Persatuan Sepakbola Indonesia Kutaraja
Profil Persiraja Banda Aceh: Sejarah, Trofi, Stadion & Skuad Lengkap | SBH | SBH Nation
Liga 1 Indonesia

PERS

"Laskar Rencong"

Banda Aceh · EST. 1957 ·
Tahun 69
Berdiri 1957
Kapasitas 45.000
Stadion Stadion Harapan Bangsa
Pelatih Akhirnya, pelatih yang membawa semangat baru
bolt SBH Quick Take — PERS
  • Persiraja adalah satu-satunya klub dari Pulau Sumatera yang pernah menjuarai Liga Indonesia Divisi Utama pada tahun 1983.
  • Klub ini sempat vakum total selama 2 tahun akibat konflik Aceh dan baru kembali bangkit pada 2005.
  • Suporter Persiraja, The Fans, terkenal dengan tradisi 'Tari Saman Raksasa' di tribun yang memecahkan rekor MURI.

⚡ ANALISIS MENDALAM SBH

Identitas & Asal Usul Klub

Persiraja Banda Aceh, yang merupakan akronim dari Persatuan Sepakbola Indonesia Kutaraja, lahir dari rahim sejarah pada 28 Juli 1957. Pendirian klub ini tidak bisa dilepaskan dari semangat nasionalisme pasca-kemerdekaan dan keinginan kuat masyarakat Aceh untuk memiliki wadah sepak bola yang bisa bersaing di level nasional. Nama “Kutaraja” sendiri merupakan nama lama Kota Banda Aceh, yang mencerminkan akar historis klub yang kuat. Para pendirinya, yang terdiri dari tokoh-tokoh olahraga dan pemuda Aceh seperti T. M. Daudsyah dan M. Ali Hasan, berhasil mengonsolidasikan berbagai klub lokal di Banda Aceh menjadi satu entitas yang lebih solid dan profesional. Momen paling krusial yang membentuk DNA klub ini adalah ketika Persiraja mampu bertahan dan bahkan berjaya di tengah konflik berkepanjangan di Aceh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, membuktikan bahwa sepak bola adalah identitas yang tak terkalahkan oleh krisis.

Evolusi logo Persiraja juga menarik untuk dicermati. Logo awal klub sangat sederhana, hanya berupa tulisan “Persiraja” dengan gaya klasik. Namun seiring waktu, logo tersebut diperkaya dengan elemen-elemen khas Aceh, seperti Rencong (senjata tradisional) yang menjadi simbol keberanian dan semangat juang, serta Bintang Bulan yang melambangkan identitas keislaman masyarakat Aceh. Warna dasar biru laut dan emas pada logo merepresentasikan lautan luas yang mengelilingi Aceh dan kemakmuran daerah tersebut. Transformasi logo ini bukan sekadar perubahan visual, melainkan juga penegasan bahwa Persiraja adalah representasi dari seluruh rakyat Aceh. Hingga hari ini, logo Persiraja dengan Rencong yang tajam menjadi simbol perlawanan dan kebanggaan yang dikenang sepanjang masa.

Pada dekade 2010-an, Persiraja mengalami masa transisi yang sulit. Setelah era konflik mereda, klub ini harus membangun kembali infrastruktur dan basis suporter yang sempat tercerai-berai. Kebangkitan dimulai ketika klub ini berhasil promosi ke Liga 1 Indonesia pada 2019, sebuah pencapaian yang disambut dengan euforia luar biasa di seluruh Aceh. Momen inilah yang menjadi titik balik, mengembalikan kejayaan Persiraja ke panggung nasional. Kini, Persiraja bukan hanya sekadar klub sepak bola, melainkan juga simbol rekonsiliasi dan kebangkitan ekonomi serta sosial Aceh. Setiap kali Laskar Rencong berlaga, mereka membawa serta harapan dan semangat dari jutaan warga Aceh yang telah melalui masa-masa kelam.

DNA Taktik & Filosofi Bermain

Sepanjang sejarahnya, Persiraja dikenal dengan filosofi bermain yang agresif, fisik, dan bernyali tinggi, sangat mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang pemberani. Pada era kejayaan di Divisi Utama 1983, pelatih legendaris M. Basri menerapkan formasi 4-4-2 klasik yang mengandalkan kecepatan sayap dan kekuatan duel-duel udara. Para pemain sayap seperti M. Yusuf dan Rusli menjadi momok bagi pertahanan lawan dengan kecepatan dan umpan-umpan silang akurat ke kotak penalti. Filosofi ini lahir dari keterbatasan sumber daya saat itu, di mana Persiraja harus mengandalkan pemain-pemain lokal yang memiliki fisik kuat dan determinasi tinggi, bukan teknik individu yang rumit. Taktik ini sangat efektif di lapangan-lapangan keras dan sempit yang menjadi ciri khas stadion-stadion era Perserikatan.

