Keputusan Sekejap yang Bisa Menghempaskan Tottenham ke Jurang Neraka
- Keputusan VAR kontroversial dalam laga Tottenham vs Manchester City membuat Spurs gagal meraih kemenangan krusial.
- Kegagalan ini membuat Tottenham berada di ambang degradasi dan harus bergantung pada hasil pertandingan terakhir.
- Analisis SBH Nation menyoroti betapa rapuhnya mentalitas tim asuhan Ange Postecoglou di bawah tekanan.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
SBH.co.id – Bayangkan Anda adalah seorang pelatih sepak bola. Tim Anda bertahan hidup di Liga Premier dengan satu pertandingan tersisa. Lalu, dalam sekejap mata, sebuah keputusan VAR yang kontroversial menghancurkan semua harapan. Itulah yang kini dirasakan oleh para penggemar Tottenham Hotspur. Kekalahan dramatis dari Manchester City di pekan ke-37 bukan hanya soal tiga poin yang hilang, tetapi juga tentang sebuah keputusan sepersekian detik yang bisa menghempaskan mereka ke divisi Championship.
Kekalahan 0-1 dari Manchester City di Tottenham Hotspur Stadium pada Rabu malam (20/5/2026) menjadi pukulan telak. Gol semata wayang Erling Haaland yang tercipta setelah kontroversi handball yang tidak diberikan wasit menjadi perdebatan sengit. BBC Sport, dalam laporan eksklusif dari kepala penulis sepak bolanya, Phil McNulty, menyebut momen itu sebagai “panggilan sepersekian detik yang bisa menafikan keselamatan Spurs.” SBH Nation akan membedah tuntas momen tersebut dan dampaknya bagi masa depan klub London Utara.
## Momen Kontroversial: Handball atau Bukan?
Kontroversi bermula pada menit ke-78 saat kedudukan masih 0-0. Umpan silang dari sayap kanan Manchester City mengenai lengan bek Tottenham, Micky van de Ven, di dalam kotak penalti. Wasit awalnya tidak menganggapnya sebagai pelanggaran. Namun, VAR memanggilnya untuk meninjau ulang tayangan di monitor. Setelah menonton tayangan ulang selama beberapa menit, wasit memutuskan untuk memberikan penalti kepada City.
Keputusan ini sontak memicu kemarahan pemain dan pelatih Tottenham. Mereka berargumen bahwa posisi tangan Van de Ven tidak dalam posisi tidak wajar dan bola datang dengan kecepatan tinggi dari jarak dekat. Namun, berdasarkan aturan IFAB yang baru, handball tetap dianggap pelanggaran jika lengan pemain berada dalam posisi yang membuat tubuhnya menjadi lebih lebar secara tidak wajar. Dalam tayangan ulang, lengan Van de Ven memang sedikit terangkat dari samping tubuhnya.
Erling Haaland yang menjadi algojo penalti sukses mengeksekusi bola ke pojok kanan gawang. Gol itu menjadi satu-satunya dalam pertandingan yang sangat menentukan nasib Tottenham. Keputusan ini menjadi sorotan tajam karena terjadi di momen krusial dan dengan margin yang sangat tipis. Apakah itu handball? Ataukah itu keputusan yang terlalu keras? Perdebatan ini akan terus berlanjut, terutama jika Tottenham benar-benar terdegradasi pada akhir pekan nanti.
## Mentalitas Rontok: Ange Postecoglou dalam Tekanan
Di luar kontroversi VAR, kekalahan ini kembali menyoroti masalah mendasar Tottenham musim ini: mentalitas yang rapuh. Pelatih Ange Postecoglou datang dengan filosofi sepak bola menyerang yang indah, tetapi seringkali timnya gagal menunjukkan ketangguhan mental saat menghadapi tekanan.
Dalam pertandingan melawan City, Tottenham sebenarnya tampil cukup baik di babak pertama. Mereka berhasil meredam serangan City dan bahkan menciptakan beberapa peluang emas melalui James Maddison dan Son Heung-min. Namun, setelah gol penalti, tim seperti kehilangan arah. Mereka gagal membangun serangan balik yang efektif dan justru kebobolan beberapa peluang berbahaya lainnya.
Postecoglou sendiri mengakui kekalahan ini sangat menyakitkan. “Saya pikir kami pantas mendapatkan setidaknya satu poin,” ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan. “Keputusan itu sangat sulit diterima. Tapi kami harus bangkit. Kami masih memiliki satu pertandingan lagi, dan kami harus memenangkannya.” Namun, nada bicaranya terdengar lebih seperti seorang pelatih yang putus asa daripada seorang motivator.
## Peta Degradasi: Nasib Ada di Tangan Sendiri (atau Orang Lain?)
Dengan kekalahan ini, posisi Tottenham di klasemen semakin terpuruk. Mereka kini berada di peringkat ke-17 dengan 35 poin, hanya unggul satu poin dari zona degradasi. Leicester City yang berada di peringkat ke-18 memiliki 34 poin, sementara Southampton (peringkat ke-19) dan Leeds United (peringkat ke-20) sudah dipastikan turun kasta.
Pada pekan terakhir, Tottenham akan bertandang ke markas Liverpool yang masih berjuang untuk finis di posisi empat besar. Sementara itu, Leicester City akan menjamu Everton yang sudah aman dari degradasi. Situasi ini membuat Tottenham harus menang di Anfield untuk mengamankan tempat mereka di Premier League musim depan.
Namun, jika Leicester City juga menang dan Tottenham hanya bermain imbang atau kalah, maka Spurs yang akan turun kasta. Ini adalah skenario mimpi buruk bagi para penggemar Tottenham. Klub yang baru saja merayakan 150 tahun berdirinya, kini terancam mengalami degradasi untuk pertama kalinya dalam sejarah Premier League.
## Dampak Jangka Panjang: Dari Stadion Baru ke Jurang Championship
Degradasi akan menjadi bencana besar bagi Tottenham. Klub ini baru saja menyelesaikan pembangunan stadion baru yang megah, Tottenham Hotspur Stadium, yang menelan biaya lebih dari £1 miliar. Stadion ini dirancang untuk menjadi pusat komersial dan hiburan, dengan konser dan acara olahraga lainnya. Namun, tanpa sepak bola Premier League, daya tarik komersial stadion ini akan berkurang drastis.
Selain itu, degradasi akan memaksa Tottenham melepas pemain-pemain bintangnya. Pemain seperti Harry Kane, Son Heung-min, dan James Maddison pasti akan hengkang ke klub lain yang masih bermain di Premier League atau Liga Champions. Ange Postecoglou sendiri posisinya sudah di ujung tanduk. Jika ia gagal menyelamatkan tim dari degradasi, ia hampir pasti akan dipecat.
Namun, ada juga sisi positif yang bisa diambil. Degradasi bisa menjadi momen “reboot” bagi Tottenham. Klub bisa membersihkan pemain-pemain dengan gaji tinggi yang tidak berkontribusi, memberikan kesempatan kepada pemain muda dari akademi, dan membangun kembali tim dengan filosofi yang lebih kuat. Namun, itu semua adalah rencana jangka panjang. Saat ini, yang terpenting adalah bertahan hidup di Premier League.
## Pertanyaan untuk Pembaca
Keputusan kontroversial itu memang sangat menentukan. Namun, apakah Tottenham pantas untuk selamat? Ataukah degradasi justru menjadi hukuman yang adil bagi tim yang gagal menunjukkan mentalitas juara sepanjang musim?
Menurut kalian, apakah Tottenham akan selamat dari degradasi pada pekan terakhir nanti? Ataukah mereka sudah harus pasrah dengan nasib turun kasta? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
Cek juga: Klasemen Premier League Terbaru dan analisis taktis mingguan kami.
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


