Pertaruhan Ancelotti di Piala Dunia: Neymar Bukti Brasil Masih Haus Messi Sendiri
- Neymar, 34 tahun dan rentan cedera, dipanggil Ancelotti untuk Piala Dunia 2026.
- Keputusan ini menunjukkan obsesi Brasil memiliki 'Messi versi sendiri' sejak 2010.
- Tekanan politik dan komersial mengalahkan penilaian taktis, mengulang siklus kegagalan masa lalu.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Ketika Carlo Ancelotti mengumumkan skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026, satu nama membuat banyak pengamat mengernyitkan dahi: Neymar. Di usianya yang sudah 34 tahun, dengan riwayat cedera yang panjang dan karier yang perlahan meredup di Liga Arab Saudi, sang pelatih asal Italia itu justru memanggilnya. Bagi kita yang mengikuti sepak bola dunia, ini bukan sekadar keputusan teknis. Ini adalah pengakuan diam-diam bahwa Brasil — negara dengan lima gelar Piala Dunia — masih putus asa mencari seorang penyelamat, seorang ikon, seorang “Messi”-nya sendiri.
Keputusan Ancelotti ini, seperti yang diulas Jonathan Wilson di The Guardian, adalah sebuah pertaruhan besar. Seorang pelatih tersukses dalam sejarah Liga Champions, yang terkenal pragmatis, tiba-tiba mengambil langkah yang lebih terasa politis daripada taktis. Dan di balik itu semua, ada narasi panjang tentang trauma Brasil yang belum pulih sejak 2010.
Dari Masa Keemasan ke Obsesi Messi
Cerita dimulai saat Neymar melakoni debutnya untuk Brasil pada tahun 2010. Saat itu, Brasil baru saja tersingkir secara memalukan dari Piala Dunia Afrika Selatan oleh Belanda. Publik Samba haus akan pembaruan. Mereka butuh pahlawan baru. Dan di saat yang sama, di Argentina, seorang pemuda bernama Lionel Messi sudah bersinar terang di Barcelona dan mulai dianggap sebagai yang terbaik sepanjang masa.
Brasil, yang selama ini mendominasi sepak bola dengan gaya “jogo bonito”, merasa iri. Mereka merasa harus memiliki “Messi”-nya sendiri. Jadilah Neymar dipromosikan bukan hanya sebagai pemain bintang, melainkan sebagai simbol, sebagai jawaban atas inferioritas kompleks itu. Ini bukan soal sepak bola murni, ini soal politik identitas dan kebanggaan nasional. Selama 16 tahun, Neymar dibebani ekspektasi yang tidak masuk akal: menjadi Messi untuk Brasil.
Neymar yang Sudah Luntur, Tapi Tetap Tak Tersentuh
Kini, di tahun 2026, Neymar sudah bukan pemain yang dulu. Ia meninggalkan Eropa menuju Al-Hilal, lalu pindah ke klub Brasil, Santos FC. Fisiknya sudah tidak prima. Kecepatan dan kelincahannya yang dulu menjadi senjata utama, kini sudah jauh berkurang. Namun, namanya tetap menjadi magnet. Ancelotti, yang dikenal sebagai “pelatih pemain”, mungkin berpikir bahwa pengalaman Neymar di turnamen besar bisa menjadi aset.
Tapi jujur saja, ini adalah langkah mundur. Brasil saat ini punya generasi emas baru: Vinicius Junior, Rodrygo, Endrick, Raphinha. Mereka adalah pemain yang sedang naik daun, cepat, dan haus gol. Dengan memanggil Neymar, Ancelotti justru menciptakan dilema: apakah Anda memainkan Neymar yang sudah luntur demi gengsi, atau memainkan Vinicius yang sedang on-fire? Jika Neymar gagal tampil, ia akan menjadi beban. Jika ia tidak dimainkan, publik akan bertanya, “Kenapa dipanggil?”
Tekanan Politik di Balik Keputusan Ancelotti
Salah satu aspek paling menarik dari artikel Wilson adalah bagaimana ia mengungkap tekanan politik yang dihadapi Ancelotti. Pelatih sekaliber Ancelotti pun tidak bisa lepas dari kepentingan federasi dan sponsor. Neymar adalah mesin pemasukan. Jersey dengan nama Neymar laris manis. Hak siar televisi akan lebih mahal jika nama besar Neymar ada di skuad. Ini adalah realitas pahit sepak bola modern: komersialisasi sering mengalahkan akal sehat taktis.
Ancelotti, yang sudah memenangkan segalanya di level klub, mungkin merasa aman secara karier. Namun, di Brasil, reputasi tidak cukup. Pelatih sekaliber Luiz Felipe Scolari pun dipecat setelah gagal di Piala Dunia 2014. Jika Brasil gagal di 2026, Ancelotti akan menjadi kambing hitam, dan keputusan memanggil Neymar akan menjadi salah satu alasan utamanya. Ini adalah pertaruhan yang sangat berisiko, dan tampaknya tidak didasarkan pada data atau performa terkini.
Implikasi untuk Timnas Brasil dan Masa Depan
Apa artinya ini untuk Brasil? Pertama, ini menunjukkan bahwa mentalitas “penyelamat tunggal” masih mengakar kuat. Brasil tidak percaya pada kekuatan kolektif. Mereka selalu mencari satu pemain yang bisa membawa mereka menang sendirian. Padahal, tim-tim seperti Argentina di 2022 atau Prancis di 2018 justru menang karena soliditas tim, bukan karena satu bintang.
Kedua, keputusan ini bisa menghambat perkembangan pemain muda. Endrick, misalnya, adalah striker muda berbakat yang butuh menit bermain. Jika Neymar mengambil tempat di skuad, bahkan jika hanya sebagai pemain pengganti, itu berarti satu pemain muda kehilangan kesempatan berharga untuk belajar di panggung terbesar.
Ketiga, ini adalah pengakuan bahwa Brasil masih terobsesi dengan masa lalu. Mereka ingin mengulang era 2002, ketika Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho memimpin. Tapi sepak bola telah berubah. High press, transisi cepat, dan pressing kolektif adalah kunci. Neymar, dengan gaya bermain yang lambat dan cenderung individu, justru bisa menjadi titik lemah dalam sistem modern.
Kesimpulan: Sebuah Pertaruhan yang Berbahaya
Pada akhirnya, keputusan Carlo Ancelotti memanggil Neymar adalah simbol dari kegagalan sistem pembinaan Brasil. Mereka masih terperangkap dalam nostalgia dan obsesi memiliki “Messi”-nya sendiri. Ini bukan soal kualitas Neymar, tapi soal beban yang diletakkan di pundaknya. Ancelotti, dengan segala pengalamannya, mungkin berpikir dia bisa mengelola ego dan fisik Neymar. Tapi dalam sepak bola modern, tidak ada tempat untuk sentimen.
Brasil harus memenangkan Piala Dunia 2026. Jika gagal, kita akan melihat lagi siklus yang sama: mencari kambing hitam, mengganti pelatih, dan memulai lagi obsesi mencari bintang baru. Dan Neymar, yang sudah memberikan segalanya, akan menjadi korban dari sistem yang tidak pernah benar-benar percaya pada proses.
Pertanyaan untuk pembaca SBH Nation: Menurut kalian, apakah keputusan Ancelotti memanggil Neymar adalah langkah cerdas untuk pengalaman, atau justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan peluang Brasil di Piala Dunia 2026? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