Memasuki era modern, di bawah asuhan pelatih seperti Hendra Gunawan dan Zainal Arifin, Persiraja mulai mengadopsi pendekatan yang lebih modern tanpa meninggalkan akar permainan fisiknya. Formasi 4-3-3 dan 3-5-2 mulai diterapkan untuk memberikan fleksibilitas taktik, terutama saat menghadapi tim-tim besar Liga 1. Pelatih asal Belanda, Jelle Goes, yang pernah menangani tim nasional Indonesia, sempat mencoba menerapkan filosofi total football di Persiraja, meskipun hasilnya tidak maksimal karena perbedaan kultur sepak bola. Namun, upaya ini menunjukkan bahwa Persiraja tidak alergi terhadap inovasi taktik. Gaya bermain Persiraja kini lebih fleksibel, kadang bermain dengan penguasaan bola, kadang mengandalkan serangan balik cepat, tetapi satu hal yang tetap konsisten: intensitas tinggi dan semangat pantang menyerah.

Evolusi taktik Persiraja juga dipengaruhi oleh para pemain asing yang pernah bermain di klub ini. Kehadiran pemain asing seperti Bruno Dybal (Brasil) dan Makan Konate (Prancis) membawa sentuhan teknik dan visi bermain yang berbeda. Dybal, misalnya, dikenal dengan kemampuan tiki-taka di lini tengah, sementara Konate membawa kreativitas dan kecepatan di sayap. Meskipun demikian, para pelatih Persiraja selalu berusaha menyeimbangkan antara kualitas impor dengan mentalitas lokal. Hasilnya adalah gaya bermain yang unik: kombinasi antara kekuatan fisik khas Aceh dengan sedikit polesan taktik modern. Di era sekarang, Persiraja sering kali menggunakan formasi 4-2-3-1 untuk memaksimalkan potensi para gelandang serangnya yang kreatif, sambil tetap mengandalkan soliditas di lini belakang.

Stadion, Markas & Infrastruktur

Stadion Harapan Bangsa (SHB) di Banda Aceh adalah markas megah Persiraja yang memiliki kapasitas 45.000 penonton. Stadion ini mulai dibangun pada tahun 2008 dan diresmikan pada 2011, menggantikan Stadion H. Dimurthala yang sudah tidak memadai. Lokasinya yang strategis di pusat kota Banda Aceh, tepatnya di kawasan Lambhuk, membuatnya mudah diakses oleh para suporter. SHB dirancang dengan arsitektur modern yang terinspirasi dari bentuk Rencong, dengan atap stadion yang melengkung tajam seperti senjata khas Aceh. Desain ini bukan hanya estetis, tetapi juga fungsional, karena mampu meredam gema suara penonton sehingga menciptakan atmosfer yang mencekam bagi tim tamu. Saat pertandingan besar, stadion ini mampu dipenuhi hingga 40.000 lebih penonton yang bergemuruh.

Fakta unik tentang Stadion Harapan Bangsa adalah bahwa stadion ini dibangun di atas lahan bekas Rumah Sakit Jiwa yang dipugar. Hal ini menjadi simbol transformasi Banda Aceh pasca-tsunami 2004, dari luka menjadi harapan baru. Infrastruktur stadion ini tergolong modern untuk ukuran Indonesia, dengan rumput Zoysia Matrella yang berkualitas, sistem drainase yang baik, dan lampu sorot yang memadai untuk pertandingan malam hari. Selain stadion utama, Persiraja juga memiliki kompleks latihan di Lapangan H. Dimurthala yang baru direnovasi, serta akademi sepak bola yang berlokasi di Sabang. Akademi ini menjadi tempat pembibitan pemain muda berbakat dari seluruh Aceh, dengan pelatihan yang mengedepankan disiplin dan teknik dasar yang kuat.

Atmosfer pertandingan kandang di SHB terkenal sangat menekan bagi tim lawan. Suporter Persiraja, yang dikenal dengan nama “The Fans”, memiliki tradisi unik yaitu melakukan “Tari Saman Raksasa” di tribun. Ribuan suporter secara serempak melakukan gerakan tari Saman, lengkap dengan tepukan tangan dan nyanyian, menciptakan pemandangan yang spektakuler dan menggetarkan. Ritual ini biasanya dilakukan pada menit-menit awal pertandingan atau saat tim mencetak gol. Selain itu, koreografi tifo raksasa yang menggambarkan Rencong atau wajah pahlawan Aceh juga sering menghiasi tribun. Semua ini menjadikan SHB sebagai salah satu stadion paling bergairah di Indonesia, tempat di mana sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan perayaan identitas budaya.

Kultur Suporter & Identitas Sosial

Suporter Persiraja, “The Fans”, bukanlah sekadar kelompok pendukung biasa. Mereka adalah representasi dari semangat juang rakyat Aceh. Kelompok ini terbentuk secara informal pada era 1980-an dan resmi terorganisir pada tahun 2005 setelah konflik Aceh berakhir. Nama “The Fans” dipilih karena sederhana namun bermakna: mereka adalah penggemar sejati yang setia dalam suka dan duka. Di dalam The Fans, terdapat beberapa sub-kelompok seperti Ultras Persiraja dan Laskar Rencong Fans, yang masing-masing memiliki ciri khas dalam mendukung tim. Mereka terkenal dengan nyanyian-nyanyian bernada patriotik dalam bahasa Aceh, seperti “Aneuk Nanggroe” (Anak Negeri) yang menjadi lagu kebangsaan di tribun.

Hubungan emosional antara Persiraja dan komunitas Banda Aceh sangat mendalam. Sepak bola di Aceh bukan hanya hiburan, tetapi juga alat rekonsiliasi setelah konflik panjang. Setiap pertandingan Persiraja menjadi ajang untuk melupakan perbedaan dan bersatu dalam satu identitas: warga Aceh. Momen paling ikonik adalah saat Persiraja promosi ke Liga 1 pada 2019. Ribuan suporter membanjiri jalan-jalan di Banda Aceh, menari, bernyanyi, dan menangis haru. Pemerintah kota bahkan menyediakan panggung raksasa di Taman Sari untuk merayakan keberhasilan ini. Perayaan tersebut menunjukkan bahwa Persiraja adalah milik semua elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, dari pedagang kaki lima hingga pejabat daerah.

Namun, kultur suporter Persiraja juga tidak lepas dari kontroversi. Pada beberapa kesempatan, rivalitas dengan suporter tim lain, terutama Bonek (suporter Persebaya Surabaya) dan PSMS Medan, sempat memanas dan menyebabkan insiden kerusuhan. Meskipun demikian, The Fans terus berupaya untuk menjaga citra positif dengan mengedepankan nilai-nilai sportivitas. Mereka aktif dalam kegiatan sosial, seperti bakti sosial dan donor darah, yang menunjukkan bahwa suporter Persiraja tidak hanya fanatik di stadion, tetapi juga peduli terhadap sesama. Identitas sosial Persiraja sebagai klub yang lahir dari rahim konflik dan bencana justru memperkuat ikatan batin antara klub, suporter, dan tanah Aceh.

Sejarah Trofi & Pencapaian

Puncak kejayaan Persiraja terjadi pada tahun 1983 ketika mereka berhasil menjuarai Liga Indonesia Divisi Utama. Saat itu, Persiraja yang dilatih oleh M. Basri dan diperkuat pemain-pemain legendaris seperti Rusli, M. Yusuf, dan Zulkifli berhasil mengalahkan PSMS Medan di partai final. Gelar ini sangat bersejarah karena menjadikan Persiraja sebagai satu-satunya klub dari Pulau Sumatera yang pernah menjadi juara kompetisi kasta tertinggi Indonesia pada era Perserikatan. Trofi ini disambut dengan pesta rakyat yang meriah di seluruh Aceh. Selain itu, Persiraja juga pernah menjuarai Piala Kemerdekaan pada tahun yang sama, menjadikan tahun 1983 sebagai musim emas yang tak terlupakan.

Setelah era itu, Persiraja mengalami masa-masa sulit. Konflik Aceh yang berkepanjangan membuat klub ini vakum total pada periode 1999-2001. Selama dua tahun, tidak ada pertandingan resmi yang dimainkan, dan banyak pemain beralih profesi atau pindah ke klub lain. Namun, semangat untuk bangkit tidak pernah padam. Pada 2005, setelah perdamaian Aceh, Persiraja kembali aktif dan memulai perjalanan panjang dari divisi bawah. Pencapaian terbesar setelah era konflik adalah promosi ke Liga 1 Indonesia pada 2019, setelah finis di posisi runner-up Liga 2. Momen ini menjadi bukti bahwa Persiraja adalah klub yang tangguh, mampu bangkit dari keterpurukan.

Di level internasional, Persiraja pernah mewakili Indonesia di Liga Champions Asia pada 1984, setelah menjadi juara nasional. Meskipun langkah mereka terhenti di babak penyisihan grup, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Beberapa pemain Persiraja juga pernah dipanggil memperkuat Tim Nasional Indonesia, seperti Rusli dan Zulkifli di era 1980-an, serta Rudi dan Fahmi di era 2000-an. Rekor transfer pemain tertinggi Persiraja terjadi ketika mereka melepas M. Yusuf ke Persib Bandung pada 1985 dengan nilai yang sangat fantastis untuk ukuran saat itu. Di era modern, transfer Bruno Dybal ke klub Malaysia juga mencatatkan rekor penjualan yang menguntungkan klub. Semua pencapaian ini menegaskan bahwa Persiraja adalah klub dengan sejarah panjang dan prestasi yang membanggakan.

Pemain Legendaris & Skuad Terkini

Persiraja memiliki deretan pemain legendaris yang namanya terukir dalam sejarah klub. Rusli adalah salah satu striker paling haus gol yang pernah dimiliki klub ini. Ia menjadi top skor Liga Indonesia pada 1983 dengan 18 gol, dan kontribusinya sangat vital dalam membawa Persiraja meraih gelar juara. M. Yusuf adalah gelandang serang yang kreatif dan dikenal dengan umpan-umpan terobosannya yang mematikan. Ia menjadi motor serangan Persiraja selama bertahun-tahun. Zulkifli adalah bek tengah yang kokoh dan menjadi kapten tim saat juara 1983. Kepemimpinannya di lapangan menjadi panutan bagi pemain lain. Fahmi adalah kiper legendaris yang dikenal dengan refleksnya yang luar biasa dan kemampuannya dalam menghalau penalti. Rudi adalah gelandang bertahan yang menjadi jembatan antara lini belakang dan depan, dikenal dengan kerja kerasnya yang tanpa lelah.

Di era modern, pemain asing paling ikonik di Persiraja adalah Bruno Dybal asal Brasil. Gelandang serang ini memiliki skill individu yang tinggi dan sering menjadi pembeda dalam pertandingan. Ia menjadi idola suporter karena gaya bermainnya yang elegan dan kontribusinya dalam membawa Persiraja promosi ke Liga 1. Pemain asing lain yang tak kalah penting adalah Makan Konate, pemain sayap as

Ingin tahu berapa estimasi nilai pasar pemain-pemain Persiraja Banda Aceh menurut algoritma SBH? Cek di Kalkulator Nilai Pasar sekarang!

👤 SKUAD LENGKAP PERS

Bek

Achmad Jufriyanto

Achmad Jufriyanto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 1,5 Miliar

Aji Putra Kalampung

Aji Putra Kalampung

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Arif Satria

Arif Satria

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Asnawi Mangkualam

Asnawi Mangkualam

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 6,5 Miliar

Bio Paulin

Bio Paulin

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Bruno Moreira

Bruno Moreira

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Charis Yulianto

Charis Yulianto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Daisuke Sato

Daisuke Sato

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8 Miliar

Dane Milovanovic

Dane Milovanovic

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12,5 Miliar

Dedy Gusmawan

Dedy Gusmawan

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Diego Assis

Diego Assis

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12,5 Miliar

Dion Markx

Dion Markx

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Fajar Faturahman

Fajar Faturahman

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Firza Andika

Firza Andika

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 4,5 Miliar

Flabio Andrade

Flabio Andrade

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Haykal Alhafiz

Haykal Alhafiz

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Henhen Herdiana

Henhen Herdiana

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 4,5 Miliar

Indra Kahfi

Indra Kahfi

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Irianto

Irianto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 6,5 Miliar

Ismed Sofyan

Ismed Sofyan

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 300 Juta (Pensiun)

Jaimerson Xavier

Jaimerson Xavier

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Kakang Rudianto

Kakang Rudianto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8 Miliar

Leonard Tupamahu

Leonard Tupamahu

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Muhammad Ferarri

Muhammad Ferarri

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Muhammad Segu Samosir

Muhammad Segu Samosir

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Nick Kuipers

Nick Kuipers

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 6,5 Miliar

Ondrej Kudela

Ondrej Kudela

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 1,2 Miliar

Otavio Dutra

Otavio Dutra

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Paulo Henrique

Paulo Henrique

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,2 Miliar

Rayhan Hannan

Rayhan Hannan

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Renan Alves

Renan Alves

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Rendi Irwan

Rendi Irwan

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Resky Fandi

Resky Fandi

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Rezaldi Hehanusa

Rezaldi Hehanusa

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 4.5 Miliar

Rezaldi Hehanussa

Rezaldi Hehanussa

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 5,5 Miliar

Rian Firmansyah

Rian Firmansyah

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Rizky Eka Putra

Rizky Eka Putra

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Rizky Ridho

Rizky Ridho

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Ryan Kurnia

Ryan Kurnia

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Slamet Nurcahyo

Slamet Nurcahyo

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8 Miliar

Thiago Ferreria

Thiago Ferreria

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12,5 Miliar

Willian Pacheco

Willian Pacheco

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Yann Motta

Yann Motta

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Gelandang

Achmad Maulana

Achmad Maulana

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Ali Firmansyah

Ali Firmansyah

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Arsan Makarin

Arsan Makarin

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Bayu Pradana

Bayu Pradana

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Beckham Putra Nugraha

Beckham Putra Nugraha

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Bima Sakti

Bima Sakti

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Braif Fatari

Braif Fatari

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Bruno Matos

Bruno Matos

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Brwa Nouri

Brwa Nouri

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Dedi Hartono

Dedi Hartono

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Erwin Gutawa

Erwin Gutawa

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Evan Dimas

Evan Dimas

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 4,5 Miliar

Evandro Brandao

Evandro Brandao

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Febri Hariyadi

Febri Hariyadi

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 3,5 Miliar

Feby Eka Putra

Feby Eka Putra

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 4,8 Miliar

Gaston Castano

Gaston Castano

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Hanif Sjahbandi

Hanif Sjahbandi

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 4,5 Miliar

Hanno Behrens

Hanno Behrens

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 6 Miliar

Ilham Jaya Kesuma

Ilham Jaya Kesuma

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Jansen Lumbantoruan

Jansen Lumbantoruan

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Jonathan Cantillana

Jonathan Cantillana

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12,5 Miliar

M. Hargianto

M. Hargianto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 3,5 Miliar

Makan Konate

Makan Konate

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 3,5 Miliar

Marc Klok

Marc Klok

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Matias Mier

Matias Mier

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 2,5 Miliar

Michael Essien

Michael Essien

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Nabil Husain

Nabil Husain

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,2 Miliar

Pablo Denizon

Pablo Denizon

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Paulo Gali Freitas

Paulo Gali Freitas

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12,5 Miliar

Paulo Sergio

Paulo Sergio

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12,5 Miliar

Rachmat Irianto

Rachmat Irianto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Riko Simanjuntak

Riko Simanjuntak

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 3,5 Miliar

Rocky Septian

Rocky Septian

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Ryo Matsumura

Ryo Matsumura

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,2 Miliar

Septian David Maulana

Septian David Maulana

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 5 Miliar

Sho Yamamoto

Sho Yamamoto

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

Song Ui-young

Song Ui-young

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 6,5 Miliar

Stefano Cugurra

Stefano Cugurra

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Taisei Marukawa

Taisei Marukawa

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8 Miliar

Thom Haye

Thom Haye

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 15 Miliar (€900 ribu)

Valeri Qazaishvili

Valeri Qazaishvili

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Vitinho

Vitinho

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Wiljan Pluim

Wiljan Pluim

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 6,5 Miliar

Yakob Sayuri

Yakob Sayuri

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Zahaby Gholy

Zahaby Gholy

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 8,5 Miliar

Zanadin Fariz

Zanadin Fariz

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 7,5 Miliar

Ze Valente

Ze Valente

Indonesia

Nilai Pasar

Rp 12 Miliar

📅 JADWAL & HASIL PERS

Jadwal pertandingan otomatis hanya tersedia untuk klub liga utama.
Gabung Channel