Mohamed Salah dan Andy Robertson: Legenda Abadi yang Pamit dari Anfield | SBH.co.id | SBH Nation
internasional
calendar_today 23 Mei 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 23 Mei 2026

Mohamed Salah dan Andy Robertson: Legenda Abadi yang Pamit dari Anfield

bolt SBH Quick Take
  • Mohamed Salah dan Andy Robertson akan meninggalkan Liverpool di akhir musim 2025/26.
  • Keduanya merupakan pilar utama era keemasan Liverpool bersama Jurgen Klopp.
  • Warisan mereka tidak hanya trofi, tetapi juga identitas permainan yang agresif dan penuh hati.
format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Minggu sore di Anfield akan terasa begitu berbeda. Bukan hanya karena laga melawan Brentford adalah penutup musim, tetapi karena dua nama besar, Mohamed Salah dan Andy Robertson, akan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Dua pemain yang direkrut dalam rentang waktu yang hampir bersamaan di musim panas 2017 itu akan meninggalkan stadion yang telah menjadi rumah mereka selama sembilan musim penuh. Bukan sekadar pemain, mereka adalah simbol kebangkitan Liverpool di era modern.

Cerita ini bukanlah tentang akhir yang menyedihkan, melainkan perayaan atas perjalanan luar biasa yang telah mereka ukir bersama. Dari seorang pemain sayap yang “gagal” di Chelsea hingga seorang bek kiri yang direkrut dari klub degradasi, keduanya menjelma menjadi tulang punggung tim yang merebut segalanya. Mari kita bedah lebih dalam mengapa nama mereka akan terukir emas dalam sejarah Liverpool.

## Dari “Pembelian Gagal” Menjadi Mesin Gol Anfield

Ketika Liverpool mengumumkan kedatangan Mohamed Salah dari AS Roma dengan mahar sekitar £36,9 juta pada Juni 2017, banyak yang mengernyitkan dahi. Rekam jejaknya di Chelsea sebelumnya terbilang suram—hanya mencetak dua gol dalam 13 penampilan. Namun, Jurgen Klopp melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat seorang pemain dengan kecepatan eksplosif dan naluri gol yang tajam, yang hanya perlu sistem yang tepat untuk berkembang.

Dan benar saja, Salah langsung meledak. Di musim perdananya, ia memecahkan rekor jumlah gol dalam satu musim Premier League (32 gol) dan membawa Liverpool ke final Liga Champions. Sejak saat itu, ia tidak pernah berhenti. Setiap musim, ia selalu menjadi andalan di lini depan. Statistiknya berbicara lantang: lebih dari 200 gol untuk Liverpool, tiga kali menjadi top skor Premier League, dan segudang assist yang membuatnya menjadi salah satu pemain paling produktif di dunia.

Salah bukan hanya seorang pencetak gol. Ia adalah pemain yang hadir di momen-momen krusial. Ingat gol-golnya ke gawang Manchester City, atau tendangan bebasnya yang mematikan? Ia adalah pemain yang membuat tribun Anfield bergemuruh dengan sorakan “Mo Salah, Mo Salah, running down the wing!” Lebih dari itu, ia adalah simbol ambisi. Ketika tim lain goyah, Salah selalu menjadi titik api yang menyalakan semangat juang. Kepergiannya meninggalkan lubang yang sangat besar, tidak hanya di sayap kanan, tetapi juga di hati para suporter.

## Dari Hull City Menjadi Bek Kiri Terbaik Dunia

Di sisi lain lapangan, kisah Andy Robertson adalah dongeng yang tak kalah menarik. Ia bergabung dari Hull City, klub yang baru saja terdegradasi, dengan harga hanya £8 juta pada Juli 2017. Saat itu, banyak yang menganggapnya sebagai pembelian spekulatif. Namun, Klopp kembali membuktikan instingnya.

