Klopp dan Manchester City di bawah Pep Guardiola adalah contoh tim elit yang secara intensif menggunakan data PSxG dalam rekrutmen dan analisis pertandingan. Mereka memakainya untuk mengidentifikasi kiper yang undervalued (seperti rekrutan Alisson) dan untuk menganalisis kelemahan finishing lawan dalam sesi persiapan taktis.
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain Liga 1 racikan tim SBH Nation sekarang!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


