Media Vietnam Remehkan Skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Strategi atau Sekadar Gimmick?
- Media Vietnam meremehkan skuad Timnas Indonesia yang mayoritas diisi pemain Liga 1 untuk Piala AFF 2026.
- Tanpa Jay Idzes, Thom Haye, dan pemain abroad lainnya, Tim Garuda dianggap lemah oleh media Vietnam.
- Keputusan STY memanggil pemain lokal bisa menjadi bumerang atau justru kejutan besar di turnamen.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Polemik seputar pemanggilan pemain untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 kembali mencuat. Kali ini, bukan dari dalam negeri, melainkan dari media Vietnam yang dengan terang-terangan meremehkan kekuatan skuad Garuda. Mereka menilai bahwa tanpa kehadiran para pemain abroad seperti Jay Idzes, Thom Haye, atau Rafael Struick, tim asuhan Shin Tae-yong hanyalah “macan ompong” yang mudah dikalahkan.
Benarkah demikian? Atau justru ini adalah bagian dari strategi psikologis yang sudah biasa dilakukan media Vietnam menjelang turnamen? Mari kita bedah tuntas.
Kronologi dan Isi Pernyataan Media Vietnam
Semua bermula dari pengumuman daftar 23 pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan (TC) Piala AFF 2026. Yang mengejutkan, nama-nama seperti Jay Idzes, Eliano Reijnders, dan pemain abroad lainnya absen. Shin Tae-yong memutuskan untuk mengandalkan pemain-pemain lokal yang mayoritas berasal dari Persija Jakarta, Persib Bandung, dan klub-klub Liga 1 lainnya.
Melihat situasi ini, media Vietnam, The Thao 247, langsung bereaksi. Mereka menulis artikel dengan judul yang cukup provokatif, intinya menyebut bahwa skuad Timnas Indonesia kali ini adalah yang terlemah dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menyoroti absennya para pemain yang tampil solid di Kualifikasi Piala Dunia 2026, dan menganggap bahwa tanpa mereka, Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan kekuatan penuh Vietnam.
Lebih lanjut, mereka juga menyoroti minimnya pengalaman internasional dari para pemain lokal yang dipanggil. Mereka mengklaim bahwa pemain-pemain Liga 1 belum terbukti mampu tampil di level turnamen seketat Piala AFF. Pernyataan ini tentu saja memicu reaksi dari para penggemar sepak bola Indonesia di media sosial.
Analisis Taktis: Apakah Skuad Ini Benar-Benar Lemah?
Mari kita lihat dari kacamata taktis. Memang benar, tanpa Jay Idzes, lini belakang Indonesia kehilangan sosok pemimpin yang tenang dan kuat dalam duel udara. Namun, Shin Tae-yong bukannya tanpa opsi. Pemain seperti Rizky Ridho dan Wahyu Prasetyo sudah sering bermain bersama dan memiliki chemistry yang baik. Mereka mungkin tidak setenar Idzes, tapi punya determinasi tinggi untuk membuktikan diri.
Di lini tengah, absennya Thom Haye memang terasa. Namun, kehadiran pemain seperti Marselino Ferdinan (jika dipanggil) atau Ricky Kambuaya bisa menjadi solusi. Kambuaya, misalnya, memiliki energi dan kemampuan dribbling yang bisa merepotkan pertahanan lawan. Di lini depan, meski tanpa Rafael Struick, ada nama-nama seperti Ramadhan Sananta atau Hokky Caraka yang punya naluri gol tajam.
Yang perlu diingat, Piala AFF seringkali menjadi ajang pembuktian bagi pemain lokal. Banyak pemain yang awalnya diragukan, justru tampil gemilang di turnamen ini. Mentalitas “underdog” bisa menjadi senjata ampuh bagi Indonesia. Media Vietnam mungkin lupa bahwa sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh tim dengan deretan pemain abroad, tetapi oleh tim yang paling kompak dan memiliki strategi yang tepat.
Dampak Psikologis: Antara Meremehkan dan Terjebak
Pernyataan media Vietnam ini jelas memiliki dua sisi. Di satu sisi, ini adalah bentuk tekanan psikologis klasik. Dengan meremehkan Indonesia, mereka berharap pemain Garuda menjadi kurang percaya diri atau justru bermain emosional dan mudah melakukan kesalahan.
Di sisi lain, ini bisa menjadi bumerang bagi Vietnam sendiri. Sejarah membuktikan bahwa tim yang diremehkan seringkali tampil di luar dugaan. Para pemain Indonesia pasti akan membaca pemberitaan tersebut. Alih-alih tertekan, mereka bisa jadi termotivasi untuk membungkam mulut media Vietnam di atas lapangan. Mereka akan bermain dengan “harga diri” yang dipertaruhkan.
Shin Tae-yong, sebagai pelatih berpengalaman, pasti sudah mengantisipasi hal ini. Ia kemungkinan akan menggunakan pernyataan media Vietnam sebagai bahan bakar motivasi di ruang ganti. Ia akan menekankan bahwa tidak ada yang percaya pada mereka, dan hanya dengan kerja keras serta kekompakan, mereka bisa membalikkan ekspektasi.
Implikasi ke Depan: Panggung Pembuktian bagi Liga 1
Piala AFF 2026 bukan hanya sekadar turnamen regional. Bagi para pemain lokal yang dipanggil, ini adalah panggung pembuktian yang sangat krusial. Mereka harus menunjukkan bahwa Liga 1 bukanlah kompetisi kelas dua, dan bahwa pemain Indonesia mampu bersaing tanpa harus selalu bergantung pada pemain abroad.
Kesuksesan atau kegagalan mereka akan berdampak besar pada persepsi publik. Jika mereka mampu tampil impresif dan membawa Indonesia jauh, ini akan menjadi bukti bahwa pembinaan usia muda dan kompetisi lokal berjalan di jalur yang benar. Namun, jika mereka gagal, kritik pedas tentu akan kembali menghujani PSSI dan Shin Tae-yong.
Media Vietnam mungkin saat ini tertawa, tetapi kita semua tahu bahwa sepak bola penuh dengan kejutan. Skuad yang dianggap “lemah” di atas kertas, seringkali justru menjadi tim yang paling sulit dikalahkan. Saatnya para pemain Garuda membuktikan bahwa mereka bukanlah “King Indo” yang hanya sekadar julukan, tetapi raja sejati di Asia Tenggara.
Pertanyaan untuk Pembaca:
Menurut kalian, apakah keputusan Shin Tae-yong memanggil pemain lokal tanpa pemain abroad adalah langkah yang tepat untuk Piala AFF 2026, atau justru kesalahan besar yang akan membuat Indonesia tersingkir lebih awal? Bagaimana prediksi kalian untuk laga melawan Vietnam nanti? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
Cek juga: Profil Lengkap Pemain Timnas Indonesia dan berita eksklusif skuad Garuda.
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