Robertson dengan cepat mengambil alih posisi bek kiri dan tidak pernah menoleh ke belakang. Dengan stamina tanpa batas, kemampuan overlap yang brilian, dan akurasi umpan silang yang mematikan, ia menjadi bagian integral dari sistem sepak bola agresif ala Klopp. Ia dan Trent Alexander-Arnold di sisi kanan membentuk duet full-back paling produktif dalam sejarah Premier League, menyumbang puluhan assist setiap musim.

Yang membuat Robertson begitu istimewa adalah karakternya. Ia adalah kapten di lapangan dalam arti yang sebenarnya. Ia bukan tipe pemain yang diam; ia selalu berteriak, memotivasi, dan bahkan memarahi rekan setimnya jika diperlukan. Semangat juangnya yang tak kenal lelah dan kemampuannya untuk berlari sepanjang pertandingan membuatnya dijuluki “Duracell Bunny”. Ia memenangi gelar Liga Champions, Premier League, Piala FA, dan Piala Liga, serta menjadi kapten Liverpool di berbagai kesempatan. Kepergiannya akan membuat sisi kiri pertahanan Liverpool kehilangan sosok pemimpin yang karismatik.

## Warisan Trofi dan Identitas yang Tak Tergantikan

Keduanya bukan hanya sekadar pemain bintang, mereka adalah dua dari tiga pemain (bersama Virgil van Dijk) yang menjadi bagian dari setiap trofi besar yang diraih Liverpool di era Klopp. Bersama-sama, mereka mengangkat trofi Liga Champions 2019, Premier League 2020, Piala FA 2022, Piala Liga 2022 dan 2024, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Mereka adalah generasi emas yang mengembalikan Liverpool ke puncak sepak bola Inggris dan Eropa.

Namun, warisan mereka lebih dari sekadar trofi. Mereka adalah representasi dari filosofi Klopp: “heavy metal football” yang penuh intensitas, pressing tinggi, dan transisi cepat. Salah adalah ujung tombak dari serangan kilat, sementara Robertson adalah mesin yang terus berputar di sisi kiri. Tanpa mereka, mustahil membayangkan Liverpool bisa mendominasi seperti yang mereka lakukan di puncak kejayaan.

Pertandingan melawan Brentford pada Minggu nanti bukan sekadar laga penutup musim. Ini adalah perpisahan yang emosional. Anfield akan memberikan standing ovation yang panjang untuk dua putra terbaiknya. Mereka akan pergi sebagai legenda, sebagai pemain yang telah memberikan segalanya untuk jersey merah. Tidak ada yang bisa menggantikan apa yang telah mereka berikan. Mereka adalah bagian dari DNA Liverpool.

## Apa Selanjutnya untuk Liverpool Tanpa Dua Pilar?

Dengan kepergian Salah dan Robertson, Liverpool memasuki era baru yang penuh tantangan. Siapa yang akan mengisi kekosongan di sayap kanan? Siapa yang akan menjadi bek kiri utama? Lebih penting lagi, siapa yang akan mengambil alih peran kepemimpinan di ruang ganti? Arne Slot, yang kini memegang kendali, memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar.

Kepergian dua legenda ini berarti Liverpool kehilangan lebih dari sekadar kualitas teknis. Mereka kehilangan jiwa dan identitas tim. Namun, seperti kata pepatah, setiap akhir adalah awal yang baru. Para penggemar Liverpool harus percaya bahwa regenerasi adalah bagian dari sepak bola. Namun, tidak akan pernah ada lagi Mohamed Salah yang berlari di sayap kanan, atau Andy Robertson yang berlari tanpa henti di sisi kiri. Mereka adalah produk dari satu era yang sempurna, dan mereka akan selalu dikenang.

Pertanyaan untuk Sobat SBH Nation: Siapa yang menurut kalian akan lebih sulit digantikan oleh Liverpool: Mohamed Salah atau Andy Robertson? Atau adakah pemain lain yang juga layak masuk dalam jajaran legenda era Klopp? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel