Bom Dual Ownership: Klub Premier League Bisa Kehilangan Tiket Eropa Lagi, Liga 1 Wajib Waspada
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
- Ancaman Dual Ownership di Premier League
- Kasus Crystal Palace: Pelajaran Berharga
- Aturan UEFA: Ketat dan Tanpa Ampun
- Dampak ke Liga 1: Koneksi Multi-Klub Mulai Terlihat
- Dampak untuk Timnas Indonesia: Peluang atau Hambatan?
- Bayern Munich: Comeback Gila ala Kompany
- Roma: Kebobolan dari Sepak Pojok, Pukulan Telak
- Prediksi: Siapa yang akan Kehilangan Tiket Eropa?
- Closing: Apa Kata SBH Nation?
Crystal Palace nyaris gagal mentas ke kompetisi Eropa musim lalu gara-gara aturan dual ownership. Kini, Premier League kembali dihantui skenario serupa yang bisa membuat satu klub kehilangan tiket Eropa. SBH Nation perlu tahu ini karena aturan UEFA ini bisa berdampak langsung ke bursa transfer pemain Indonesia dan masa depan klub-klub Liga 1 yang mulai punya koneksi dengan grup multi-klub.
UEFA punya aturan ketat: satu pemilik tak boleh mengendalikan dua klub di kompetisi yang sama. Pelanggaran berarti klub dengan peringkat lebih rendah di liga harus rela tersungkur dari panggung Eropa. Data berbicara, hati tetap berdetak ” mari kita bedah bersama.
Ancaman Dual Ownership di Premier League
Musim panas 2025 jadi mimpi buruk bagi Crystal Palace. Klub yang finis di peringkat 7 Premier League itu harus gigit jari saat tahu tiket Conference League mereka melayang. Penyebabnya? John Textor, pemilik saham Palace yang juga punya Olympique Lyonnais dan Botafogo. UEFA menilai ini konflik kepentingan.
Kini, masalah yang sama mengintai klub lain. Brighton & Hove Albion dan Manchester City masuk radar. Brighton dimiliki Tony Bloom, yang juga punya Union Saint-Gilloise di Belgia dan Royal Excel Mouscron. City Football Group mengendalikan Manchester City, Girona, New York City FC, dan Palermo.
“Kami harus memastikan tidak ada satu pemilik yang punya pengaruh signifikan di dua klub yang sama-sama lolos ke Eropa,” ujar juru bicara UEFA kepada The Guardian.
Jika Brighton dan Union SG sama-sama lolos ke Liga Europa, salah satu harus rela menepi. Begitu pula jika Girona finis di zona Liga Champions bersama Manchester City. Ini bom waktu.
Kasus Crystal Palace: Pelajaran Berharga
Mari kita mundur ke Mei 2025. Crystal Palace tampil garang di bawah nahkoda Oliver Glasner. Mereka finis di peringkat 7, cukup untuk Europa Conference League. Namun, UEFA punya jurus lain.
John Textor memegang 45% saham Palace. Ia juga pemilik mayoritas Lyon dan Botafogo. Lyon finis di peringkat 6 Ligue 1 dan lolos ke Europa League. UEFA menilai Textor punya decisive influence di kedua klub. Palace pun diusir dari panggung Eropa.
Palace lalu mengajukan banding ke CAS (Pengadilan Arbitrase Olahraga). Mereka berargumen Textor bukan pemilik mayoritas. Namun, CAS menolak banding pada Juli 2025. Tiket Eropa Palace melayang. Newcastle United yang finis di peringkat 8 naik menggantikan.
Ini bukan kasus pertama. RB Leipzig dan Red Bull Salzburg pernah kena aturan serupa. UEFA memaksa Red Bull mengubah struktur kepemilikan Salzburg agar bisa main di Liga Champions musim yang sama. Bedanya, Red Bull patuh cepat. Textor dan Palace tak siap.
Aturan UEFA: Ketat dan Tanpa Ampun
UEFA memperketat aturan multi-club ownership sejak 2024. Pasal 5 UEFA Club Competitions Regulations menyebut: “Tak ada satu entitas pun yang boleh mengendalikan atau memiliki pengaruh signifikan di lebih dari satu klub peserta.”
Apa itu pengaruh signifikan? UEFA punya tiga kriteria:
- Memiliki lebih dari 30% saham
- Punya hak suara mayoritas di dewan direksi
- Terlibat langsung dalam manajemen harian klub
Brighton dan Union SG masuk dalam aturan ini. Tony Bloom punya 75% saham Union SG dan 66% saham Brighton. Jika keduanya lolos ke kompetisi Eropa yang sama, UEFA pasti turun tangan.
City Football Group (CFG) juga waspada. Mereka mengendalikan 13 klub di seluruh dunia. CEO Ferran Soriano sudah siapkan rencana darurat. Jika Girona lolos ke Liga Champions bersama City, CFG akan mengalihkan saham Girona ke blind trust.
“Kami belajar dari kasus Leipzig dan Salzburg. Kami punya firewall hukum yang kuat,” ujar Soriano ke Sky Sports.
Dampak ke Liga 1: Koneksi Multi-Klub Mulai Terlihat
SBH Nation mungkin bertanya, apa urusannya dengan sepak bola Indonesia? Jawabannya: banyak.
Liga 1 mulai terpapar fenomena multi-club ownership. Bali United punya kerja sama dengan AS Monaco dan Melbourne City. Persija Jakarta punya afiliasi dengan klub di Jepang. Persib Bandung menjalin hubungan dengan klub Eropa.
Jika aturan UEFA semakin ketat, klub-klub ini bisa kesulitan merekrut pemain dari klub sister. Bayangkan Bali United ingin meminjam bintang muda dari Monaco. UEFA bisa melarang jika Monaco main di Eropa dan Bali United dianggap bagian dari grup yang sama.
Dampak untuk Timnas Indonesia: Peluang atau Hambatan?
Aturan dual ownership juga berdampak pada pemain naturalisasi. Justin Hubner (Wolves) dan Ivar Jenner (Utrecht) bermain di klub yang terafiliasi dengan grup multi-klub. Wolves dan Utrecht sama-sama di bawah naungan Fosun Group dan Jordaan Group.
Jika kedua klub lolos ke Eropa, UEFA bisa melarang mereka meminjamkan pemain ke klub lain dalam grup yang sama. Ini bisa menghambat proses naturalisasi atau peminjaman pemain keturunan Indonesia.
Namun, ada sisi positif. Aturan ini memaksa klub-klub besar lebih transparan. Bali United bisa membangun struktur kepemilikan yang bersih. Ini langkah maju untuk profesionalisme Liga 1.
Bayern Munich: Comeback Gila ala Kompany
Dari Premier League, kita beralih ke Bundesliga. Bayern Munich baru saja pesta kemenangan dramatis atas Mainz. Tertinggal 0-2 di babak pertama, Die Roten bangkit dan menang 5-3.
Vincent Kompany, nahkoda Bayern, tampil garang dengan jurus gegenpressing total. Harry Kane mencetak dua gol, Jamal Musiala satu, dan Serge Gnabry dua. Pertandingan ini jadi bukti bahwa high risk high reward adalah senjata andalan Kompany.
“Kami percaya pada proses. Kami tahu lawan akan lelah di babak kedua,” ujar Kompany usai pertandingan.
Agenda Bayern selanjutnya? Ujian besar melawan PSG di semifinal Liga Champions. Kylian Mbappe dan kawan-kawan siap menjamu Bayern di Parc des Princes. Deg-degan bareng SBH Nation!
Roma: Kebobolan dari Sepak Pojok, Pukulan Telak
AS Roma harus tersungkur 2-3 dari Torino di Serie A. Gian Piero Gasperini, juru taktik Roma, mengakui kekalahan ini pukulan telak.
Masalah utama? Gol Torino datang dari skema set piece. Roma kebobolan dua gol dari sepak pojok. Ini jadi catatan merah untuk lini pertahanan Roma yang dibekap cedera.
Paulo Dybala tampil on fire dengan satu gol, tapi tak cukup. Roma kini tertinggal 5 poin dari zona Liga Champions. Target finis di empat besar mulai menjauh.
Prediksi: Siapa yang akan Kehilangan Tiket Eropa?
Kembali ke topik utama. Brighton dan Union SG sama-sama di zona Eropa musim ini. City dan Girona juga berpeluang. Siapa yang akan jadi korban berikutnya?
Brighton punya peringkat lebih tinggi di Premier League. Union SG finis di peringkat 3 Liga Belgia musim lalu. Jika UEFA memilih klub dengan peringkat lebih rendah, Union SG yang akan keluar. Tapi, ini belum pasti.
City dan Girona punya skenario berbeda. Girona finis di peringkat 2 La Liga musim lalu. Jika City juara Premier League, keduanya lolos ke Liga Champions. CFG siap mengalihkan saham Girona ke blind trust. Ini jadi solusi sementara.
Sebelum peluit akhir berbunyi, satu hal pasti: UEFA tak akan kompromi. Klub-klub harus patuh atau rela gigit jari.
Closing: Apa Kata SBH Nation?
Dual ownership bukan lagi isu elit Eropa. Ini sudah menyentuh Liga 1 dan Timnas Indonesia. Bali United, Persija, dan Persib harus belajar dari kasus Crystal Palace. Jangan sampai koneksi internasional justru jadi bumerang.
SBH Nation, menurutmu klub mana yang paling berisiko kehilangan tiket Eropa musim depan? Brighton atau Manchester City? Atau ada klub lain yang terancam? Tulis pendapatmu di kolom komentar! Jangan lupa share artikel ini ke grup WA sepak bola kamu. Biar SBH Nation selalu jadi yang paling update!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


