Resmi! Maurizio Sarri Hengkang dari Lazio, Kisah Pelatih Rokok Berakhir di Roma
- Maurizio Sarri resmi meninggalkan Lazio melalui kesepakatan bersama setelah rentetan hasil buruk.
- Kepergian Sarri meninggalkan warisan taktis yang khas namun juga kekecewaan karena gagal membawa Lazio ke level elite.
- Lazio kini harus mencari pelatih baru di tengah tekanan fans yang menginginkan perubahan total.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
- Perpisahan di Tengah Asap Rokok: Akhir Sebuah Era
- Kronologi Kejatuhan: Dari Papan Atas Menuju Zona Abu-Abu
- Warisan ‘Sarri-ball’ di Lazio: Antara Indah dan Gagal
- Dampak di Ruang Ganti: Siapa yang Paling Terpukul?
- Analisis SBH Nation: Apa Selanjutnya untuk Lazio?
- Masa Depan Sarri: Pensiun atau Tantangan Baru?
- Pertanyaan untuk Pembaca
Perpisahan di Tengah Asap Rokok: Akhir Sebuah Era
Kabar mengejutkan datang dari ibukota Italia. Lazio secara resmi mengumumkan perpisahan dengan pelatih kepala mereka, Maurizio Sarri, melalui kesepakatan bersama (mutual consent). Keputusan ini diambil setelah serangkaian hasil buruk yang mengguncang posisi tim di klasemen Serie A. Klub yang bermarkas di Stadio Olimpico itu bahkan mengunggah video perpisahan yang menyentuh, menampilkan momen-momen ikonik Sarri di pinggir lapangan—termasuk kebiasaannya yang terkenal, yaitu merokok dengan tenang di bench meski tensi pertandingan sedang tinggi.
Bagi pecinta sepak bola Indonesia, nama Sarri mungkin identik dengan gaya bermain Sarri-ball yang indah, atau dengan sosok kontroversial yang tak pernah lepas dari rokoknya. Namun, di balik semua itu, keputusan ini menandai kegagalan proyek ambisius Lazio untuk kembali ke papan atas Eropa.
Kronologi Kejatuhan: Dari Papan Atas Menuju Zona Abu-Abu
Musim 2025/2026 sebenarnya dimulai dengan cukup menjanjikan bagi Lazio. Sarri berhasil mempertahankan identitas permainan penguasaan bola dan high press yang menjadi ciri khasnya. Namun, memasuki paruh kedua musim, performa tim ambruk drastis. Lazio yang tadinya bersaing di zona Liga Champions perlahan tergusur ke peringkat 8 klasemen.
Beberapa kekalahan telak, termasuk saat dibantai Inter Milan 3-0 dan dipermalukan oleh tim papan bawah, membuat ruang ganti mulai panas. Hubungan Sarri dengan beberapa pemain kunci, seperti Ciro Immobile dan Luis Alberto, dikabarkan mulai renggang. Sarri, yang dikenal keras kepala dengan filosofinya, tidak mau mengubah pendekatan taktisnya meski hasilnya tidak maksimal. Hal ini menjadi bom waktu yang akhirnya meledak setelah kekalahan mengecewakan dari Udinese di pekan lalu.
Warisan ‘Sarri-ball’ di Lazio: Antara Indah dan Gagal
Selama hampir dua musim membesut Lazio, Sarri meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Filsafat Sarri-ball—yang menekankan umpan-umpan pendek, pergerakan tanpa bola yang cepat, dan penguasaan area tengah—berhasil mengubah gaya bermain Lazio yang sebelumnya lebih pragmatis di era Simone Inzaghi.
Namun, masalahnya adalah konsistensi. Lazio di bawah Sarri seringkali tampil brilian melawan tim besar, tetapi justru kehilangan poin melawan tim kecil. Hal ini membuat para penggemar frustrasi. Mereka melihat potensi besar yang tidak bisa dimaksimalkan. Data dari Understat menunjukkan bahwa expected goals (xG) Lazio termasuk yang tertinggi di Serie A, tetapi konversi menjadi gol sangat buruk. Inilah yang menjadi “duri dalam daging” Sarri di Roma.
Dampak di Ruang Ganti: Siapa yang Paling Terpukul?
Kepergian Sarri memiliki dampak berbeda bagi setiap pemain. Bagi Mattia Zaccagni dan Sergej Milinkovic-Savic (yang sudah hengkang ke Arab Saudi musim lalu), sistem Sarri sangat cocok. Namun, bagi Immobile, yang lebih terbiasa dengan serangan balik cepat, era Sarri adalah masa yang penuh penyesuaian.
Yang menarik adalah situasi Luis Alberto. Gelandang asal Spanyol itu sempat bersitegang dengan Sarri karena seringkali ditarik keluar lebih awal. Kini, dengan kepergian pelatih, Luis Alberto bisa menjadi sosok yang kembali dominan—atau justru ikut meminta hengkang jika pelatih baru tidak cocok.
Analisis SBH Nation: Apa Selanjutnya untuk Lazio?
Dari sudut pandang taktis, Lazio kehilangan seorang arsitek murni. Namun, mungkin ini saatnya mereka mencari pelatih yang lebih pragmatis dan fleksibel. Nama-nama seperti Igor Tudor atau Raffaele Palladino mulai dikaitkan dengan posisi panas ini.
SBH Nation menilai bahwa langkah ini sebenarnya sudah terlambat. Seharusnya, manajemen Lazio mengambil keputusan lebih awal, misalnya saat jeda internasional, agar pelatih baru punya waktu mempersiapkan strategi. Sekarang, mereka hanya punya sisa beberapa pekan untuk menyelamatkan musim.
Masa Depan Sarri: Pensiun atau Tantangan Baru?
Banyak yang bertanya, apakah Maurizio Sarri akan pensiun? Di usianya yang ke-67 tahun, Sarri terlihat lelah dengan tekanan sepak bola modern. Namun, gosip terbaru mengatakan bahwa beberapa klub dari Liga Primer Inggris dan Arab Saudi sudah mulai mendekatinya.
Yang pasti, Sarri akan meninggalkan Lazio dengan kepala tegak. Ia adalah pelatih yang membawa Napoli bermain seperti tim top Eropa, memenangkan Liga Europa bersama Chelsea, dan membawa Juventus meraih Scudetto. Meski gagal di Lazio, warisannya sebagai salah satu pemikir taktis terbaik Italia tetap tak terbantahkan.
Pertanyaan untuk Pembaca
Halo, Skuad SBH Nation! Kita semua pasti punya opini soal drama di Roma ini. Menurut kalian, siapa pelatih yang paling cocok untuk menggantikan Maurizio Sarri di Lazio? Apakah harus pelatih Italia yang paham kultur Serie A, atau justru pelatih asing dengan gaya baru? Tulis pendapat kalian di kolom komentar, ya! Jangan lupa share artikel ini ke teman-teman pecinta sepak bola Italia lainnya. Forza Lazio!
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain racikan tim analis SBH Nation!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
SIAPA YANG BAKAL
HANCUR MINGGU INI?
Klik tim pilihanmu untuk analisa mendalam
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


