🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG :: 🔥 [ SBH NATION LIVE ] :: NEXT MATCH: EFL VS THE WORLD | 24 OKT | 19:00 WIB | KLASEMEN: #2 | 📊 LIHAT ANALISA PREDIKSI SEKARANG ::
EFL Siap Ubah Aturan Keuangan, Kesenjangan Championship dan League One Makin Leb | SBH.co.id | SBH Nation
premier league
calendar_today 14 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 14 Mei 2026

EFL Siap Ubah Aturan Keuangan, Kesenjangan Championship dan League One Makin Lebar

bolt SBH Quick Take
  • Klub Championship akan memilih aturan baru yang menyelaraskan batas pengeluaran mereka dengan Premier League, memungkinkan pengeluaran gaji lebih besar.
  • Di sisi lain, League One akan menerapkan pembatasan gaji yang lebih ketat, memperlebar kesenjangan finansial antar divisi.
  • Keputusan ini bisa memicu protes dari klub-klub kecil dan mengubah lanskap kompetisi di Inggris secara permanen.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Hari Jumat ini menjadi hari yang krusial bagi masa depan sepak bola Inggris. Klub-klub yang tergabung dalam English Football League (EFL) akan memberikan suara mereka pada serangkaian proposal perubahan regulasi keuangan yang kontroversial. Jika disetujui, perubahan ini secara fundamental akan mengubah keseimbangan kekuatan antara Championship dan League One, menciptakan apa yang disebut banyak pihak sebagai “dua kelas” yang semakin terpisah.

Sumber dari internal EFL mengonfirmasi bahwa pemungutan suara akan difokuskan pada dua isu utama: sistem rasio biaya skuad (Squad Cost Ratio/SCR) untuk Championship dan pembatasan gaji yang lebih ketat untuk League One. Ini bukan sekadar penyesuaian teknis; ini adalah perombakan besar yang bisa menentukan masa depan finansial puluhan klub.

Apa Itu Sistem Rasio Biaya Skuad (SCR) untuk Championship?

Proposal utama untuk divisi kedua tertinggi di Inggris ini adalah adopsi sistem yang sangat mirip dengan aturan Profit and Sustainability Rules (PSR) milik Premier League. Alih-alih hanya dibatasi oleh kerugian bersih seperti aturan FFP (Financial Fair Play) sebelumnya, klub Championship akan diizinkan untuk membelanjakan maksimal 85% dari pendapatan mereka untuk gaji, biaya transfer, dan biaya agen.

Yang menjadi kunci adalah bahwa batas ini akan diselaraskan dengan apa yang diterapkan di Premier League. Artinya, klub-klub yang baru terdegradasi atau yang memiliki pendapatan komersial besar (seperti Leeds United, Leicester City, atau Southampton) akan memiliki daya belanja yang jauh lebih besar. Bayangkan, klub Championship dengan pendapatan £50 juta per tahun bisa menghabiskan hingga £42,5 juta untuk gaji pemain. Sementara itu, klub yang lebih kecil dengan pendapatan £15 juta hanya bisa mengeluarkan maksimal £12,75 juta.

“Dengan SCR, kami tidak lagi melihat kerugian absolut, tetapi proporsi pendapatan. Ini adalah langkah untuk menyelaraskan Championship dengan ekosistem Premier League,” ujar seorang sumber yang dekat dengan negosiasi kepada SBH Nation. “Ini akan membuat Championship lebih kompetitif secara finansial, tetapi juga secara tidak langsung menciptakan ‘kasta’ baru di dalam divisi itu sendiri.”

League One Tercekik: Pembatasan Gaji yang Lebih Ketat

Sementara Championship bersiap untuk “membuka keran” dengan acuan Premier League, nasib sebaliknya justru menimpa League One. Proposal untuk divisi ketiga ini justru memperketat pembatasan pengeluaran. Klub-klub League One akan diwajibkan untuk tidak melebihi batas rasio gaji terhadap pendapatan yang lebih rendah, diperkirakan sekitar 60-65%, turun dari batas sebelumnya yang lebih longgar.

Ini adalah pukulan telak bagi ambisi klub-klub yang ingin promosi. Selama ini, banyak klub League One mengandalkan pengeluaran agresif untuk mengejar tiket ke Championship yang lebih kaya. Dengan aturan baru ini, mereka harus lebih berhati-hati. Kesenjangan antara klub Championship yang kaya dan klub League One yang tercekik akan semakin lebar. Sebuah klub yang baru saja promosi dari League One ke Championship akan menghadapi lompatan aturan yang sangat ekstrem: dari batas pengeluaran yang ketat ke batas yang terkait dengan pendapatan Premier League.

“Ini adalah resep untuk menciptakan divisi yang stagnan,” kritik seorang analis keuangan sepak bola kepada SBH Nation. “Klub-klub League One akan kesulitan bersaing, sementara klub Championship yang sudah kaya akan semakin mengakar di papan atas. Ini bukan tentang persaingan sehat, ini tentang melanggengkan kekuasaan.”

Dampak Langsung bagi Klub dan Pemain

Perubahan ini akan memiliki efek domino yang signifikan. Pertama, pasar transfer pemain akan terpolarisasi. Pemain-pemain bintang di League One akan menjadi target empuk bagi klub Championship yang memiliki daya beli lebih besar. Sementara itu, pemain-pemain yang gagal di Premier League akan lebih memilih bertahan di Championship daripada turun ke League One karena perbedaan gaji yang semakin mencolok.

Kedua, strategi rekrutmen klub akan berubah drastis. Klub Championship akan lebih agresif merekrut pemain dari luar negeri atau dari akademi Premier League dengan harga tinggi. Sementara klub League One harus lebih bergantung pada pemain muda, pemain pinjaman, dan pemain dengan status bebas transfer. Ini akan mengurangi daya tarik kompetitif League One secara keseluruhan.

Ketiga, tekanan pada pemilik klub akan meningkat. Klub-klub yang tidak mampu meningkatkan pendapatan komersial mereka di Championship akan tertinggal selamanya. Di League One, pemilik yang ambisius akan frustrasi karena dibatasi oleh aturan yang ketat, sementara pemilik yang hanya ingin “bertahan hidup” akan merasa aman. Ini bisa memicu gelombang protes dari para suporter yang menginginkan timnya lebih kompetitif.

Suara Pro dan Kontra: Antara Stabilitas dan Ambisi

Proposal ini tentu menuai pro dan kontra. Pendukungnya, yang sebagian besar adalah klub-klub kaya Championship, berargumen bahwa ini adalah langkah untuk menstabilkan keuangan klub. Dengan menyelaraskan aturan dengan Premier League, mereka berharap dapat menghindari kasus-kasus kebangkrutan seperti yang dialami oleh Derby County atau Bury di masa lalu. Mereka juga berargumen bahwa ini akan mencegah klub-klub yang ceroboh dalam mengelola keuangan.

Namun, suara kontra datang dari klub-klub kecil dan para pengamat sepak bola. Mereka menyebut ini sebagai “kudeta diam-diam” oleh klub-klub besar EFL. “Ini bukan tentang melindungi klub dari kebangkrutan, ini tentang melindungi posisi klub-klub kaya agar tidak tersaingi,” tulis seorang kolumnis sepak bola Inggris. “Jika Anda adalah klub kecil dengan stadion kecil dan basis suporter terbatas, Anda tidak akan pernah bisa bersaing dengan klub yang memiliki investor kaya atau pendapatan televisi besar.”

Para pengkritik juga khawatir bahwa ini akan mematikan mimpi “Cinderella Story” dalam sepak bola Inggris. Kisah klub kecil seperti Luton Town yang promosi ke Premier League mungkin akan menjadi semakin langka. Kesenjangan finansial yang terlalu lebar akan membuat setiap divisi menjadi seperti liga tertutup.

Apa yang Terjadi Jika Voting Gagal?

Pertanyaan besarnya adalah: apa yang terjadi jika proposal ini gagal? Jika klub-klub Championship menolak SCR, maka mereka akan tetap menggunakan aturan FFP lama yang seringkali rumit dan sulit ditegakkan. Namun, tekanan dari Premier League untuk menyelaraskan aturan kemungkinan besar akan terus ada.

Jika klub-klub League One menolak pembatasan gaji yang lebih ketat, maka mereka akan terus berada dalam sistem yang menurut EFL “tidak berkelanjutan”. Ini bisa memicu krisis keuangan di masa depan. Skenario terburuk adalah tidak ada kesepakatan, yang akan membuat EFL kembali ke status quo yang sudah rapuh.

Satu hal yang pasti: pemungutan suara Jumat ini adalah momen penting. Ini bukan sekadar tentang angka-angka di atas kertas, tetapi tentang filosofi sepak bola Inggris. Apakah sepak bola ingin menjadi kompetisi yang adil bagi semua, atau menjadi panggung bagi segelintir elit yang kaya raya? Jawabannya akan kita ketahui dalam beberapa jam ke depan.

Pertanyaan untuk Pembaca SBH Nation

Nah, Sobat SBH, bagaimana menurutmu? Apakah aturan baru ini adalah langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas keuangan klub-klub EFL, atau justru akan membunuh esensi persaingan yang sehat? Apakah kamu setuju dengan gagasan bahwa Championship harus diselaraskan dengan Premier League, meskipun itu berarti mengorbankan League One? Tulis pendapatmu di kolom komentar di bawah! Jangan lupa share artikel ini ke grup sepak bola favoritmu.


Jelajahi SBH Nation

📲 Gabung Channel Telegram SBH Nation untuk update bola terkini!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

SBH NATION BATTLEGROUND

SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?

VS

Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel