Apa Itu Deep-Lying Playmaker? Definisi Lengkap & Contoh dalam Sepak Bola | - SBH.co.id
posisi
calendar_today 30 April 2026 · edit_note J. Ang · verified Fakta Diperiksa · Update: 30 Apr 2026

Apa Itu Deep-Lying Playmaker? Definisi Lengkap & Contoh dalam Sepak Bola

format_list_bulleted Isi Artikel
expand_more

Definisi Deep-Lying Playmaker

Deep-Lying Playmaker, atau sering disebut arsitek dari kedalaman, adalah gelandang yang beroperasi di area antara lini pertahanan dan lini tengah-biasanya di depan kotak penalti sendiri-untuk mengatur tempo permainan dan mendistribusikan bola ke seluruh lapangan. Berbeda dengan creative playmaker klasik yang bermain lebih tinggi di belakang striker, deep-lying playmaker justru memulai aksinya dari area yang lebih dalam. Tugas utamanya bukanlah mencetak gol atau memberikan assist langsung, melainkan menjadi pusat sirkulasi bola, membaca pergerakan lawan, dan memutuskan kapan harus mempercepat atau memperlambat permainan.

Posisi ini membutuhkan kombinasi langka antara visi permainan yang tajam, kemampuan passing jarak pendek dan panjang yang presisi, serta ketenangan luar biasa di bawah tekanan. Seorang deep-lying playmaker tidak harus memiliki kecepatan atau kekuatan fisik dominan, tetapi ia harus mampu membaca ruang dan waktu dengan sempurna. Ia adalah otak yang menggerakkan tubuh tim-tanpa ia, serangan seringkali kehilangan arah dan ritme.

Sejarah & Evolusi

Konsep deep-lying playmaker sebenarnya sudah ada sejak era 1950-an dan 1960-an, meskipun dengan nama yang berbeda. Di Italia, posisi ini dikenal sebagai regista-sebutan yang dipopulerkan oleh Andrea Pirlo pada awal 2000-an. Namun, akar sejarahnya bisa dilacak lebih jauh ke pemain seperti Juan Alberto Schiaffino (Uruguay) dan Luis Suárez (Spanyol) yang sering turun ke lini belakang untuk mengambil bola dan memulai serangan.

Evolusi besar terjadi ketika sepak bola modern mulai menekankan pressing tinggi dan transisi cepat. Pada era 1990-an, pemain seperti Fernando Redondo (Real Madrid) dan Pep Guardiola (Barcelona) menunjukkan bahwa seorang gelandang bertahan tidak hanya harus bertahan, tetapi juga menjadi first attacker. Guardiola, khususnya, adalah prototipe awal: ia tidak cepat atau kuat, tetapi kemampuan distribusinya membuat Barcelona mampu menguasai pertandingan dari lini belakang.

Puncak evolusi terjadi ketika Andrea Pirlo, di bawah asuhan Carlo Ancelotti di AC Milan, dipindahkan dari posisi trequartista menjadi regista di depan lini belakang. Langkah ini revolusioner. Pirlo tidak perlu lagi berlari ke sana kemari; ia cukup duduk di area yang dalam, menerima bola dari bek, dan melepaskan umpan-umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan. Sejak saat itu, deep-lying playmaker menjadi posisi yang sangat dihargai di sepak bola Eropa.

Implementasi Taktis di Lapangan

Dalam implementasi taktis, deep-lying playmaker biasanya ditempatkan sebagai gelandang sentral dalam formasi 4-3-3, 4-2-3-1, atau 3-4-3. Ia sering menjadi poros segitiga lini tengah, dengan dua gelandang lain yang lebih mobile di sekitarnya. Saat tim menguasai bola, ia akan turun ke area bek tengah untuk menciptakan overload numerik di lini belakang, memaksa lawan keluar dari posisi dan membuka ruang di lini tengah.

Salah satu momen kritis adalah saat build-up phase. Deep-lying playmaker harus mampu menerima bola di bawah tekanan, lalu dalam hitungan detik memutuskan apakah akan memberikan umpan pendek ke bek sayap, umpan diagonal ke sayap seberang, atau umpan terobosan ke gelandang serang. Keputusan ini harus diambil dengan kecepatan mental yang tinggi, karena satu detik keterlambatan bisa berarti kehilangan momentum.

Tabel berikut menunjukkan perbandingan statistik taktis antara deep-lying playmaker dan gelandang bertahan murni di lima liga top Eropa musim 2025/26 (data hingga Maret 2026):

MetrikDeep-Lying Playmaker (rata-rata)Gelandang Bertahan Murni (rata-rata)
Umpan per 90 menit85.462.1
Akurasi umpan89.2%84.5%
Umpan progresif per 9012.76.3
Intersep per 902.13.8
Tekel per 901.84.2
Peluang diciptakan per 901.90.7

Data di atas menunjukkan bahwa deep-lying playmaker lebih fokus pada distribusi dan kreativitas, sementara gelandang bertahan murni lebih dominan dalam aspek defensif. Deep-lying playmaker menciptakan lebih dari dua kali lipat peluang per pertandingan, menunjukkan peran vitalnya dalam membangun serangan dari kedalaman.

Contoh Nyata di Dunia Sepak Bola

Contoh paling ikonik tentu saja Andrea Pirlo. Ia adalah standar emas deep-lying playmaker modern. Kemampuannya membaca permainan dan melepaskan umpan-umpan panjang yang presisi membuat AC Milan dan Juventus mampu mengontrol pertandingan tanpa harus menguasai bola secara dominan. Pirlo bisa mengubah pertahanan menjadi serangan dalam satu sentuhan.

Selain Pirlo, ada juga Xabi Alonso yang menjadi jembatan antara lini belakang dan lini depan di Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munich. Alonso lebih fisik dibanding Pirlo, tetapi visinya sama tajamnya. Ia sering menjadi metronome tim, mengatur tempo dengan umpan-umpan pendek yang konsisten sebelum tiba-tiba melepaskan umpan panjang ke sayap.

Di era 2020-an, pemain seperti Joshua Kimmich (Bayern Munich) dan Toni Kroos (Real Madrid) adalah contoh modern. Kimmich lebih dinamis dan sering bergerak ke sisi kanan, sementara Kroos lebih statis tetapi sangat efisien dalam distribusi. Keduanya membuktikan bahwa deep-lying playmaker masih relevan di sepak bola yang semakin cepat dan fisik.

Relevansi bagi Sepak Bola Indonesia

Indonesia memiliki masalah kronis dalam hal build-up play. Seringkali, lini belakang dan lini tengah terputus, membuat serangan mudah ditebak dan mudah dipatahkan. Di sinilah deep-lying playmaker menjadi sangat relevan.

Shin Tae-yong, pelatih Timnas Indonesia, sebenarnya sudah mencoba menerapkan konsep ini melalui pemain seperti Marc Klok dan Rachmat Irianto. Klok, dengan pengalamannya di Eropa, memiliki visi yang lebih baik dibanding rata-rata pemain lokal. Namun, ia seringkali tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari bek tengah untuk memulai serangan dari bawah. Di sisi lain, Rachmat Irianto lebih cocok sebagai gelandang bertahan murni, bukan deep-lying playmaker, karena keterbatasan dalam distribusi jarak jauh.

Liga 1 Indonesia juga mulai menunjukkan tanda-tanda adaptasi. Pemain seperti Sutan Zico (Borneo FC) dan Febri Hariyadi (Persib Bandung) kadang-kadang turun ke area dalam untuk membantu distribusi, tetapi belum konsisten. Masalah utamanya adalah filosofi pelatih lokal yang masih cenderung mengandalkan serangan langsung (direct play) daripada possession-based build-up. Akibatnya, posisi deep-lying playmaker sering dianggap mewah dan tidak praktis.

Padahal, jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, memiliki deep-lying playmaker yang handal adalah keharusan. Timnas Jepang memiliki Wataru Endo, Australia punya Aaron Mooy (sebelum pensiun), dan bahkan Thailand memiliki Sarach Yooyen yang mampu mengatur tempo. Tanpa pemain seperti ini, Indonesia akan terus kesulitan melawan tim yang menerapkan pressing tinggi.

Shin Tae-yong perlu lebih berani memberikan kepercayaan kepada pemain muda seperti Marselino Ferdinan untuk bermain lebih dalam, meskipun ia lebih natural sebagai creative playmaker. Jika Marselino bisa mengembangkan kemampuan membaca permainan dari lini belakang, ia bisa menjadi deep-lying playmaker yang sangat berbahaya.

FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang Deep-Lying Playmaker

Apa perbedaan utama antara deep-lying playmaker dan regista? Secara historis, istilah regista berasal dari Italia dan merujuk pada gelandang yang mengatur permainan dari lini belakang, persis seperti deep-lying playmaker. Namun, dalam perkembangannya, regista sering dianggap memiliki tanggung jawab defensif yang lebih ringan dibanding deep-lying playmaker. Regista lebih fokus pada kreativitas dan distribusi, sementara deep-lying playmaker modern kadang diminta untuk ikut bertahan saat tim kehilangan bola. Pada praktiknya, kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian, terutama di media sepak bola global.

Apakah deep-lying playmaker cocok untuk semua formasi? Tidak. Posisi ini paling efektif dalam formasi yang memiliki tiga gelandang sentral, seperti 4-3-3 atau 3-4-3. Dalam formasi dua gelandang seperti 4-2-3-1, deep-lying playmaker bisa dimainkan, tetapi ia membutuhkan partner yang sangat kuat secara defensif untuk menutupi kelemahannya. Jika dipaksa bermain dalam formasi dengan satu gelandang bertahan saja, deep-lying playmaker bisa menjadi beban karena ia tidak memiliki kecepatan atau kekuatan untuk bertahan secara efektif.

Siapa deep-lying playmaker terbaik di Liga 1 saat ini? Sulit untuk menyebut satu nama, karena posisi ini belum terlalu berkembang di Indonesia. Namun, Marc Klok dari Persija Jakarta adalah kandidat terdekat. Ia memiliki pengalaman di Eropa dan kemampuan distribusi yang baik. Sayangnya, Klok seringkali harus bermain lebih defensif karena keterbatasan kualitas pemain di sekitarnya. Pemain lain yang patut diperhatikan adalah Sutan Zico dari Borneo FC, yang mulai menunjukkan konsistensi dalam membangun serangan dari lini belakang.

Cek juga: Kalkulator Nilai Pasar Pemain Liga 1 racikan tim SBH Nation!

Berikan Reaksi Kamu, SBH Nation!

Gimana menurut kamu artikel ini? Klik buat kasih tau dunia.

Advertisement

Advertisement

Tentang Penulis

J. Ang — Head of Content & Founder SBH Nation verified
J. Ang

Head of Content & Founder

open_in_new LinkedIn

Penggila taktik sepak bola yang percaya bahwa analisis yang baik bisa mengubah cara orang menonton pertandingan. Founder SBH Nation sejak 2024.

Taktik Liga 1 Premier League Timnas
Gabung Channel