Sejarah 2017: Alasan PSSI Ubah Nama ISL Menjadi Liga 1
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Pada tanggal 20 Januari 2017, sejarah baru tercipta dalam tata kelola sepak bola nasional. Induk organisasi sepak bola Indonesia, PSSI, secara resmi mengumumkan perubahan nama dan struktur kompetisi profesional di tanah air. Kompetisi kasta tertinggi yang selama bertahun-tahun dikenal dengan nama bergengsi Indonesia Super League (ISL) secara resmi diganti menjadi Liga 1.
Keputusan ini tidak diambil secara mendadak. Pasca-berakhirnya sanksi pembekuan dari FIFA yang sempat menghentikan seluruh aktivitas sepak bola nasional pada tahun 2015, PSSI di bawah kepengurusan baru yang kala itu dipimpin oleh Edy Rahmayadi merasa perlu melakukan rebranding total. Tujuannya adalah untuk menghapus citra kelam masa lalu, termasuk luka dari era dualisme ISL dan LPI, serta memulai lembaran yang benar-benar baru dan segar.
Alasan Utama Penyederhanaan Nama
Ada beberapa alasan mendasar mengapa nomenklatur “Super League” ditinggalkan:
- Penyederhanaan dan Pemahaman Publik: PSSI menyadari bahwa hierarki kompetisi sebelumnya cukup membingungkan bagi masyarakat awam (ISL, Divisi Utama, dan Liga Nusantara). Dengan menggunakan angka, struktur kasta sepak bola menjadi jauh lebih sistematis, terstruktur, dan mudah diingat oleh siapa saja.
- Menghilangkan Kesan Kebarat-baratan: Penggunaan istilah bahasa Inggris “Super League” dianggap kurang relevan dengan semangat lokalisme yang ingin dibangun kembali. Nama “Liga 1” dirasa lebih merakyat dan mencerminkan identitas nasional.
- Simbol Kebangkitan: Perubahan nama ini adalah simbol pembersihan dan kebangkitan setelah masa kelam sanksi FIFA. Ini adalah restart bagi tata kelola kompetisi agar lebih profesional, transparan, dan memiliki nilai komersial yang jelas.
Penyelarasan Hierarki Kompetisi
Perubahan nama pada awal 2017 ini tidak hanya terjadi di kasta tertinggi, melainkan dilakukan secara serentak di seluruh piramida kompetisi sepak bola Indonesia. Kebijakan ini menciptakan sistem anak tangga yang logis:
- Kasta Tertinggi: Indonesia Super League (ISL) diubah menjadi Liga 1.
- Kasta Kedua: Divisi Utama diubah menjadi Liga 2.
- Kasta Ketiga: Liga Nusantara (Linus) amatir diubah menjadi Liga 3.
Langkah penyeragaman nomenklatur ini pada dasarnya mengikuti kesuksesan negara-negara lain yang menggunakan angka untuk menunjukkan tingkat hierarki kompetisi mereka (seperti Ligue 1 di Prancis atau J1 League di Jepang).
Dampak Jangka Panjang
Meskipun pada awalnya banyak suporter yang merasa kehilangan nama “Super League” yang sudah telanjur melekat dan terasa megah, seiring berjalannya waktu, nama “Liga 1” justru berhasil menancapkan identitas komersialnya sendiri. Dengan masuknya sponsor-sponsor besar, kompetisi ini kemudian dikenal dengan nama resminya sesuai sponsor, yang saat ini melekat kuat di benak penggemar sebagai BRI Liga 1.
Keputusan tanggal 20 Januari 2017 ini pada akhirnya membuktikan bahwa penyederhanaan adalah kunci. Sebuah langkah kecil dalam mengubah nama, namun menjadi lompatan besar dalam menata kembali piramida sepak bola Indonesia menuju era industri yang modern.
Referensi Utama: “PSSI Ubah ISL Jadi Liga 1”. Bola.net. 20 Januari 2017.
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


