Apa Itu Pressing Forward? Definisi Lengkap & Contoh dalam Sepak Bola | — SBH.co.id
posisi
calendar_today 11 April 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 11 Apr 2026

Apa Itu Pressing Forward? Definisi Lengkap & Contoh dalam Sepak Bola

format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Definisi Pressing Forward

Dalam arsitektur taktis sepak bola modern, tidak ada peran yang lebih misunderstood—dan sekaligus lebih vital—daripada Pressing Forward. Istilah ini, yang kerap diterjemahkan secara naif sebagai “penyerang yang suka menekan,” sejatinya adalah sebuah spesialisasi posisi yang menuntut pemahaman spasial, kebugaran atletis kelas dunia, dan kecerdasan membaca transisi lawan.

Pressing Forward adalah tipe penyerang yang bertugas sebagai lini pertahanan pertama. Ia bukan sekadar pemain depan yang berlari mengejar bola tanpa arah. Sebaliknya, ia adalah seorang “triggerer”—pemicu yang menentukan kapan dan bagaimana tekanan kolektif tim dimulai. Dalam skema high-press, Pressing Forward biasanya memulai gerakan menekan dengan memblokir jalur umpan ke bek tengah atau gelandang bertahan lawan, memaksa mereka melakukan kesalahan atau mengirim bola ke area yang sudah disiapkan rekan setimnya.

Posisi ini berbeda secara fundamental dengan target-man yang lebih mengandalkan fisik duel udara, atau poacher yang hanya menunggu di kotak penalti. Pressing Forward adalah kombinasi antara pekerja keras, pengatur ritme, dan eksekutor. Ia harus memiliki kecepatan akselerasi, stamina yang sanggup bertahan 90 menit, serta insting untuk membaca kapan tekanan harus diperketat dan kapan harus mundur mengatur ulang formasi.

Sejarah & Evolusi

Konsep penyerang yang menekan bukanlah penemuan abad ke-21. Akarnya bisa dilacak hingga era Total Football Rinus Michels di Ajax dan Belanda pada 1970-an. Johan Cruyff, sebagai false nine sekaligus pemimpin tekanan, sering menjadi contoh awal dari peran ini. Namun, istilah “Pressing Forward” baru benar-benar mengkristal di era Guardiola dan Klopp.

Guardiola, dengan filosofi gegenpressing-nya yang lebih terstruktur, mempopulerkan peran ini di Barcelona melalui Lionel Messi yang bermain sebagai false nine. Messi tidak hanya menekan, tetapi juga membaca kapan harus memancing bek lawan keluar dari posisi. Klopp kemudian menyempurnakannya di Borussia Dortmund dan Liverpool. Di tangannya, Pressing Forward menjadi pusat dari sistem heavy-metal football: seorang pemain seperti Roberto Firmino yang rela berlari 12 kilometer per pertandingan, menekan bek dan kiper lawan, sambil tetap produktif sebagai pencetak gol.

Di era modern, peran ini semakin terdefinisi. Pelatih seperti Julian Nagelsmann dan Roberto De Zerbi menuntut Pressing Forward mereka untuk tidak hanya menekan, tetapi juga menjadi “pembaca” pertama dari formasi lawan. Mereka harus bisa membedakan kapan lawan dalam fase build-up yang lemah atau kuat. Evolusi ini menjadikan Pressing Forward sebagai salah satu posisi paling mahal di bursa transfer—karena kombinasi skill yang dibutuhkan sangat langka.

Implementasi Taktis di Lapangan

Secara taktis, Pressing Forward bekerja dalam tiga fase utama: identifikasi, eksekusi, dan transisi. Fase identifikasi terjadi saat kiper lawan memegang bola atau bek tengah mulai membangun serangan. Pressing Forward harus membaca celah—apakah lawan memiliki tiga bek atau dua? Apakah gelandang bertahan mereka drop deep? Dari situ, ia memutuskan sudut tekanan.

Tabel di bawah ini membandingkan tuntutan Pressing Forward dengan peran penyerang lain dalam konteks statistik taktis per 90 menit:

ParameterPressing ForwardTarget ManPoacher
Jarak tempuh (km)11-129-108-9
Tekanan ke bek (kali)25-3510-155-10
Intersep di sepertiga akhir2-40-10-1
Assist + Gol per 900.4-0.70.3-0.60.6-0.9
Akurasi umpan pendek85%+70-80%65-75%

Data di atas menunjukkan bahwa Pressing Forward bukanlah mesin gol murni. Ia adalah penyumbang asis dan pengganggu yang menciptakan ruang bagi rekan setimnya. Dalam skema 4-3-3, Pressing Forward biasanya dipasang di tengah, dengan dua sayap yang siap memanfaatkan bola hasil tekel atau umpan terobosan dari tekanan yang berhasil.

Salah satu momen krusial adalah saat transisi negatif—ketika tim kehilangan bola. Pressing Forward harus segera melakukan counter-press dalam 3-5 detik pertama. Jika ia gagal, lawan bisa dengan mudah melewati lini tengah. Inilah yang membedakan Pressing Forward kelas dunia dengan pemain biasa.

