Peta Jalan Rahasia Arsenal: Lima Fase Menuju Takhta Premier League
- Arsenal sukses juara Premier League 2025/26 berkat rencana lima fase yang dimulai sejak 2019.
- Mikel Arteta dan Edu merancang strategi jangka panjang yang fokus pada pembangunan skuad, budaya klub, dan rekrutmen cerdas.
- Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kesabaran dan 'trust the process' mampu mengembalikan kejayaan Arsenal.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
SBH.co.id – Jakarta. Gelar Premier League yang diraih Arsenal pada musim 2025/26 bukanlah sebuah kebetulan atau keberuntungan belaka. Di balik trofi yang kini menghiasi etalase Emirates Stadium, terdapat sebuah peta jalan ambisius yang telah dirancang dengan cermat oleh manajer Mikel Arteta dan Direktur Olahraga Edu. Untuk pertama kalinya, ESPN mengungkap detail dari strategi lima fase yang menjadi fondasi kebangkitan The Gunners.
Proyek ini dimulai pada tahun 2019, saat Arsenal berada dalam titik terendah. Klub baru saja ditinggalkan Arsène Wenger, dan performa di lapangan sangat buruk. Namun, alih-alih mencari solusi instan, Arteta dan Edu memilih untuk membangun dari akar rumput. “Kami harus jujur tentang posisi kami saat itu,” kata Arteta dalam wawancara eksklusif. “Kami tidak bisa bersaing dengan Manchester City atau Liverpool dalam semalam. Jadi, kami membuat rencana jangka panjang.”
Fase Satu: Membersihkan Sisa-sisa Masa Lalu (2019-2020)
Fase pertama adalah yang paling berat. Arteta dan Edu harus mengambil keputusan sulit untuk melepas pemain-pemain senior yang dianggap tidak lagi sejalan dengan visi klub. Nama-nama seperti Mesut Özil, Pierre-Emerick Aubameyang, dan beberapa pemain lain dengan kontrak besar harus rela didepak. Ini bukan hanya soal performa, tetapi juga soal membangun budaya baru.
“Kami membutuhkan pemain yang lapar, yang mau berlari untuk satu sama lain,” tegas Edu. “Bukan pemain yang hanya datang untuk gaji.” Pada fase ini, Arsenal juga mulai merekrut pemain muda berbakat seperti Gabriel Martinelli dan Kieran Tierney, yang dianggap memiliki mentalitas baja. Meskipun hasil di lapangan belum maksimal, fondasi sudah mulai diletakkan.
Fase Dua: Membangun Identitas dan Kultur (2020-2022)
Setelah “membersihkan rumah”, fase kedua fokus pada pembentukan identitas permainan. Arteta, yang merupakan murid dari Pep Guardiola, mulai menerapkan filosofi sepak bola penguasaan bola yang ketat. Namun, ia juga sadar bahwa ia tidak bisa langsung meniru Manchester City secara membabi buta.
Fase ini ditandai dengan kedatangan pemain-pemain yang menjadi tulang punggung saat ini: Martin Ødegaard, Ben White, dan Aaron Ramsdale. Yang paling krusial adalah penunjukan Ødegaard sebagai kapten. Seorang pemuda pendiam yang memimpin dengan contoh, bukan dengan teriakan. “Dia adalah perpanjangan tangan saya di lapangan,” puji Arteta. Di fase ini, Arsenal mulai menunjukkan konsistensi, meskipun masih gagal finis di empat besar pada musim 2021/22.
Fase Tiga: Menembus Zona Liga Champions (2022-2024)
Ini adalah fase transisi yang paling krusial. Arsenal harus kembali ke Liga Champions untuk menarik pemain bintang dan meningkatkan pendapatan klub. Target ini tercapai pada musim 2022/23, meskipun pada akhirnya mereka kehilangan gelar Premier League secara dramatis dari Manchester City.
Namun, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Arteta menyadari bahwa skuadnya masih kurang dalam hal kedalaman dan pengalaman. Di fase inilah mereka mendatangkan Declan Rice dengan rekor transfer klub. Rice bukan hanya pemain berkualitas, tetapi juga seorang pemenuh haus kemenangan. “Dia membawa energi yang berbeda ke ruang ganti,” aku Arteta.
Fase Empat: Menjadi Penantang Serius (2024-2026)
Setelah kembali ke Liga Champions dan memperkuat skuad, Arsenal masuk ke fase keempat: menjadi penantang serius. Mereka tidak lagi hanya sekadar tim yang ikut meramaikan, tetapi tim yang harus diperhitungkan untuk memenangkan segalanya.
Fase ini adalah puncak dari “trust the process”. Arteta mulai memvariasikan taktiknya. Jika sebelumnya Arsenal terlalu bergantung pada penguasaan bola, kini mereka bisa bermain lebih pragmatis. Pertahanan yang solid menjadi kunci. Mereka juga mulai merekrut pemain dengan pengalaman juara, seperti Kai Havertz dan Jurriën Timber. Pada musim 2025/26, Arsenal berhasil finis di puncak klasemen dengan selisih poin yang nyaman.
Fase Lima: Penguasaan dan Keberlanjutan (2026-Sekarang)
Kini, Arsenal telah mencapai fase kelima: penguasaan. Targetnya bukan hanya satu gelar, tetapi dominasi jangka panjang seperti yang dilakukan Manchester United di era Sir Alex Ferguson atau Manchester City di era Guardiola. “Kami tidak boleh berpuas diri,” peringatan Arteta. “Ini adalah awal dari perjalanan baru.”
Fase ini menuntut Arsenal untuk terus berinovasi. Mereka harus mempertahankan pemain kunci, merekrut bakat muda, dan menjaga budaya klub tetap kuat. Dengan adanya infrastruktur yang sudah kokoh dan skuad yang masih muda, potensi untuk terus bersaing sangat besar. Para penggemar Arsenal di Indonesia, yang dikenal dengan julukan “Gooners”, kini bisa tersenyum lebar setelah menunggu lebih dari dua dekade.
Pertanyaan untuk Pembaca: Menurut kalian, bisakah Arsenal mempertahankan dominasi mereka di Premier League seperti yang dilakukan Manchester City, atau akankah musim depan menjadi cerita yang berbeda? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
Cek juga: Klasemen Premier League Terbaru dan analisis taktis mingguan kami.
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


