PERS
"Laskar Rencong"
- Persiraja adalah satu-satunya klub dari Pulau Sumatera yang pernah menjuarai Liga Indonesia Divisi Utama pada tahun 1983.
- Klub ini sempat vakum total selama 2 tahun akibat konflik Aceh dan baru kembali bangkit pada 2005.
- Suporter Persiraja, The Fans, terkenal dengan tradisi 'Tari Saman Raksasa' di tribun yang memecahkan rekor MURI.
⚡ ANALISIS MENDALAM SBH
Identitas & Asal Usul Klub
Persiraja Banda Aceh, yang merupakan akronim dari Persatuan Sepakbola Indonesia Kutaraja, lahir dari rahim sejarah pada 28 Juli 1957. Pendirian klub ini tidak bisa dilepaskan dari semangat nasionalisme pasca-kemerdekaan dan keinginan kuat masyarakat Aceh untuk memiliki wadah sepak bola yang bisa bersaing di level nasional. Nama “Kutaraja” sendiri merupakan nama lama Kota Banda Aceh, yang mencerminkan akar historis klub yang kuat. Para pendirinya, yang terdiri dari tokoh-tokoh olahraga dan pemuda Aceh seperti T. M. Daudsyah dan M. Ali Hasan, berhasil mengonsolidasikan berbagai klub lokal di Banda Aceh menjadi satu entitas yang lebih solid dan profesional. Momen paling krusial yang membentuk DNA klub ini adalah ketika Persiraja mampu bertahan dan bahkan berjaya di tengah konflik berkepanjangan di Aceh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, membuktikan bahwa sepak bola adalah identitas yang tak terkalahkan oleh krisis.
Evolusi logo Persiraja juga menarik untuk dicermati. Logo awal klub sangat sederhana, hanya berupa tulisan “Persiraja” dengan gaya klasik. Namun seiring waktu, logo tersebut diperkaya dengan elemen-elemen khas Aceh, seperti Rencong (senjata tradisional) yang menjadi simbol keberanian dan semangat juang, serta Bintang Bulan yang melambangkan identitas keislaman masyarakat Aceh. Warna dasar biru laut dan emas pada logo merepresentasikan lautan luas yang mengelilingi Aceh dan kemakmuran daerah tersebut. Transformasi logo ini bukan sekadar perubahan visual, melainkan juga penegasan bahwa Persiraja adalah representasi dari seluruh rakyat Aceh. Hingga hari ini, logo Persiraja dengan Rencong yang tajam menjadi simbol perlawanan dan kebanggaan yang dikenang sepanjang masa.
Pada dekade 2010-an, Persiraja mengalami masa transisi yang sulit. Setelah era konflik mereda, klub ini harus membangun kembali infrastruktur dan basis suporter yang sempat tercerai-berai. Kebangkitan dimulai ketika klub ini berhasil promosi ke Liga 1 Indonesia pada 2019, sebuah pencapaian yang disambut dengan euforia luar biasa di seluruh Aceh. Momen inilah yang menjadi titik balik, mengembalikan kejayaan Persiraja ke panggung nasional. Kini, Persiraja bukan hanya sekadar klub sepak bola, melainkan juga simbol rekonsiliasi dan kebangkitan ekonomi serta sosial Aceh. Setiap kali Laskar Rencong berlaga, mereka membawa serta harapan dan semangat dari jutaan warga Aceh yang telah melalui masa-masa kelam.
DNA Taktik & Filosofi Bermain
Sepanjang sejarahnya, Persiraja dikenal dengan filosofi bermain yang agresif, fisik, dan bernyali tinggi, sangat mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang pemberani. Pada era kejayaan di Divisi Utama 1983, pelatih legendaris M. Basri menerapkan formasi 4-4-2 klasik yang mengandalkan kecepatan sayap dan kekuatan duel-duel udara. Para pemain sayap seperti M. Yusuf dan Rusli menjadi momok bagi pertahanan lawan dengan kecepatan dan umpan-umpan silang akurat ke kotak penalti. Filosofi ini lahir dari keterbatasan sumber daya saat itu, di mana Persiraja harus mengandalkan pemain-pemain lokal yang memiliki fisik kuat dan determinasi tinggi, bukan teknik individu yang rumit. Taktik ini sangat efektif di lapangan-lapangan keras dan sempit yang menjadi ciri khas stadion-stadion era Perserikatan.
Memasuki era modern, di bawah asuhan pelatih seperti Hendra Gunawan dan Zainal Arifin, Persiraja mulai mengadopsi pendekatan yang lebih modern tanpa meninggalkan akar permainan fisiknya. Formasi 4-3-3 dan 3-5-2 mulai diterapkan untuk memberikan fleksibilitas taktik, terutama saat menghadapi tim-tim besar Liga 1. Pelatih asal Belanda, Jelle Goes, yang pernah menangani tim nasional Indonesia, sempat mencoba menerapkan filosofi total football di Persiraja, meskipun hasilnya tidak maksimal karena perbedaan kultur sepak bola. Namun, upaya ini menunjukkan bahwa Persiraja tidak alergi terhadap inovasi taktik. Gaya bermain Persiraja kini lebih fleksibel, kadang bermain dengan penguasaan bola, kadang mengandalkan serangan balik cepat, tetapi satu hal yang tetap konsisten: intensitas tinggi dan semangat pantang menyerah.
Evolusi taktik Persiraja juga dipengaruhi oleh para pemain asing yang pernah bermain di klub ini. Kehadiran pemain asing seperti Bruno Dybal (Brasil) dan Makan Konate (Prancis) membawa sentuhan teknik dan visi bermain yang berbeda. Dybal, misalnya, dikenal dengan kemampuan tiki-taka di lini tengah, sementara Konate membawa kreativitas dan kecepatan di sayap. Meskipun demikian, para pelatih Persiraja selalu berusaha menyeimbangkan antara kualitas impor dengan mentalitas lokal. Hasilnya adalah gaya bermain yang unik: kombinasi antara kekuatan fisik khas Aceh dengan sedikit polesan taktik modern. Di era sekarang, Persiraja sering kali menggunakan formasi 4-2-3-1 untuk memaksimalkan potensi para gelandang serangnya yang kreatif, sambil tetap mengandalkan soliditas di lini belakang.
Stadion, Markas & Infrastruktur
Stadion Harapan Bangsa (SHB) di Banda Aceh adalah markas megah Persiraja yang memiliki kapasitas 45.000 penonton. Stadion ini mulai dibangun pada tahun 2008 dan diresmikan pada 2011, menggantikan Stadion H. Dimurthala yang sudah tidak memadai. Lokasinya yang strategis di pusat kota Banda Aceh, tepatnya di kawasan Lambhuk, membuatnya mudah diakses oleh para suporter. SHB dirancang dengan arsitektur modern yang terinspirasi dari bentuk Rencong, dengan atap stadion yang melengkung tajam seperti senjata khas Aceh. Desain ini bukan hanya estetis, tetapi juga fungsional, karena mampu meredam gema suara penonton sehingga menciptakan atmosfer yang mencekam bagi tim tamu. Saat pertandingan besar, stadion ini mampu dipenuhi hingga 40.000 lebih penonton yang bergemuruh.
Fakta unik tentang Stadion Harapan Bangsa adalah bahwa stadion ini dibangun di atas lahan bekas Rumah Sakit Jiwa yang dipugar. Hal ini menjadi simbol transformasi Banda Aceh pasca-tsunami 2004, dari luka menjadi harapan baru. Infrastruktur stadion ini tergolong modern untuk ukuran Indonesia, dengan rumput Zoysia Matrella yang berkualitas, sistem drainase yang baik, dan lampu sorot yang memadai untuk pertandingan malam hari. Selain stadion utama, Persiraja juga memiliki kompleks latihan di Lapangan H. Dimurthala yang baru direnovasi, serta akademi sepak bola yang berlokasi di Sabang. Akademi ini menjadi tempat pembibitan pemain muda berbakat dari seluruh Aceh, dengan pelatihan yang mengedepankan disiplin dan teknik dasar yang kuat.
