Derita Tottenham di Ambang Degradasi, Perpisahan Emosional Guardiola di Premier League
- Tottenham Hotspur harus menang atas Sheffield United sambil berharap hasil tim lain untuk selamat dari degradasi.
- Manchester City mengakhiri era Pep Guardiola setelah delapan musim penuh trofi dengan laga tandang melawan Fulham.
- Perubahan besar di papan bawah dan atas Premier League akan terjadi setelah pekan terakhir ini.
format_list_bulleted
Isi Artikel
expand_more
Pekan terakhir Premier League musim 2025/26 yang akan digelar serentak pada Minggu (24/5) malam WIB bukanlah sekadar penutup musim biasa. Ini adalah panggung drama paling mencekam dan penuh air mata dalam satu dekade terakhir. Di satu sisi, kita menyaksikan raksasa yang jatuh tersungkur—Tottenham Hotspur—yang kini berjibaku di jurang degradasi. Di sisi lain, kita menyaksikan perpisahan seorang maestro—Pep Guardiola—yang untuk terakhir kalinya duduk di bangku cadangan Manchester City di Premier League.
Dua narasi besar ini berpadu menjadi satu malam yang tak akan terlupakan oleh para pecinta sepak bola Inggris. Mari kita bedah secara mendalam setiap sudut cerita yang akan tercipta di akhir pekan ini.
Ancaman Degradasi Tottenham: Sebuah Tragedi yang Nyaris Terjadi
Bayangkan, klub sekelas Tottenham Hotspur yang memiliki stadion megah, skuad bertabur bintang, dan sejarah panjang sebagai penghuni papan atas, kini harus bergantung pada hasil pertandingan tim lain untuk bertahan di Premier League. Inilah kenyataan pahit yang dihadapi oleh anak asuh Ange Postecoglou.
Saat ini, Spurs berada di peringkat ke-17 klasemen dengan koleksi 38 poin, hanya unggul satu angka dari zona merah yang dihuni oleh Ipswich Town (37 poin) dan Leicester City (36 poin). Situasi ini sangat kritis. Tottenham wajib mengalahkan Sheffield United yang sudah pasti degradasi di kandang sendiri, Bramall Lane. Namun, kemenangan saja belum cukup. Mereka harus berharap Ipswich Town yang menjamu Brighton & Hove Albion tidak meraih kemenangan. Jika Ipswich menang, maka Tottenham—meski menang—akan tetap terdegradasi karena selisih gol yang buruk.
Apa yang salah dengan Tottenham musim ini? Cedera pemain kunci seperti James Maddison dan Son Heung-min yang kerap absen di saat krusial menjadi faktor utama. Namun, yang lebih parah adalah inkonsistensi taktik Postecoglou. Obsesinya terhadap sepak bola menyerang tanpa filter seringkali membuat lini belakang telanjang. Dalam lima laga terakhir, Tottenham kebobolan 14 gol! Ini adalah rekor terburuk di antara tim yang berjuang menghindari degradasi.
Jika Tottenham benar-benar terdegradasi, ini akan menjadi pukulan telak bagi reputasi Premier League. Kehilangan klub sebesar Spurs ke Championship akan mengurangi daya tarik kompetisi, terutama dari segi komersial dan rating televisi. Para penggemar di Indonesia pasti akan merasakan kehilangan yang besar jika tim kesayangan mereka harus turun kasta.
Perpisahan Guardiola: Akhir dari Sebuah Era Emas
Sementara itu, di ujung lain klasemen, Manchester City akan memainkan laga tandang melawan Fulham di Craven Cottage. Namun, fokus utama bukanlah hasil akhir—karena City sudah dipastikan finis di posisi kedua di bawah Liverpool—melainkan perpisahan dengan manajer legendaris mereka, Pep Guardiola.
Guardiola telah mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan Manchester City setelah delapan musim penuh dengan trofi. Empat gelar Premier League, dua Piala FA, tiga Piala Liga, dan satu mahkota Liga Champions menjadi bukti nyata dari revolusi yang ia cetak di Etihad. Gaya bermain “tiki-taka” versi City yang ia padukan dengan intensitas pressing tinggi telah mengubah cara pandang sepak bola Inggris.
Laga melawan Fulham akan menjadi panggung terakhir bagi Guardiola untuk memimpin timnya di Premier League. Pasti akan ada momen emosional saat ia berjalan ke arah tribun tandang untuk memberikan salam perpisahan kepada para pendukung setia Cityzens. Meski musim ini gagal mempertahankan gelar, Guardiola tetap meninggalkan warisan yang tak ternilai: sistem permainan, akademi yang subur, dan mentalitas juara yang melekat pada klub.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah: siapa yang akan menggantikan Guardiola? Nama-nama seperti Xabi Alonso, Julian Nagelsmann, hingga Mikel Arteta kembali santer disebut. Namun, siapa pun yang datang, ia harus siap mengisi sepatu yang sangat besar.
Dampak Besar bagi Peta Kekuatan Premier League
Pekan terakhir ini bukan sekadar penutup musim, melainkan awal dari pergeseran besar. Jika Tottenham terdegradasi, maka struktur papan bawah akan berubah drastis. Klub-klub seperti Leeds United, Southampton, atau West Brom yang kini berjuang di Championship akan melihat peluang promosi yang lebih besar. Sebaliknya, kepergian Spurs akan meninggalkan lubang besar—baik dari segi rivalitas (derby London Utara dengan Arsenal) maupun dari segi komersial.
Sementara itu, kepergian Guardiola dari Manchester City membuka peluang bagi klub-klub lain untuk merajai Premier League. Liverpool yang musim ini tampil dominan di bawah arahan Arne Slot, Arsenal yang terus berkembang, dan Manchester United yang mulai stabil, semuanya akan merasakan angin segar. Era dominasi City mungkin akan meredup, setidaknya untuk sementara waktu.
Bagi kami di ini adalah momen yang pahit manis. Sedih melihat Tottenham di ambang kehancuran, haru melihat perpisahan seorang pelatih jenius, dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu hal yang pasti: Premier League tidak akan pernah sama lagi setelah Minggu malam nanti.
Pertanyaan untuk Pembaca: Menurut kalian, apakah Tottenham layak selamat dari degradasi, atau justru ini saatnya mereka “reset” total di Championship? Dan siapa kandidat terkuat pengganti Pep Guardiola di Manchester City? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
Cek juga: Klasemen Premier League Terbaru dan analisis taktis mingguan kami.
Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!
Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.
Advertisement
Advertisement
Tentang Penulis
verified Head of Content & Founder
Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.


