Apa Itu Deep-Lying Forward? Penjelasan Lengkap Posisi Striker Turun | SBH Nation
posisi
calendar_today 20 April 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 20 Apr 2026

Apa Itu Deep-Lying Forward? Penjelasan Lengkap Posisi Striker Turun

format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Definisi Deep-Lying Forward

Dalam taksonomi sepak bola modern, posisi striker tidak lagi sekadar menjadi eksekutor akhir di kotak penalti. Salah satu peran yang paling menarik secara intelektual adalah deep-lying forward — seorang penyerang yang secara sadar memilih untuk bermain lebih dalam, sering kali di antara lini tengah dan pertahanan lawan, untuk menjemput bola dan membangun serangan.

Berbeda dengan false nine yang secara struktural tidak memiliki posisi tetap di lini depan, deep-lying forward tetap diakui sebagai penyerang utama. Namun, ia tidak menunggu bola di depan gawang. Ia turun ke lini tengah, menerima umpan dari gelandang, lalu mendistribusikan bola ke sayap atau rekan setim yang berlari dari belakang. Dengan kata lain, ia adalah jembatan antara fase membangun serangan dan fase penyelesaian akhir.

Peran ini membutuhkan kecerdasan spasial luar biasa, kemampuan membaca permainan setingkat gelandang serang, serta naluri mencetak gol yang tetap tajam. Seorang deep-lying forward harus bisa menjadi kreator sekaligus penyelesai.

Sejarah & Evolusi

Jika kita menelusuri sejarah, akar deep-lying forward bisa ditemukan pada era total football Belanda di 1970-an. Johan Cruyff, meskipun sering dianggap sebagai false nine, juga kerap memerankan deep-lying forward ketika ia turun ke lini tengah untuk mengatur tempo. Namun, peran ini baru mendapat nama dan pengakuan eksplisit di era modern.

Pada 1990-an dan awal 2000-an, Francesco Totti di AS Roma menjadi salah satu contoh paling murni. Ia adalah penyerang yang secara alami turun ke dalam, bukan karena instruksi taktis, melainkan karena instingnya untuk mengendalikan permainan. Di era yang sama, Alessandro Del Piero di Juventus juga sering memerankan peran serupa, terutama setelah cedera yang mengubah gaya bermainnya.

Puncak evolusi deep-lying forward terjadi di era Pep Guardiola bersama Lionel Messi di Barcelona. Meskipun Messi sering disebut false nine, dalam banyak pertandingan ia memerankan deep-lying forward yang turun ke lini tengah, menerima bola, lalu menusuk dari kedalaman. Bedanya, Messi melakukannya dengan kecepatan dan dribel yang mematikan.

Kini, peran ini semakin relevan di era sepak bola yang menuntut fleksibilitas dan fluiditas posisional. Pelatih seperti Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann kerap menggunakan deep-lying forward untuk menciptakan overload numerik di lini tengah.

Implementasi Taktis di Lapangan

Secara taktis, deep-lying forward hadir untuk memecahkan satu masalah utama: bagaimana menghubungkan lini tengah dan serangan ketika lawan memasang blok pertahanan rapat. Dengan turunnya penyerang utama, seorang bek tengah lawan akan dihadapkan pada dilema: ikuti ia keluar dari zona nyaman, atau biarkan ia menerima bola dengan bebas.

Berikut adalah tabel perbandingan antara deep-lying forward dengan beberapa peran striker lainnya:

AspekDeep-Lying ForwardTarget ManFalse NinePoacher
Zona operasi utamaAntara lini tengah & kotak penaltiDalam kotak penaltiDi lini tengahDalam kotak penalti
Tugas utamaMembangun serangan, distribusi bolaMemenangkan duel udara, menahan bolaMenarik bek, menciptakan ruangMenyelesaikan peluang
Kebutuhan fisikKuat, agresif, visiTinggi, kuat, fisik dominanCepat, lincah, teknisRefleks, positioning
Contoh pemainTotti, Del Piero, FirminoDzeko, GiroudMessi (era Guardiola)Inzaghi, Chicharito
Dampak ke lawanMembingungkan marking, overload tengahFiksasi bek tengahKekacauan strukturalAncaman konstan di belakang

Keuntungan utama dari deep-lying forward adalah kemampuannya menciptakan free man di lini tengah. Ketika ia turun, bek tengah lawan harus memutuskan: apakah akan mengikutinya (meninggalkan ruang di belakang) atau tetap di posisi (memberi waktu dan ruang bagi penyerang untuk berputar dan mengirim umpan terobosan). Kedua pilihan itu berbahaya.

Contoh Nyata di Dunia Sepak Bola

Untuk memahami deep-lying forward secara konkret, tidak ada contoh yang lebih baik selain Roberto Firmino di Liverpool era Jürgen Klopp. Firmino bukanlah penyerang dengan rekor gol mentereng — ia hanya mencetak 9 gol di liga pada musim 2019/20 saat Liverpool juara. Namun, kontribusinya dalam membangun serangan tak ternilai. Ia turun ke lini tengah, menarik bek lawan keluar, lalu memberikan assist atau ruang bagi Mohamed Salah dan Sadio Mané untuk menusuk dari sayap.

Di level lain, Harry Kane di Tottenham era Antonio Conte juga menunjukkan evolusi menjadi deep-lying forward. Kane yang dulunya target man kini lebih sering turun ke lini tengah, menerima bola, lalu melepaskan umpan silang ke sayap. Musim 2022/23, ia mencatatkan assist terbanyak dalam kariernya (14 assist), membuktikan bahwa seorang penyerang bisa tetap dominan tanpa harus selalu berada di kotak penalti.

Di luar dua nama itu, Karim Benzema di Real Madrid era Zinedine Zidane juga kerap memerankan peran ini, terutama setelah Cristiano Ronaldo hengkang. Benzema menjadi deep-lying forward sekaligus penyelesai akhir, kombinasi yang membuatnya memenangkan Ballon d’Or 2022.

Relevansi bagi Sepak Bola Indonesia

Di Indonesia, konsep deep-lying forward masih jarang diimplementasikan secara sadar. Liga 1 masih didominasi oleh target man klasik atau poacher yang menunggu di kotak penalti. Namun, potensi penerapan peran ini sangat besar, terutama jika dikaitkan dengan kebutuhan Timnas Indonesia di bawah arahan Shin Tae-yong.

Shin Tae-yong telah menunjukkan kecenderungan untuk bermain dengan formasi fleksibel, sering kali 4-3-3 atau 3-4-3. Dalam skema ini, ia membutuhkan penyerang yang bisa turun membantu lini tengah, terutama saat menghadapi lawan yang lebih kuat secara fisik. Sayangnya, pemain seperti Dimas Drajad atau Ramadhan Sananta lebih cocok sebagai target man atau poacher daripada deep-lying forward. Mereka butuh bola di kotak penalti, bukan di lini tengah.

Namun, ada secercah harapan. Egy Maulana Vikri, jika ditempatkan sebagai penyerang tengah, memiliki potensi menjadi deep-lying forward. Visi umpannya bagus, kemampuannya dalam link-up play cukup baik, dan ia tidak takut turun ke lini tengah. Masalahnya, Egy lebih sering dimainkan sebagai pemain sayap. Shin Tae-yong mungkin perlu bereksperimen dengan menempatkannya di posisi sentral untuk memaksimalkan potensi ini.

Di Liga 1, klub-klub seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung yang kerap mendominasi penguasaan bola bisa mendapatkan keuntungan besar dari deep-lying forward. Dengan memiliki penyerang yang bisa turun, mereka bisa menciptakan overload di lini tengah dan membuka ruang di sayap. Sayangnya, sebagian besar pelatih Liga 1 masih terjebak dalam pola pikir tradisional bahwa striker harus selalu berada di depan.

Jika Shin Tae-yong ingin membawa Timnas Indonesia ke level berikutnya, mengembangkan atau merekrut pemain dengan profil deep-lying forward bisa menjadi langkah revolusioner. Ini bukan hanya soal taktik, tetapi juga filosofi: bahwa sepak bola Indonesia tidak harus selalu bergantung pada fisik dan kecepatan, tetapi juga pada kecerdasan posisional dan kreativitas.

FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang Deep-Lying Forward

Apa perbedaan utama antara deep-lying forward dan false nine?
Perbedaan paling mendasar terletak pada posisi awal dan struktur formasi. False nine secara nominal tidak memiliki posisi tetap di lini depan — ia bisa berada di mana saja. Deep-lying forward tetap diakui sebagai striker utama, tetapi secara sadar memilih untuk turun ke lini tengah. Dalam praktiknya, false nine lebih sering beroperasi di lini tengah, sementara deep-lying forward memiliki rentang operasi yang lebih luas, dari lini tengah hingga kotak penalti.

Apakah deep-lying forward harus memiliki fisik yang kuat?
Tidak selalu, tetapi sangat membantu. Karena ia sering berduel dengan bek tengah lawan di area yang lebih dalam, kekuatan fisik menjadi aset penting. Namun, pemain seperti Francesco Totti atau Roberto Firmino membuktikan bahwa kecerdasan taktis dan visi bisa mengimbangi kekurangan fisik. Yang lebih penting adalah kemampuan menahan bola, visi umpan, dan naluri mencetak gol.

Bisakah deep-lying forward diterapkan di sepak bola Indonesia saat ini?
Secara konsep, bisa. Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan pemain dengan profil yang sesuai. Liga 1 belum banyak menghasilkan penyerang dengan kemampuan link-up play dan visi yang baik. Selain itu, budaya sepak bola Indonesia masih cenderung mengagungkan striker yang mencetak banyak gol, bukan yang membangun serangan. Dibutuhkan perubahan paradigma dari pelatih, pemain, dan suporter untuk menerima peran ini sebagai sesuatu yang bernilai taktis, bukan sekadar “striker yang tidak berani di depan”.

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain Liga 1 racikan tim SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel