10 Tahun Pep Guardiola di Man City: Rekor Gila, Trofi Segudang, dan Warisan Abadi
- Pep Guardiola memenangkan 20 trofi utama bersama Manchester City dalam 10 musim, termasuk 6 gelar Premier League.
- Dominasi City di era Pep tak tertandingi: rekor 100 poin, 4 gelar beruntun, dan transformasi total gaya bermain sepak bola Inggris.
- Kepergian Pep meninggalkan warisan taktis yang akan dikenang puluhan tahun, namun juga meninggalkan tekanan luar biasa bagi penerusnya.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
- ## Rekor 100 Poin dan Dominasi Premier League yang Brutal
- ## 20 Trofi Utama: Dari Treble Bersejarah hingga Piala Dunia Antarklub
- ## Transformasi Pemain: Dari Pemain Biasa Jadi Legenda
- ## Warisan Taktis yang Mengubah Premier League
- ## Akhir Sebuah Era: Apa Selanjutnya untuk Manchester City?
- Pertanyaan untuk Pembaca SBH Nation:
Pengumuman mengejutkan datang dari Etihad Stadium. Pep Guardiola, arsitek di balik dominasi absolut Manchester City selama satu dekade terakhir, resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada akhir musim 2025/2026. Kabar ini langsung mengguncang jagat sepak bola, terutama di Premier League yang sudah terbiasa dengan “tangan dingin” pelatih asal Spanyol tersebut. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, mari kita tengok kembali warisan statistik yang ia tinggalkan. Bukan sekadar angka, ini adalah catatan sejarah yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Inggris pada musim panas 2016, Guardiola datang dengan reputasi sebagai revolusioner taktik. Ia tidak hanya membawa trofi, tetapi juga mengubah cara pandang klub-klub Premier League terhadap penguasaan bola, pressing, dan positioning. Kini, setelah 10 tahun penuh drama, kemenangan manis, dan beberapa kontroversi, mari kita bedah sederet fakta mencengangkan dari era emas yang dibangun oleh pelatih yang akrab disapa “The Architect” ini.
## Rekor 100 Poin dan Dominasi Premier League yang Brutal
Salah satu pencapaian paling monumental dalam sejarah Premier League terjadi pada musim 2017/2018. Manchester City di bawah asuhan Pep Guardiola berhasil mengoleksi 100 poin dalam satu musim — sebuah rekor yang belum pernah terpecahkan hingga saat ini. Mereka juga mencetak 106 gol, hanya kebobolan 27 kali, dan mencatatkan 32 kemenangan dari 38 pertandingan. Ini bukan sekadar juara, ini adalah pernyataan dominasi total.
Namun, pencapaian itu hanyalah puncak gunung es. Guardiola kemudian mempersembahkan gelar Premier League pada musim 2018/2019 (dengan 98 poin), 2020/2021, 2021/2022, 2022/2023, dan 2023/2024. Total 6 gelar Premier League dalam 10 musim adalah angka yang mencengangkan. Ia juga menjadi pelatih pertama dalam sejarah Inggris yang memenangkan empat gelar liga berturut-turut (2021–2024).
Pencapaian ini semakin terasa luar biasa jika kita melihat intensitas persaingan di Premier League. Liverpool di era Jürgen Klopp, Arsenal di era Mikel Arteta, dan Manchester United di berbagai periode, semuanya berusaha keras menjatuhkan City. Tapi Guardiola selalu menemukan cara untuk bertahan di puncak. Ia membuktikan bahwa konsistensi adalah bentuk kehebatan yang paling langka.
Selain itu, City juga menjadi tim pertama yang meraih empat gelar Premier League berturut-turut, sebuah rekor yang sebelumnya dianggap mustahit di era modern sepak bola Inggris yang kompetitif. Guardiola tidak hanya menang, ia menciptakan standar baru tentang apa artinya menjadi tim dominan.
## 20 Trofi Utama: Dari Treble Bersejarah hingga Piala Dunia Antarklub
Jika ada satu kata yang melekat pada Guardiola, kata itu adalah “trofi”. Dalam 10 tahun di Manchester City, ia telah memenangkan 20 trofi utama, menjadikannya pelatih tersukses dalam sejarah klub. Rinciannya adalah sebagai berikut:
- Premier League: 6 (2017/18, 2018/19, 2020/21, 2021/22, 2022/23, 2023/24)
- Piala FA: 2 (2018/19, 2022/23)
- Piala Liga Inggris: 4 (2017/18, 2018/19, 2019/20, 2020/21)
- Community Shield: 3 (2018, 2019, 2024)
- Liga Champions UEFA: 1 (2022/23)
- Piala Super UEFA: 1 (2023)
- Piala Dunia Antarklub FIFA: 1 (2023)
Puncak dari semua pencapaian ini tentu saja adalah Treble musim 2022/2023, ketika City berhasil memenangkan Premier League, Piala FA, dan Liga Champions dalam satu musim. Keberhasilan ini mengakhiri penantian panjang klub untuk menjuarai kompetisi elit Eropa, dan sekaligus mengukuhkan nama Guardiola sebagai salah satu pelatih terhebat sepanjang masa.
Trofi Liga Champions itu sangat istimewa. City harus mengalahkan Bayern Munchen, Real Madrid, dan akhirnya Inter Milan di final. Guardiola berhasil mematahkan kutukan “hanya bisa menang di Barcelona” dan membuktikan bahwa filosofinya bisa sukses di klub mana pun, termasuk di Inggris yang keras.
## Transformasi Pemain: Dari Pemain Biasa Jadi Legenda
Salah satu kejeniusan Guardiola yang sering luput dari statistik adalah kemampuannya mengubah pemain biasa menjadi pemain kelas dunia. Ia tidak hanya membeli bintang, ia menciptakannya. Contoh paling jelas adalah Kevin De Bruyne. Ketika Guardiola datang pada 2016, De Bruyne sudah bagus, tetapi Guardiola mengubahnya menjadi salah satu gelandang serang terbaik dalam sejarah Premier League. Ia memberikan kebebasan kepada De Bruyne untuk bergerak di “half-space”, memotong dari sayap, dan menjadi kreator utama tim.
Selain itu, ada Raheem Sterling yang di bawah Guardiola menjadi mesin gol dari sayap, John Stones yang dari bek tengah biasa menjelma menjadi bek modern yang piawai membangun serangan, dan Bernardo Silva yang menjadi pemain paling serbaguna di planet ini. Guardiola juga berhasil “menghidupkan kembali” karier Ilkay Gundogan, yang menjadi kapten dan pencetak gol krusial di berbagai momen penting.
Tak ketinggalan, Erling Haaland. Meskipun striker Norwegia itu sudah menjadi mesin gol di Dortmund, Guardiola berhasil mengintegrasikannya ke dalam sistem yang sudah mapan tanpa mengorbankan identitas tim. Hasilnya? Haaland mencetak 52 gol di semua kompetisi pada musim debutnya (2022/2023), memecahkan rekor gol dalam satu musim Premier League.
Guardiola juga dikenal sebagai pelatih yang “membunuh” pemain yang tidak cocok dengan sistemnya. Ia tanpa ampun melepas pemain seperti Joao Cancelo atau Leroy Sane ketika mereka mulai tidak disiplin secara taktis. Ini menunjukkan bahwa di bawah Guardiola, sistem selalu di atas segalanya.
## Warisan Taktis yang Mengubah Premier League
Jika kita berbicara tentang warisan, Guardiola meninggalkan lebih dari sekadar trofi. Ia mengubah cara bermain sepak bola di Inggris. Sebelum kedatangannya, Premier League dikenal dengan permainan cepat, fisik, dan langsung (direct play). Guardiola memperkenalkan konsep “positional play” dengan sangat detail: pemain harus berada di posisi yang tepat untuk membuka ruang, penguasaan bola bukan sekadar tujuan, tetapi alat untuk mengontrol ritme pertandingan.
Ia juga mempopulerkan peran “inverted full-back” di Premier League. Pemain seperti Joao Cancelo dan Kyle Walker sering diminta untuk masuk ke lini tengah saat tim menguasai bola, menciptakan keunggulan numerik di area tengah. Ini adalah taktik yang kini ditiru oleh hampir semua klub papan atas di Inggris.
Selain itu, Guardiola adalah master dari “high press”. Timnya tidak hanya menekan saat kehilangan bola, tetapi melakukannya dengan koordinasi yang sangat rapi. Setiap pemain tahu kapan harus menekan, ke mana harus bergerak, dan siapa yang harus di-cover. Ini membuat City menjadi salah satu tim paling sulit dikalahkan di dunia.
Guardiola juga mengubah ekspektasi terhadap kiper. Ederson bukan sekadar penjaga gawang, ia adalah pemain ke-11 yang bisa membangun serangan dari belakang dengan operan-operan akurat. Konsep “sweeper-keeper” ini kini menjadi standar di sepak bola modern.
## Akhir Sebuah Era: Apa Selanjutnya untuk Manchester City?
Dengan kepergian Guardiola, Manchester City menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Siapa pun yang datang setelahnya akan menghadapi tekanan luar biasa untuk mempertahankan standar yang sudah ditetapkan. Apakah mungkin untuk tetap dominan tanpa sang arsitek?
Beberapa nama seperti Mikel Arteta, Xabi Alonso, atau Roberto De Zerbi disebut-sebut sebagai calon pengganti. Namun, satu hal yang pasti: era Guardiola telah mengubah identitas City secara fundamental. Klub yang dulu dikenal sebagai “Noisy Neighbors” kini menjadi salah satu raksasa sepak bola Eropa.
Guardiola pergi dengan kepala tegak, meninggalkan warisan statistik yang hampir mustahil ditandingi. Ia membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal bagaimana Anda memainkannya. Dan selama satu dekade, tidak ada yang memainkannya lebih baik darinya.
Pertanyaan untuk Pembaca SBH Nation:
Menurut kalian, momen apakah yang paling berkesan dari 10 tahun Pep Guard
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


