Sejarah PSM Makassar: Klub Tertua Indonesia dari 1915 | SBH Nation
1915 Sekarang
calendar_today 20 April 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 20 Apr 2026

Sejarah PSM Makassar: Klub Tertua Indonesia dari 1915

bolt SBH Quick Take
  • PSM Makassar didirikan tahun 1915 dengan nama Makassar Voetbal Bond, menjadikannya klub sepak bola tertua yang masih aktif di Indonesia.
  • Klub ini meraih puncak kejayaan dengan menjadi juara Liga Indonesia 1999-2000 dan dikenal dengan basis suporter 'Laskar Ayam Jantan' yang sangat fanatik.
  • Warisan PSM adalah sebagai simbol kebanggaan regional Sulawesi Selatan yang bertahan melalui berbagai era, dari kolonial, perserikatan, hingga profesional.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

PSM Makassar bukan sekadar klub sepak bola — ia adalah artefak hidup sejarah Indonesia. Berdiri pada 1915 dengan nama Makassar Voetbal Bond, klub ini telah menyaksikan dan bertahan melewati tiga rezim politik, empat format kompetisi nasional, dan puluhan generasi pemain. Sejarahnya adalah cerminan dari semangat Sulawesi Selatan: keras kepala, penuh kebanggaan, dan tak pernah benar-benar mati meski terhempas badai. Dari lapangan tanah di era kolonial hingga panggung Liga 1 modern, PSM telah menjadi identitas yang menyatukan kota Makassar.

Asal-Usul & Pendirian

PSM lahir dari semangat olahraga di tengah cengkeraman kolonial.

Klub ini berdiri pada 2 November 1915 dengan nama Makassar Voetbal Bond (MVB), inisiatif dari kalangan masyarakat Belanda dan pribumi terpelajar di Ujung Pandang (kini Makassar). Konteksnya adalah era Politik Etis, di mana pendidikan dan asosiasi mulai terbuka bagi elite lokal. Sepak bola menjadi medium pergaulan sekaligus ekspresi identitas yang halus. MVB awalnya adalah wadah bagi berbagai perkumpulan kecil, namun lambat laun menjelma menjadi entitas tunggal yang mewakili kota. Pendiriannya tujuh tahun sebelum kelahiran Persib Bandung (1923) dan Persebaya (1927) menegaskan posisinya sebagai pionir. Klub ini bertahan melalui Depresi Besar dan pendudukan Jepang dengan mengubah nama menjadi Persatuan Sepakbola Makassar pada 1940-an, sebuah langkah nasionalistik di bawah tekanan perang.

Era Perserikatan / Galatama

Di era terfragmentasi ini, PSM menemukan jati dirinya sebagai kekuatan regional.

PSM adalah raja tak terbantahkan di wilayah Timur Indonesia selama era Perserikatan. Mereka menjadi juara kompetisi wilayah (Piala Wijaya) berkali-kali, menjadi gerbang utama bagi talenta-talenta Sulawesi menuju tim nasional. Namun, mereka selalu terhambat ketika berhadapan dengan kekuatan Jawa di babak nasional — sebuah narasi “warga kelas dua” yang memicu ambisi lebih besar. Ketika Galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang profesional digulirkan pada 1979, PSM memilih untuk tetap di Perserikatan hingga 1983. Keputusan ini mencerminkan sifat konservatif sekaligus kekuatan basis mereka yang tak perlu bergantung pada komersialisme awal. Karakter mereka terbentuk di sini: fisik tangguh, mengandalkan kecepatan sayap dan striker finisher, serta didukung fanatisme suporter yang sudah menjadi legenda. Mereka adalah tim yang paling ditakuti saat bermain di Kandangnya, Stadion Mattoanging.

Era Liga Indonesia Modern

Era ini adalah rollercoaster antara puncak prestasi dan jurang administrasi.

PSM meraih mahkota tertingginya dengan menjadi Juara Liga Indonesia 1999-2000 di bawah asuhan Rudy Keltjes. Tim yang dihiasi legenda seperti Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Bamba N’Diaye itu mempersembahkan gelar nasional pertama sekaligus terakhir (hingga 2026) untuk Sulawesi. Itu adalah puncak dari build-up play cepat dan serangan mematikan. Namun, kejayaan itu diikuti oleh periode kelam: degradasi pada 2006/2007, masalah finansial kronis, dan sanksi akibat kerusuhan suporter. Mereka seperti Phoenix, bangkit kembali ke Liga 1, bahkan menjadi runner-up pada 2019. Momen paling mengubah adalah kematian suporter mereka dalam insiden di Stadion Kanjuruhan (2022), yang menegaskan betapa emosional dan riskannya hubungan klub dengan Laskar Ayam Jantan. Di lapangan, mereka bertransformasi dari tim papan atas yang konsisten menjadi underdog yang sporadis mampu mengalahkan raksasa.

Rivalitas & Derby Legendaris

Rivalitas PSM dibangun di atas persaingan geografis dan dendam sejarah.

Persebaya Surabaya adalah rival abadi PSM. Pertemuan pertama mereka tercatat sejak era Perserikatan, tetapi api permusuhan menyala terang di final Liga Indonesia 1999-2000, di mana PSM mengalahkan Persebaya. Setiap pertemuan kedua tim, yang dijuluki “Derby Nusantara”, hampir pasti diwarnai ketegangan tinggi, kartu merah, dan counter-attack yang brutal. Persib Bandung juga menjadi rival sengit, lebih didasarkan pada persaingan antara dua klub tertua Indonesia dan gaya bermain yang kontras. Namun, rivalitas yang paling panas secara emosional adalah dengan Persipura Jayapura. Ini adalah perang saudara Timur, memperebutkan gelar sebagai tim terkuat di luar Jawa. Head-to-Head mereka selalu berlangsung keras, penuh teknik individu, dan sering menentukan perebutan gelar atau posisi papan atas. Insiden paling dikenang adalah kericuhan massal di Stadion Mandala (2015) yang menunda pertandingan selama berjam-jam.

Sosok Legenda Klub

Mereka adalah jiwa yang menggerakkan raksasa dari Selat Makassar ini.

  1. Ronny Pattinasarani: Sang “Maradona dari Timur”. Gelandang serang dengan dribel magis dan tendangan jarak jauh yang mematikan ini adalah ikon era 90-an. Kepindahannya dari Persebaya ke PSM pada 1994 adalah transfer sensasional dan ia menjadi otak kreatif di balik gelar juara 2000.
  2. Miro Baldo Bento: Striker asal Kroasia yang dinaturalisasi ini adalah mesin gol tak terbantahkan. Fisiknya kuat, finishing-nya dingin, dan menjadi simbol kepercayaan diri PSM di era keemasan. Namanya selalu disebut ketika membicarakan target man paling efektif dalam sejarah Liga Indonesia.
  3. Syamsuddin Chaeroe (Pelatih): Arsitek di balik kebangkitan awal PSM di era profesional. Chaeroe, yang juga legenda pemain, memahami karakter pemain lokal Sulawesi seperti tidak ada orang lain. Ia membangun fondasi taktis dan mental yang akhirnya membawa PSM juara.
  4. Kurniawan Dwi Yulianto: Meski hanya satu musim (1999-2000), kehadiran striker timnas Indonesia ini memberi legitimasi nasional bagi PSM. Gol-gol pentingnya di pentas Asia (Liga Champions AFC) membawa nama PSM ke kancah regional.

Kondisi Terkini (2026)

PSM berdiri di persimpangan antara warisan besar dan ketidakpastian masa depan.

Secara kompetitif, PSM (hingga musim 2025/2026) konsisten menjadi penghuni papan tengah Liga 1, sesekali mencicipi puncak klasemen tetapi kerap kekurangan konsistensi untuk bertarung hingga akhir. Mereka masih sangat bergantung pada bibit lokal Sulsel yang digabung dengan naturalisasi pemain asal Afrika atau Brasil. Basis suporter Laskar Ayam Jantan tetap menjadi yang paling fanatik dan terorganisir di Indonesia, meski beban sejarah insiden kerusuhan masih membayangi. Infrastruktur andalan mereka telah beralih dari Mattoangin yang bersejarah ke Stadion Gelora B.J. Habibie yang lebih modern, meski rasa “kandang” sejati bagi banyak pendukung tua masih ada di Mattoangin. Tantangan terbesar adalah tata kelola keuangan dan profesionalisme manajemen yang belum sepenuhnya mengimbangi besarnya nama dan dukungan massa. PSM adalah klub dengan jiwa raksasa, yang masih berjuang menemukan tubuh yang sepadan di era sepak bola modern.

Fakta KunciDetail
Berdiri2 November 1915
Total Gelar Liga1 (Liga Indonesia 1999-2000)
Kapasitas Stadion± 20.000 (Stadion Gelora B.J. Habibie)
JulukanJuku Eja (Ikan Merah), Ayam Jantan dari Timur
Warna KhasMerah dan Biru (Berduri)

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apakah PSM benar-benar klub tertua di Indonesia? Ya, berdasarkan dokumen pendirian resmi Makassar Voetbal Bond pada 2 November 1915, PSM diakui sebagai klub sepak bola tertua yang masih aktif berkompetisi hingga hari ini di Indonesia, lebih tua dari Persib (1923) atau Persebaya (1927).

Mengapa PSM dijuluki Juku Eja atau Ayam Jantan? “Juku Eja” (Ikan Merah dalam bahasa Makassar) merujuk pada warna kostum utama mereka, merah. Sementara “Ayam Jantan dari Timur” melambangkan sifat fighter, pantang menyerah, dan kebanggaan khas orang Sulawesi Selatan, yang diibaratkan seperti ayam jago yang selalu siap bertarung.

Apa prestasi terbesar PSM di kancah Asia? Prestasi

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel