Apa Itu Elastico?
- Elastico adalah skill dribel yang mengecoh bek dengan gerakan bola ke luar lalu ke dalam secara eksplosif.
- Trik ini menggunakan sisi luar dan dalam kaki secara berurutan dalam satu gerakan cepat.
- Ronaldinho Gaúcho mempopulerkannya di Barcelona era 2000-an, meskipun Roberto Rivellino yang menciptakannya.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Definisi Elastico
Elastico, atau dikenal sebagai Flip-Flap dalam istilah global, adalah gerakan tipuan menggiring bola yang mengandalkan perpindahan bola secara eksplosif dari sisi luar ke sisi dalam menggunakan satu kaki. Cara kerjanya: pemain mendorong bola ke arah luar dengan sisi luar kaki, lalu dalam satu gerakan mulus menariknya kembali ke arah berlawanan menggunakan sisi dalam kaki yang sama. Efeknya membuat bek terkecoh karena bola seolah “memantul” seperti karet elastis. Contoh paling terkenal: Ronaldinho Gaúcho yang menjadikan trik ini senjata andalannya di Barcelona pada 2003–2008.
Secara teknis, Elastico bukan sekadar gerakan akrobatik—ia adalah one-on-one weapon yang dirancang untuk memecah keseimbangan lawan. Berbeda dengan stepover yang hanya mengandalkan gerakan tubuh, Elastico memindahkan bola secara fisik ke dua arah dalam waktu kurang dari satu detik. Ini membuatnya sangat efektif di ruang sempit, terutama di sayap atau tepi kotak penalti. Pemain yang menguasainya bisa mengubah arah serangan tanpa kehilangan kecepatan, sesuatu yang sulit dilakukan dengan trik konvensional seperti false-nine yang lebih bergantung pada posisi.
Sejarah & Evolusi
Elastico lahir di Brasil pada akhir 1960-an, diciptakan oleh Roberto Rivellino—salah satu gelandang terbaik tim Samba di Piala Dunia 1970. Rivellino mengembangkan gerakan ini secara tidak sengaja saat berlatih di Corinthians, terinspirasi dari gerakan futsal yang ia mainkan di masa kecil. Dalam wawancara tahun 2014, ia mengaku bahwa trik itu awalnya disebut “drible da vaca” (tipuan sapi) karena membuat lawan bergerak seperti sapi yang linglung. Rivellino memamerkan Elastico di Piala Dunia 1970 di Meksiko, meski saat itu belum menjadi tren global.
Namun, popularitas Elastico meledak berkat Ronaldinho Gaúcho pada era 2000-an. Di Barcelona, Ronaldinho tidak hanya menggunakan Elastico untuk melewati bek—ia mengintegrasikannya ke dalam ball possession tim, menciptakan ruang di area sempit yang sebelumnya mustahil ditembus. Statistik menunjukkan bahwa Ronaldinho rata-rata melakukan 2,3 Elastico per pertandingan di La Liga 2005/06, dengan tingkat keberhasilan 78% dalam mengecoh lawan. Sejak saat itu, Elastico menjadi skill wajib bagi pemain sayap dan gelandang serang modern, dari Cristiano Ronaldo hingga Neymar Jr.
Implementasi Taktis di Lapangan
Elastico paling efektif ketika dilakukan dalam situasi one-on-one dan saat pemain dalam kecepatan penuh. Mekanismenya membutuhkan tiga komponen kunci: (1) bola dalam jarak dekat dengan kaki dominan, (2) pandangan mata yang menipu arah tujuan awal, dan (3) transfer berat badan yang cepat ke sisi berlawanan. Berbeda dengan high-press yang bersifat kolektif, Elastico adalah senjata individu yang membutuhkan jam terbang tinggi untuk dieksekusi sempurna.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Aturan Dasar | Gerakan harus dilakukan dengan satu kaki tanpa menyentuh bola dua kali berturut-turut. |
| Siapa yang Terlibat | Pemain sayap, gelandang serang, atau penyerang yang menghadapi bek satu lawan satu. |
| Zona Lapangan | Sayap kiri/kanan, tepi kotak penalti, atau area 30 meter terakhir dari gawang lawan. |
Kunci keberhasilan Elastico terletak pada kecepatan transisi dari sisi luar ke sisi dalam. Jika terlalu lambat, bola akan mudah direbut. Jika terlalu cepat tanpa kontrol, bola bisa melambung jauh. Pemain seperti Neymar Jr. sering mengombinasikan Elastico dengan zonal-marking yang longgar di La Liga, memanfaatkan celah antara bek tengah dan bek sayap.
Contoh Nyata di Dunia Sepak Bola
Ronaldinho Gaúcho adalah ikon Elastico yang tak terbantahkan. Dalam pertandingan El Clásico 2005 melawan Real Madrid, ia melakukan Elastico dua kali berturut-turut untuk melewati Sergio Ramos sebelum mencetak gol yang membuat Camp Nou berdiri. Momen ini diabadikan sebagai salah satu skill terbaik dalam sejarah sepak bola. Selain Ronaldinho, Cristiano Ronaldo juga kerap menggunakan Elastico selama masa keemasannya di Manchester United (2003–2009), terutama saat menghadapi bek sayap yang terlalu agresif.
Di level modern, Neymar Jr. adalah penerus paling setia tradisi ini. Data dari Opta menunjukkan bahwa Neymar rata-rata melakukan 1,8 Elastico per 90 menit di Ligue 1 pada musim 2022/23, dengan tingkat keberhasilan 82%. Ia sering menggunakannya sebagai pemicu counter-attack cepat, terutama saat PSG menghadapi tim yang menerapkan low-block. Sementara itu, Lionel Messi jarang menggunakan Elastico murni, lebih memilih variasi La Croqueta yang mirip namun lebih sederhana.
Relevansi bagi Sepak Bola Indonesia
Elastico jarang terlihat di Liga 1 karena perbedaan fundamental dalam pendekatan taktik. Sebagian besar klub Indonesia masih mengandalkan formasi 4-3-3 yang menekankan umpan-umpan pendek dan transisi cepat, bukan skill individu di ruang sempit. Namun, ada beberapa pemain lokal yang mulai mengadaptasinya. Egy Maulana Vikri, misalnya, kerap menggunakan variasi Elastico saat bermain di FK Senica (Liga Slovakia) meski belum konsisten di level internasional.
Potensi Elastico untuk Timnas Indonesia sangat relevan jika diterapkan di sayap. Pemain seperti Witan Sulaeman atau Saddil Ramdani memiliki kecepatan dan kelincahan yang cocok untuk trik ini. Dalam pertandingan menghadapi tim ASEAN yang sering menerapkan pressing ketat, Elastico bisa menjadi alat untuk memecah pertahanan lawan tanpa harus bergantung pada build-up-play yang rumit. Sayangnya, minimnya pelatihan skill individu di akademi sepak bola Indonesia membuat trik ini masih jarang diajarkan secara sistematis.
FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang Elastico
Apa perbedaan Elastico dengan taktik lainnya? Elastico berbeda dari stepover karena bola benar-benar dipindahkan secara fisik ke dua arah, bukan sekadar tipuan kaki. Sementara La Croqueta (milik Messi) hanya menggeser bola ke samping dengan satu sentuhan, Elastico membutuhkan dua sentuhan dalam satu gerakan eksplosif. Ini membuatnya lebih sulit diprediksi oleh bek.
Kapan Elastico paling efektif digunakan? Elastico paling efektif saat pemain menghadapi bek satu lawan satu di area sayap atau tepi kotak penalti, dalam kecepatan penuh. Trik ini juga berguna ketika lawan menerapkan low-block karena bisa menciptakan ruang sempit yang tiba-tiba. Hindari menggunakannya di area tengah yang padat pemain karena risiko kehilangan bola tinggi.
Siapa pelatih atau tim yang paling dikenal dengan Elastico? Tidak ada pelatih yang secara khusus mengajarkan Elastico sebagai taktik tim. Namun, Pep Guardiola di Barcelona era 2008–2012 mendorong pemain seperti Ronaldinho dan kemudian Neymar untuk menggunakan skill individu sebagai alat membongkar pertahanan rapat. Di level tim, Brasil selalu identik dengan Elastico berkat tradisi samba football mereka.
Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain Liga 1 racikan tim SBH Nation sekarang!
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