Atmosfer pertandingan kandang di SHB terkenal sangat menekan bagi tim lawan. Suporter Persiraja, yang dikenal dengan nama “The Fans”, memiliki tradisi unik yaitu melakukan “Tari Saman Raksasa” di tribun. Ribuan suporter secara serempak melakukan gerakan tari Saman, lengkap dengan tepukan tangan dan nyanyian, menciptakan pemandangan yang spektakuler dan menggetarkan. Ritual ini biasanya dilakukan pada menit-menit awal pertandingan atau saat tim mencetak gol. Selain itu, koreografi tifo raksasa yang menggambarkan Rencong atau wajah pahlawan Aceh juga sering menghiasi tribun. Semua ini menjadikan SHB sebagai salah satu stadion paling bergairah di Indonesia, tempat di mana sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan perayaan identitas budaya.
Kultur Suporter & Identitas Sosial
Suporter Persiraja, “The Fans”, bukanlah sekadar kelompok pendukung biasa. Mereka adalah representasi dari semangat juang rakyat Aceh. Kelompok ini terbentuk secara informal pada era 1980-an dan resmi terorganisir pada tahun 2005 setelah konflik Aceh berakhir. Nama “The Fans” dipilih karena sederhana namun bermakna: mereka adalah penggemar sejati yang setia dalam suka dan duka. Di dalam The Fans, terdapat beberapa sub-kelompok seperti Ultras Persiraja dan Laskar Rencong Fans, yang masing-masing memiliki ciri khas dalam mendukung tim. Mereka terkenal dengan nyanyian-nyanyian bernada patriotik dalam bahasa Aceh, seperti “Aneuk Nanggroe” (Anak Negeri) yang menjadi lagu kebangsaan di tribun.
Hubungan emosional antara Persiraja dan komunitas Banda Aceh sangat mendalam. Sepak bola di Aceh bukan hanya hiburan, tetapi juga alat rekonsiliasi setelah konflik panjang. Setiap pertandingan Persiraja menjadi ajang untuk melupakan perbedaan dan bersatu dalam satu identitas: warga Aceh. Momen paling ikonik adalah saat Persiraja promosi ke Liga 1 pada 2019. Ribuan suporter membanjiri jalan-jalan di Banda Aceh, menari, bernyanyi, dan menangis haru. Pemerintah kota bahkan menyediakan panggung raksasa di Taman Sari untuk merayakan keberhasilan ini. Perayaan tersebut menunjukkan bahwa Persiraja adalah milik semua elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, dari pedagang kaki lima hingga pejabat daerah.
Namun, kultur suporter Persiraja juga tidak lepas dari kontroversi. Pada beberapa kesempatan, rivalitas dengan suporter tim lain, terutama Bonek (suporter Persebaya Surabaya) dan PSMS Medan, sempat memanas dan menyebabkan insiden kerusuhan. Meskipun demikian, The Fans terus berupaya untuk menjaga citra positif dengan mengedepankan nilai-nilai sportivitas. Mereka aktif dalam kegiatan sosial, seperti bakti sosial dan donor darah, yang menunjukkan bahwa suporter Persiraja tidak hanya fanatik di stadion, tetapi juga peduli terhadap sesama. Identitas sosial Persiraja sebagai klub yang lahir dari rahim konflik dan bencana justru memperkuat ikatan batin antara klub, suporter, dan tanah Aceh.
Sejarah Trofi & Pencapaian
Puncak kejayaan Persiraja terjadi pada tahun 1983 ketika mereka berhasil menjuarai Liga Indonesia Divisi Utama. Saat itu, Persiraja yang dilatih oleh M. Basri dan diperkuat pemain-pemain legendaris seperti Rusli, M. Yusuf, dan Zulkifli berhasil mengalahkan PSMS Medan di partai final. Gelar ini sangat bersejarah karena menjadikan Persiraja sebagai satu-satunya klub dari Pulau Sumatera yang pernah menjadi juara kompetisi kasta tertinggi Indonesia pada era Perserikatan. Trofi ini disambut dengan pesta rakyat yang meriah di seluruh Aceh. Selain itu, Persiraja juga pernah menjuarai Piala Kemerdekaan pada tahun yang sama, menjadikan tahun 1983 sebagai musim emas yang tak terlupakan.
Setelah era itu, Persiraja mengalami masa-masa sulit. Konflik Aceh yang berkepanjangan membuat klub ini vakum total pada periode 1999-2001. Selama dua tahun, tidak ada pertandingan resmi yang dimainkan, dan banyak pemain beralih profesi atau pindah ke klub lain. Namun, semangat untuk bangkit tidak pernah padam. Pada 2005, setelah perdamaian Aceh, Persiraja kembali aktif dan memulai perjalanan panjang dari divisi bawah. Pencapaian terbesar setelah era konflik adalah promosi ke Liga 1 Indonesia pada 2019, setelah finis di posisi runner-up Liga 2. Momen ini menjadi bukti bahwa Persiraja adalah klub yang tangguh, mampu bangkit dari keterpurukan.
Di level internasional, Persiraja pernah mewakili Indonesia di Liga Champions Asia pada 1984, setelah menjadi juara nasional. Meskipun langkah mereka terhenti di babak penyisihan grup, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Beberapa pemain Persiraja juga pernah dipanggil memperkuat Tim Nasional Indonesia, seperti Rusli dan Zulkifli di era 1980-an, serta Rudi dan Fahmi di era 2000-an. Rekor transfer pemain tertinggi Persiraja terjadi ketika mereka melepas M. Yusuf ke Persib Bandung pada 1985 dengan nilai yang sangat fantastis untuk ukuran saat itu. Di era modern, transfer Bruno Dybal ke klub Malaysia juga mencatatkan rekor penjualan yang menguntungkan klub. Semua pencapaian ini menegaskan bahwa Persiraja adalah klub dengan sejarah panjang dan prestasi yang membanggakan.
Pemain Legendaris & Skuad Terkini
Persiraja memiliki deretan pemain legendaris yang namanya terukir dalam sejarah klub. Rusli adalah salah satu striker paling haus gol yang pernah dimiliki klub ini. Ia menjadi top skor Liga Indonesia pada 1983 dengan 18 gol, dan kontribusinya sangat vital dalam membawa Persiraja meraih gelar juara. M. Yusuf adalah gelandang serang yang kreatif dan dikenal dengan umpan-umpan terobosannya yang mematikan. Ia menjadi motor serangan Persiraja selama bertahun-tahun. Zulkifli adalah bek tengah yang kokoh dan menjadi kapten tim saat juara 1983. Kepemimpinannya di lapangan menjadi panutan bagi pemain lain. Fahmi adalah kiper legendaris yang dikenal dengan refleksnya yang luar biasa dan kemampuannya dalam menghalau penalti. Rudi adalah gelandang bertahan yang menjadi jembatan antara lini belakang dan depan, dikenal dengan kerja kerasnya yang tanpa lelah.
Di era modern, pemain asing paling ikonik di Persiraja adalah Bruno Dybal asal Brasil. Gelandang serang ini memiliki skill individu yang tinggi dan sering menjadi pembeda dalam pertandingan. Ia menjadi idola suporter karena gaya bermainnya yang elegan dan kontribusinya dalam membawa Persiraja promosi ke Liga 1. Pemain asing lain yang tak kalah penting adalah Makan Konate, pemain sayap as
Ingin tahu berapa estimasi nilai pasar pemain-pemain Persiraja Banda Aceh menurut algoritma SBH? Cek di Kalkulator Nilai Pasar sekarang!
👤 SKUAD LENGKAP PERS
Penjaga Gawang
Bek
Achmad Jufriyanto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 1,5 Miliar
Aji Putra Kalampung
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Arif Satria
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Asnawi Mangkualam
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6,5 Miliar
Bio Paulin
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Bruno Moreira
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Charis Yulianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Daisuke Sato
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8 Miliar
Dane Milovanovic
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12,5 Miliar
Dedy Gusmawan
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Diego Assis
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12,5 Miliar
Dion Markx
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Fajar Faturahman
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Firza Andika
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 4,5 Miliar
Flabio Andrade
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Haykal Alhafiz
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Henhen Herdiana
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 4,5 Miliar
Indra Kahfi
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Irianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6,5 Miliar
Ismed Sofyan
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 300 Juta (Pensiun)
Jaimerson Xavier
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Kakang Rudianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8 Miliar
Leonard Tupamahu
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Muhammad Ferarri
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Muhammad Segu Samosir
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Nick Kuipers
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6,5 Miliar
Ondrej Kudela
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 1,2 Miliar
Otavio Dutra
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Paulo Henrique
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,2 Miliar
Rayhan Hannan
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Renan Alves
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Rendi Irwan
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Resky Fandi
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Rezaldi Hehanusa
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 4.5 Miliar
Rezaldi Hehanussa
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 5,5 Miliar
Rian Firmansyah
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Rizky Eka Putra
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Rizky Ridho
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Ryan Kurnia
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Slamet Nurcahyo
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8 Miliar
Thiago Ferreria
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12,5 Miliar
Willian Pacheco
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Yann Motta
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Gelandang
Achmad Maulana
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Ali Firmansyah
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Arsan Makarin
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Bayu Pradana
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Beckham Putra Nugraha
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Bima Sakti
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Braif Fatari
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Bruno Matos
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Brwa Nouri
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Dedi Hartono
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Erwin Gutawa
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Evan Dimas
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 4,5 Miliar
Evandro Brandao
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Febri Hariyadi
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Feby Eka Putra
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 4,8 Miliar
Gaston Castano
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Hanif Sjahbandi
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 4,5 Miliar
Hanno Behrens
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6 Miliar
Ilham Jaya Kesuma
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Jansen Lumbantoruan
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Jonathan Cantillana
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12,5 Miliar
M. Hargianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Makan Konate
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Marc Klok
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Matias Mier
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 2,5 Miliar
Michael Essien
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Nabil Husain
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,2 Miliar
Pablo Denizon
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Paulo Gali Freitas
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12,5 Miliar
Paulo Sergio
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12,5 Miliar
Rachmat Irianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Riko Simanjuntak
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Rocky Septian
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Ryo Matsumura
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,2 Miliar
Septian David Maulana
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 5 Miliar
Sho Yamamoto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Song Ui-young
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6,5 Miliar
Stefano Cugurra
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Syahrian Abimanyu
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Taisei Marukawa
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8 Miliar
Thom Haye
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 15 Miliar (€900 ribu)
Valeri Qazaishvili
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Vitinho
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Wiljan Pluim
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6,5 Miliar
Yakob Sayuri
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Zahaby Gholy
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 8,5 Miliar
Zanadin Fariz
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Ze Valente
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Penyerang
Ahmad Nur Hardianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,2 Miliar
Arkhan Kaka
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Bambang Pamungkas
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Boaz Solossa
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Ciro Alves
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 6,5 Miliar
David da Silva
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 15 Miliar
Dedik Setiawan
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 12 Miliar
Dimas Drajad
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Kurniawan Dwi Yulianto
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Matheus Pato
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Muhammad Rafli
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 3,5 Miliar
Ramadhan Sananta
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar
Witan Sulaeman
Indonesia
Nilai Pasar
Rp 7,5 Miliar