Contoh Nyata di Dunia Sepak Bola

Roberto Firmino di Liverpool adalah arketipe modern. Ia bukan pencetak gol terbanyak, tetapi tanpa dia, sistem Klopp tidak akan berfungsi. Firmino mampu menekan tiga bek sekaligus, memaksa mereka mengirim bola panjang yang mudah diantisipasi Virgil van Dijk dan kawan-kawan. Musim 2019-20, ia mencatat 43 tekanan per 90 menit—tertinggi di antara penyerang Premier League.

Di konteks yang lebih baru, Darwin Núñez di Liverpool atau Rasmus Højlund di Manchester United adalah contoh Pressing Forward yang masih dalam proses. Keduanya memiliki kecepatan dan tenaga, tetapi konsistensi dalam membaca tekanan masih perlu diasah. Sementara itu, di La Liga, Antoine Griezmann di Atlético Madrid adalah contoh sempurna dari Pressing Forward yang juga bisa menjadi kreator.

Di Asia, pemain seperti Mehdi Taremi (Iran) menunjukkan bagaimana Pressing Forward bisa efektif di level internasional. Taremi tidak hanya menekan, tetapi juga sering turun ke lini tengah untuk membantu build-up, membuatnya sulit di-marking.

Relevansi bagi Sepak Bola Indonesia

Di sinilah kita harus jujur: sepak bola Indonesia masih sangat jauh dari memahami dan mengimplementasikan peran Pressing Forward secara konsisten. Liga 1, dengan segala dinamikanya, masih didominasi oleh penyerang tipe target man atau poacher—pemain yang menunggu bola di kotak penalti. Sistem high-press yang terstruktur masih menjadi barang mewah, karena banyak pelatih lokal yang belum paham betul tentang fase transisi dan positioning.

Namun, era Shin Tae-yong membawa secercah harapan. Pelatih asal Korea Selatan itu mulai menerapkan elemen-elemen pressing sejak Piala AFF 2020. Ia menuntut penyerang seperti Egy Maulana Vikri atau Witan Sulaeman untuk tidak hanya menyerang, tetapi juga menjadi bagian dari lini pertahanan pertama. Meski hasilnya belum sempurna—sering kali pressing hanya dilakukan secara individual tanpa koordinasi—ini adalah langkah awal yang penting.

Masalah utamanya adalah kebugaran. Pressing Forward butuh VO2 max di atas 60 ml/kg/menit untuk bertahan 90 menit. Di Liga 1, rata-rata pemain masih di kisaran 50-55. Ini bukan hanya soal latihan, tetapi juga soal nutrisi, recovery, dan manajemen beban. Klub seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung sudah mulai serius dalam hal ini, dengan mendatangkan pelatih fisik asing. Namun, untuk menghasilkan Pressing Forward lokal yang mumpuni, butuh investasi jangka panjang di akademi.

Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, mencetak Pressing Forward harus menjadi prioritas. Bukan hanya karena peran ini membuka ruang bagi pemain lain, tetapi juga karena ia adalah fondasi dari sepak bola modern yang berbasis penguasaan dan tekanan. Tanpa itu, kita akan terus terjebak dalam pola lama: bermain bertahan, mengandalkan serangan balik sporadis, dan berharap pada keajaiban individu.

FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang Pressing Forward

Apa perbedaan utama antara Pressing Forward dengan false nine? Pressing Forward lebih fokus pada tugas defensif dan memicu tekanan tim, sementara false nine lebih pada fleksibilitas menyerang—ia turun ke lini tengah untuk menciptakan overload numerik. Namun, dalam praktiknya, kedua peran ini sering tumpang tindih. Seorang false nine seperti Messi juga harus menekan, dan Pressing Forward seperti Firmino juga sering menjadi kreator serangan.

Apakah Pressing Forward bisa menjadi pencetak gol utama tim? Tergantung sistemnya. Di Liverpool, Firmino mencetak rata-rata 15 gol per musim—jumlah yang cukup, tetapi bukan yang tertinggi di tim. Namun, di klub lain seperti Inter Milan, Lautaro Martínez adalah Pressing Forward sekaligus top skor. Jadi, Pressing Forward bisa menjadi mesin gol jika ia memiliki penyelesaian akhir yang tajam. Namun, tugas utamanya tetaplah sebagai pemicu tekanan.

Mengapa Pressing Forward jarang ditemukan di sepak bola Indonesia? Karena peran ini menuntut kebugaran fisik dan pemahaman taktis yang tinggi. Banyak pemain Indonesia masih bermain secara instingtif, bukan berdasarkan sistem. Selain itu, pelatih lokal masih jarang yang menerapkan high-press terstruktur. Akibatnya, penyerang lebih sering diminta untuk “tunggu bola” daripada “cari bola.” Ini adalah masalah kultural dan edukasi taktis yang butuh waktu untuk diubah.

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain Liga 1 racikan tim SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel