DEVA
"Laskar Sultan Adam"
- Lahir pada 1954 di tengah semangat kemerdekaan, Martapura Deva FC awalnya bernama PS Martapura sebelum merger dengan Deva United pada 2021.
- Satu-satunya klub dari Kabupaten Banjar yang pernah merasakan atmosfer Liga 1 Indonesia setelah promosi gemilang pada musim 2021.
- Suporter setia Laskar Sultan Adam, yang dikenal dengan nama Banua Mania, memegang rekor sebagai kelompok ultras paling kreatif di Kalimantan dalam hal koreografi tifo bertema kerajaan.
⚡ ANALISIS MENDALAM SBH
Identitas & Asal Usul Klub
Martapura Deva FC lahir dari rahim sejarah panjang sepak bola di Kalimantan Selatan. Klub ini pertama kali didirikan pada tahun 1954 dengan nama Persatuan Sepakbola Martapura (PS Martapura) oleh sekelompok pemuda yang dipimpin oleh H. Anang Syahrani. Pendirian ini terjadi hanya sembilan tahun setelah kemerdekaan Indonesia, di saat semangat nasionalisme dan pembangunan daerah sedang menggelora. Kabupaten Banjar, yang beribukota di Martapura, membutuhkan representasi olahraga yang bisa membawa nama daerah ke kancah nasional. Pada masa itu, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan alat perjuangan identitas dan kebanggaan lokal.
Selama puluhan tahun, PS Martapura bergulat di kompetisi amatir Perserikatan dan kemudian Divisi Utama Liga Indonesia. Momen paling krusial dalam sejarah klub terjadi pada tahun 2021, ketika terjadi merger besar-besaran dengan klub Deva United FC yang berbasis di Banjarbaru. Merger ini bukan sekadar penggabungan nama, melainkan peleburan dua filosofi yang berbeda. PS Martapura dikenal dengan semangat tradisional dan akar rumput yang kuat, sementara Deva United membawa visi modernisasi dan profesionalisme. Hasilnya, lahirlah Martapura Deva FC dengan identitas baru yang menggabungkan singa (lambang Deva) dengan mahkota Kesultanan Banjar (lambang Martapura).
Perubahan paling mencolok terlihat pada logo klub yang diresmikan pada 2022. Logo baru ini menampilkan siluet Sultan Adam Al-Watsiq Billah, sultan ke-4 Kesultanan Banjar yang memerintah pada abad ke-18, dengan latar belakang warna biru laut dan emas. Warna biru melambangkan kedalaman Sungai Martapura yang menjadi urat nadi kehidupan warga Banjar, sementara emas melambangkan kejayaan Kesultanan Banjar. Julukan “Laskar Sultan Adam” pun lahir dari sini, menjadi simbol perlawanan dan semangat juang yang diwariskan oleh para pahlawan Banjar. Sejak saat itu, Martapura Deva FC tidak lagi sekadar klub sepak bola, melainkan penjelmaan identitas budaya Banjar yang diperjuangkan di atas lapangan hijau.
DNA Taktik & Filosofi Bermain
Sepanjang sejarahnya, Martapura Deva FC telah melalui berbagai metamorfosis taktik yang mencerminkan perkembangan sepak bola Indonesia. Pada era PS Martapura di Divisi Utama (1990-an hingga awal 2000-an), klub ini terkenal dengan formasi 4-4-2 klasik yang mengandalkan kekuatan fisik dan umpan-umpan panjang. Gaya bermain ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lapangan Stadion Demang Lehman yang saat itu masih berupa tanah. Pelatih legendaris H. M. Rusli (1970-1985) adalah arsitek di balik filosofi ini, yang mengajarkan bahwa sepak bola adalah pertarungan kehormatan, bukan sekadar hiburan.
Memasuki era modern pasca-merger, Martapura Deva FC mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel. Di bawah asuhan pelatih asal Portugal, Vitor Tinoco, klub ini mulai menerapkan formasi 4-3-3 dan 3-4-3 yang lebih ofensif. Tinoco, yang sebelumnya melatih di Liga Portugal, membawa filosofi “Total Football” versi Kalimantan, di mana setiap pemain dituntut untuk bisa bermain di beberapa posisi. Bek sayap seperti Rizky Dwi sering kali naik membantu serangan, sementara gelandang tengah seperti M. Rafli menjadi jangkar yang menghubungkan pertahanan dan serangan. Filosofi ini berhasil membawa Martapura Deva FC promosi ke Liga 1 pada musim 2021 setelah finis sebagai runner-up Liga 2.
Namun, DNA taktik yang paling melekat adalah “Sungai Martapura Style” — sebuah istilah yang diciptakan oleh suporter untuk menggambarkan permainan cepat, pendek, dan penuh improvisasi. Gaya ini terinspirasi dari aliran Sungai Martapura yang deras dan berkelok-kelok. Pelatih lokal Rudiyanto (2022-2023) adalah tokoh yang paling berjasa mengembangkan gaya ini, dengan menekankan pada penguasaan bola pendek (short passing) dan pergerakan tanpa bola yang konstan. Dalam beberapa musim terakhir, Martapura Deva FC juga mulai mengintegrasikan elemen gegenpressing modern, di mana setelah kehilangan bola, seluruh tim segera melakukan tekanan tinggi untuk merebut kembali penguasaan. Evolusi ini menunjukkan bahwa klub ini tidak hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga pionir dalam inovasi taktik di Kalimantan.
Stadion, Markas & Infrastruktur
Stadion Demang Lehman adalah rumah bagi Martapura Deva FC, terletak di pusat Kota Martapura, persis di Jalan A. Yani Km. 36, Kecamatan Martapura Barat. Stadion ini dibangun pada tahun 1994 dengan kapasitas awal 10.000 penonton, kemudian direnovasi besar-besaran pada tahun 2017 untuk memenuhi standar Liga 1. Setelah renovasi, kapasitasnya meningkat menjadi 15.000 kursi, dengan penambahan tribun VIP di sisi barat dan atap yang menutupi seluruh tribun. Desain stadion ini unik karena mengadopsi bentuk rumah Banjar tradisional pada bagian atapnya, dengan genteng berwarna merah dan ukiran khas Kalimantan Selatan.
Salah satu fakta unik tentang Stadion Demang Lehman adalah lokasinya yang berada tepat di tepi Sungai Martapura. Para suporter sering kali datang menggunakan perahu tradisional (jukung) dan menambatkannya di dermaga kecil di belakang stadion. Pemandangan dari tribun selatan sangat spektakuler karena menghadap langsung ke sungai, menciptakan atmosfer pertandingan yang tidak dimiliki klub lain di Indonesia. Pada malam hari, lampu stadion memantul di permukaan air sungai, menciptakan efek visual yang magis. Suhu udara yang sejuk karena berada di dekat aliran sungai juga menjadi keuntungan tersendiri bagi pemain tuan rumah.
Selain stadion utama, Martapura Deva FC juga memiliki Pusat Latihan Martapura Deva Park di Desa Bincau, Kecamatan Martapura Barat, sekitar 5 km dari stadion. Kompleks ini dibangun pada tahun 2022 dengan investasi sekitar Rp 50 miliar, terdiri dari tiga lapangan latihan berstandar FIFA, pusat kebugaran, kolam renang pemulihan, dan asrama pemain. Akademi klub yang bernama Deva Football Academy juga beroperasi di sini, dengan lebih dari 200 pemain muda dari berbagai kelompok umur (U-12 hingga U-20). Akademi ini menjadi salah satu yang terbaik di Kalimantan Selatan, dengan kurikulum yang menggabungkan teknik sepak bola modern dengan nilai-nilai budaya Banjar, seperti gotong royong dan kesopanan.
Kultur Suporter & Identitas Sosial
Suporter Martapura Deva FC dikenal dengan nama Banua Mania, yang berasal dari kata “Banua” yang berarti tanah air dalam bahasa Banjar. Kelompok ini didirikan pada tahun 1998 oleh sekelompok pemuda yang frustrasi dengan minimnya dukungan terhadap PS Martapura. Kini, Banua Mania memiliki lebih dari 10.000 anggota terdaftar dan menjadi salah satu kelompok ultras paling kreatif di Indonesia. Mereka terkenal dengan koreografi tifo bertema kerajaan, seperti gambar Sultan Adam menaiki kuda putih atau replika Istana Banjar yang megah. Setiap pertandingan kandang, tribun selatan stadion berubah menjadi lautan biru-emas dengan nyanyian khas “Banua Raya” yang menggema hingga ke seberang sungai.
Tradisi unik yang hanya dimiliki Banua Mania adalah “Arak-arakan Jukung”. Sebelum pertandingan besar, para suporter akan berarak menggunakan puluhan jukung (perahu tradisional) menyusuri Sungai Martapura sambil membawa obor dan spanduk. Prosesi ini dimulai dari Pasar Martapura menuju Stadion Demang Lehman, dengan jarak sekitar 2 km. Tradisi ini tidak hanya sebagai pemanas suasana, tetapi juga sebagai bentuk doa bersama agar tim mendapatkan kemenangan. Momen ini selalu menjadi tontonan wisatawan yang kebetulan berada di Martapura pada hari pertandingan.
Hubungan antara klub dan komunitas kota sangatlah erat. Martapura Deva FC sering kali mengadakan program “Sepak Bola Masuk Kampung” di mana pemain dan ofisial mengunjungi desa-desa terpencil di Kabupaten Banjar untuk mengadakan pertandingan persahabatan dan klinik sepak bola gratis. Program ini dimulai sejak tahun 2023 dan telah menjangkau lebih dari 50 desa. Salah satu momen paling ikonik adalah ketika pada tahun 2024, Banua Mania menggelar aksi damai di alun-alun Martapura untuk menggalang dana bagi pembangunan masjid di desa binaan klub. Aksi ini menunjukkan bahwa Martapura Deva FC bukan sekadar klub sepak bola, melainkan pilar sosial yang memperkuat jati diri masyarakat Banjar.
Sejarah Trofi & Pencapaian
Meskipun belum sekaya klub-klub besar Jawa, Martapura Deva FC memiliki beberapa pencapaian yang patut dibanggakan. Trofi paling prestisius yang pernah diraih adalah Liga 2 Indonesia pada musim 2021. Saat itu, Martapura Deva FC yang masih bernama PS Martapura berhasil menjuarai Liga 2 setelah mengalahkan Persis Solo dengan skor agregat 3-2 di final. Kemenangan ini menjadi tiket promosi ke Liga 1 untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Striker Riyan Ardiansyah menjadi pahlawan dengan mencetak dua gol di leg kedua final yang berlangsung dramatis di Stadion Manahan, Solo.
Selain itu, klub ini juga dua kali menjuarai Piala Gubernur Kalimantan Selatan (2019 dan 2022), sebuah turnamen pramusim yang diikuti oleh klub-klub dari Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Di kancah internasional, Martapura Deva FC belum pernah lolos ke kompetisi AFC, namun pernah mewakili Indonesia di Piala Presiden ASEAN pada tahun 2022, sebuah turnamen undangan antar klub Asia Tenggara. Mereka berhasil mencapai babak semifinal sebelum dikalahkan oleh Buriram United dari Thailand dengan skor tipis 1-0.
Pencapaian lain yang patut dicatat adalah rekor tidak terkalahkan di kandang selama 18 pertandingan pada musim 2023-2024 di Liga 2. Rekor ini menjadi bukti betapa sulitnya tim lawan bermain di Stadion Demang Lehman yang dikenal dengan atmosfernya yang mencekam. Dari segi transfer, rekor penjualan pemain tertinggi adalah M. Rafli yang dijual ke Persija Jakarta pada tahun 2024 dengan nilai transfer sekitar Rp 5 miliar. Sementara itu, rekor pembelian termahal adalah Luis Alberto (striker asal Brasil) yang didatangkan dari klub Portugal C.D. Mafra dengan harga Rp 3,5 miliar pada musim panas 2025.
Pemain Legendaris & Skuad Terkini
Sepanjang sejarahnya, Martapura Deva FC telah melahirkan beberapa pemain legendaris yang namanya tetap dikenang hingga kini. Yang pertama adalah H. Anang Syahrani (1954-1965), pendiri klub sekaligus pemain pertama yang menjadi kapten tim. Ia dikenal sebagai bek tengah yang tangguh dan menjadi simbol perjuangan awal PS Martapura. Kedua, Syahrial (1978-1988), gelandang serang yang dijuluki “Si Kancil” karena kelincahannya dalam menggiring bola. Ia mencetak 45 gol dalam 120 pertandingan untuk PS Martapura, sebuah rekor yang baru dipecahkan pada era modern.
Pemain legendaris lainnya adalah Riyan Ardiansyah (2015-2023), striker yang menjadi pahlawan promosi ke Liga 1. Ia mencetak total 37 gol dalam 80 penampilan untuk klub, termasuk gol-gol krusial di final Liga 2. Dari era modern, Rizky Dwi (2021-sekarang) adalah bek sayap kanan yang menjadi andalan. Kecepatan dan kemampuannya dalam memberikan umpan silang membuatnya dijuluki “Roberto Carlos dari Martapura”. Terakhir, M. Rafli (2019-2024), gelandang bertahan yang menjadi kapten tim pada musim promosi. Ia kemudian dijual ke Persija Jakarta dan menjadi salah satu pemain termahal yang pernah dimiliki klub.
Skuad terkini Martapura Deva FC untuk musim 2025-2026 dipimpin oleh pelatih Vitor Tinoco. Beberapa pemain kunci antara lain:
- Kiper: Rizky Ramadhan (26 tahun) – Kiper utama yang dikenal dengan refleks cepat dan kemampuannya dalam mengatur pertahanan.
- Bek Tengah: Jefri Kurniawan (28 tahun) – Bek tengah kokoh yang menjadi jenderal di lini belakang, dengan postur 185 cm dan kemampuan duel udara yang luar biasa.
- Gelandang Serang: Dimas Saputra (23 tahun) – Playmaker kreatif yang menjadi otak serangan, dengan visi passing yang tajam.
- Striker: Luis Alberto (27 tahun) – Penyerang asal Brasil yang menjadi mesin gol klub dengan 12 gol di paruh pertama musim 2025.
Prospek muda yang patut diperhatikan adalah Ahmad Fauzan (18 tahun), gelandang tengah yang merupakan lulusan Deva Football Academy. Ia sudah tampil 5 kali di Liga 1 musim ini dan mencetak 1 gol, menunjukkan potensi besar untuk menjadi bintang masa depan.
Rivalitas Abadi & Derby
Rivalitas paling sengit Martapura Deva FC adalah dengan Barito Putera dari Banjarmasin, yang hanya berjarak sekitar 30 km. Derby ini dikenal dengan nama “Derby Kalimantan Selatan” atau “Derby Banua”. Asal-usul rivalitas ini bermula dari persaingan antara dua kota besar di Kalimantan Selatan, Martapura dan Banjarmasin, yang sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Dalam sepak bola, rivalitas ini semakin memanas sejak era Divisi Utama tahun 2000-an.
Ingin tahu berapa estimasi nilai pasar pemain-pemain Martapura Deva FC menurut algoritma SBH? Cek di Kalkulator Nilai Pasar sekarang!